Ibu, Kenapa Aku Berbeda?

Ibu, Kenapa Aku Berbeda?
Bab 26


__ADS_3

"Assalamualaikum," ucap Roy yang saat itu baru saja datang.


"Waalaikumsalam," jawabku sambil sibuk melayani beberapa tamu lagi.


"Mana Luna, aku datang ke sini mau memberinya hadiah," ucap Roy sambil berjalan mendekati pintu.


"Dia ada di ruang tamu, lebih baik kamu masuk saja," perintahku yang saat itu benar-benar sibuk dengan daganganku.


Usaha warung makan yang dirintis dengan modal kecil kini sudah terlihat lebih maju dari sebelumnya. Bahkan hampir setiap hari banyak pembeli yang datang ke rumah untuk makan siang. Setelah melayani beberapa tamu aku pun langsung menemui Roy yang sedang bercanda dengan putri kecilku.


"Bu, lihat deh boneka baru Luna yang dibelikan Om Roy, bagus 'kan Bu," ucap Luna sambil memamerkan bonekanya dengan bangga.


"Iya, bonekanya cantik ya seperti kamu," pujiku sambil tersenyum dan duduk di sebuah kursi tamu.


"Rani, apa kita bisa bicara berdua?" tanya Roy tiba-tiba dengan rasa ragu.


"Silahkan apa yang ingin kamu bicarakan padaku?" tanyaku dengan rasa penasaran.


"Bagaimana jika aku melamarmu, apa kamu mau menerimaku?" tanya Roy kepada Rani dengan tatapan lembut.


"Aku … aku tidak tahu, tapi apa mungkin keluargamu mau menerima ku yang berstatus janda dengan satu orang anak," jawabku ragu sambil menunduk.


"Aku yakin orang tuaku pasti setuju, jika kamu mau aku bisa membawa mereka ke sini," ucap Roy dengan sangat berantusias.


"Tidak saat ini Mas, karena aku sendiri masih takut membuka hatiku untuk laki-laki apalagi setelah pengalaman yang aku rasakan selama bertahun-tahun," jawabku sambil menunduk tanpa berani menatap Roy yang ada di hadapanku.


"Sampai kapan kamu akan terus menutup hatimu untuk laki-laki lain, sedangkan suamimu saja sudah melupakanmu dan sudah menikahi perempuan lain bahkan tanpa sepengetahuanmu," jelas Roy hingga membuatku terdiam tanpa kata.


"Siapa bilang aku melupakan Rani," tiba-tiba mereka dikejutkan dengan suara Niko yang sudah berdiri di depan pintu.


"Ayah!" teriak Luna yang langsung berdiri dan berlari memeluk Niko dengan erat.

__ADS_1


"Putri cantik Ayah, bagaimana kabarmu Sayang," tanya Niko sambil duduk di hadapan Luna dan merapikan rambut panjangnya.


"Baik, Ayah kenapa tidak pernah main kesini Luna kanget banget sama Ayah," jawab Luna sambil memeluk pundak Niko.


"Maafkan Ayah ya Tuan Putri, beberapa bulan ini Ayah benar-benar sangat sibuk, tapi Ayah janji mulai sekarang akan lebih sering bermain dengan Putri cantik," ucap Niko sambil mencium pipi sang putri.


"Ayah lihat deh Luna dapat boneka baru dari Om Roy, cantik 'kan Yah," ucap Luna sambil mengambil bonekanya dan memamerkan kepada Niko.


"Iya cantik sekali bonekanya, rambutnya juga panjang seperti rambut putri Ayah," jawab Niko sambil tersenyum.


"Luna kamu main dulu di kamar ya Nak, biarkan Ayah istirahat sebentar," bujukku sambil menggandeng Luna masuk ke dalam kamar.


Aku Pun mengajak Luna masuk ke dalam kamar. Serta mempersilahkan Niko duduk di sofa, beberapa saat kemudian aku pun keluar sambil membawa dua cangkir teh hangat untuk mantan suamiku dan sahabat kecilku. Terlihat kecanggungan dan kebencian dari dua laki-laki yang ada di hadapanku saat ini.


"Silahkan diminum," ucapku sambil meletakkan gelas di atas meja.


"Kamu tidak bisa melamar Rani seenaknya, karena dia adalah milik saya," ucap Niko yang membuatku dan Roy terkejut.


"Bukankah kalian sudah resmi bercerai, lalu apa hak anda melarang saya melamarnya?" tanya Roy dengan tatapan tajam.


