
Hari ini aku sengaja bangun sedikit agak siang, selain karena lelah seharian pergi bersama Luna. Namun, juga karena hari kebetulan hari ini adalah hari libur kerja ku di rumah Bu Santi. Saat aku masih terlelap di dalam tidur, tiba- tiba aku dikejutkan dengan suara ketukan dari luar rumah.
"Selamat pagi!" teriak seseorang dari luar rumah.
"Iya sebentar," jawabku sambil memakai jaket untuk menutupi baju tidurku.
"Selamat pagi, apa benar ini rumah Ibu Rani?" tanya orang tersebut yang ternyata seorang kurir.
"Iya saya sendiri," jawabku kepada sang kurir.
"Ini ada surat dari pengadilan agama," ucapnya sambil memberikan sebuah amplop coklat bertuliskan pengadilan agama jawa barat.
"Terima kasih ya Pak," ucapku sambil menerima surat dari tangan sang kurir.
Setelah kurir tersebut pergi meninggalkan rumahku. Aku langsung menutup pintu dan duduk di sofa ruang tamu. Perlahan aku membuka amplop coklat itu dan mulai membaca isi surat yang ada di dalamnya.
"Alhamdulillah, akhirnya aku dan Mas Niko sudah resmi bercerai, kini saatnya aku memulai kehidupan baruku bersama Luna," ucapku terus memegang dan melihat surat yang ada di tanganku.
Siang hari saat Luna mulai terbangun dari tidurnya aku pun langsung memintanya untuk segera mandi dan bersiap. Rencananya hari ini aku ingin mengajaknya ke sebuah apotek untuk membeli alat pendengaran. Setelah sampai di sebuah apotik aku langsung menyerahkan resep kepada seorang petugas agar dia menyiapkan alat pendengaran yang aku butuhkan.
"Ibu, aku lapar," ucap Luna sambil memegangi perutnya.
"Sabar ya Sayang, kita tunggu obat dulu setelah itu kita makan ayam goreng," bujukku sambil memangku dan memeluk Luna.
"Resep atas nama anak Luna!" teriak salah satu karyawan apotik yang duduk di bagian kasir.
"Kamu tunggu disini ya, Ibu mau ke kasir dulu," perintahku kepada Luna sambil mendudukkannya di kursi.
"Iya Mbak," jawabku sambil berjalan ke arah kasir.
"Ini alat pendengaran, dan ini ada vitamin minumnya juga, jadi totalnya 700 ribu rupiah," jelas sang petugas sambil menunjukkan sebuah alat dan vitamin dari dalam kantong plastik.
__ADS_1
Setelah membayar resep tersebut aku pun langsung berjalan menghampiri Luna. Sambil mulai memangkunya aku langsung memasangkan alat tersebut di telinga kanan putriku. Terlihat perbedaan dari diri Luna yang awalnya hanya diam kini mulai melihat sekelilingnya.
"Kamu kenapa, dan apa yang Luna cari?" tanyaku kepada Luna dengan rasa penasaran.
"Rame ya Bu, banyak yang bicara," jawabnya sambil tersenyum bahagia.
"Alhamdulillah ya Allah," ucapku sambil memeluk tubuh kecil Luna sambil menangis di balik punggungnya.
"Ibu, Luna lapar," tiba-tiba Luna kembali merengek.
"Kalau begitu sekarang kita makan ayam goreng ya," ajak ku sambil menggandengnya keluar dari apotik.
***
Disaat aku sedang berbahagia dengan uang hasil keringatku serta surat perceraian yang baru aku terima tadi pagi. Niko justru merasa kesal dan marah kepada Sarah dan Niken karena telah mengurus surat perceraian kami secara diam-diam. Sambil masih memegang surat cerai tersebut dia langsung berjalan menemui Niken dan sang mama yang sedang menikmati acara televisi di ruang keluarga.
"Puas kalian berdua melakukan ini kepadaku! Dan kamu Niken sekarang kamu sudah bisa memilikiku seutuhnya," teriak Niko sambil melempar kertas itu ke pangkuan Niken
"Akhirnya sekarang kamu dan perempuan miskin itu resmi bercerai, Mama sangat bahagia dengan berita ini," jawab Sarah sambil membaca amplop tersebut.
"Apa Mas kamu bilang aku gila? Ya aku memang gila, gila karena aku terlalu mencintaimu," jawab Niken sambil berdiri dan berjalan mendekati Niko.
"Lagi pula Mama juga tidak merasa menyiksamu, Mama dan almarhum Papa hanya berusaha untuk memberikan pasangan yang sesuai untukmu serta kebahagiaan," jawab Sarah sambil menatap mata Niko dengan tajam.
"Kebahagiaanku! Harusnya Mama tahu kebahagiaanku itu adalah Rani bukan perempuan ****** ini," bentak Niko sambil berteriak kepada Sarah