"Maaf lebih baik kalian pulang, karena saya tidak ingin ada keributan di rumah saya," ucapku sambil menatap kedua laki-laki tampan itu.


"Bukan aku yang harusnya pergi, tapi dia!" ucap Niko dengan nada sedikit membentak dan menunjuk ke wajah Roy yang ada di hadapannya.


Roy memang tidak pernah berubah, dia selalu terlihat tenang di hadapan siapapun yang menjadi lawannya. Berbeda dengan Niko yang terlihat menggebu-gebu jika dia dalam kondisi marah dan kesal. Terlihat jelas perbedaan dua laki-laki yang ada di hadapanku saat ini.


"Maaf Tuan bukannya saya tidak mau pergi dari sini, hanya saja saya masih ada keperluan dengan sahabat saya," jawab Roy sambil bersandar di sofa dengan penuh ketenangan.


"Saya tolak lamaranmu kepada Rani, jadi lebih baik kamu pergi dari sini sekarang juga," ucap Niko sambil mengusir Roy.


"Mas, jaga ucapanmu kamu tidak hak mengusir siapapun yang bertamu di rumahku," jawabku dengan nada ketus sambil menatap Niko dengan kebencian.

__ADS_1


"Tapi aku suamimu, Ayah kandung dari Luna. Dan dia hanyalah sahabat masa lalumu," jelas Niko sambil menoleh ke arahku.


"Maaf ada yang saya harus luruskan, Anda hanyalah mantan suami bukan suami sah dari Rani, jadi jangan membuat jawaban yang tidak benar," jawab Roy sambil tertawa kecil seolah meledek Niko yang duduk di hadapannya.


"Tutup mulutmu bajingan!" teriak Niko yang langsung menghujamkan pukulan di wajah Roy hingga membuatnya langsung terjatuh.


"Mas, jaga sikapmu selama di rumahku! Aku tidak mau Luna melihat sikap kasarmu dan mendengar ucapan kotormu!" bentakku sambil berdiri.


"Tapi laki-laki ini sudah menghina ku, apa kamu tahu itu?" jawab Niko sambil menoleh ke arahku dan mendekatiku.


"Dia tidak menghinamu, apa yang dia katakan kamu adalah mantan suamiku bukan suami sah ku," jawabku dengan tegas.


"Tapi aku datang ke sini untuk melamarmu lagi Ran, apa kamu mau kembali kepadaku semua ini demi Luna putri kita," ucap Niko sambil memegang tanganku.


"Demi Luna kamu bilang, kamu lupa selama 5 tahun kau meninggalkan kami, dan selama itu juga aku yang merawat dan membesarkan putri ku seorang diri dan sampai detik inipun aku masih mampu membesarkan dan membahagiakannya seorang diri, jadi aku rasa Luna tidak butuh seorang Ayah sepertimu," jelasku sambil menatap mata Niko dengan penuh emosi.


"Aku mohon berikan aku kesempatan untuk berubah, aku janji akan menjadi Ayah dan suami yang baik untukmu dan Luna," ucap Niko seolah ingin meyakinkanku sambil memohon dan memegang tanganku.


"Kamu terlambat Mas, cinta untukmu sudah lama pergi bersama dengan kepergianmu 5 tahun yang lalu, sekarang aku minta kalian pergi dari rumahku," ucapku sambil meminta Niko dan Roy pergi.


"Kalau begitu aku pergi dulu Ran, assalamualaikum," ucap Roy sambil berjalan keluar meninggalkan rumahku.


"Waalaikumsalam," jawabku tanpa melihat Roy yang berjalan keluar.


"Lalu apa yang kamu tunggu disini, silahkan pergi dari sini secepatnya," ucapku saat melihat Niko masih berdiri di hadapanku.


Niko pun meninggalkan rumahku dengan rasa kesal dan marah. Aku tahu dalam hatinya menyimpan emosi yang menggebu-gebu. Mungkin jika saat ini aku masih menjadi istrinya dia tentu akan memukulku tanpa ampun.


"Mbak Rani! Mbak Rani," teriak seseorang saat aku sedang meletakkan cangkir di dalam dapur.


"Ada apa Pak?" tanyaku kepada salah satu tetanggaku yang tiba-tiba berteriak di depan rumahku.

__ADS_1


"Ayo ikut saya Mbak, ada yang gawat," jawabnya sambil gemetar dan khawatir.


"Gawat, apa yang gawat," batinku sambil melamun sejenak.


__ADS_2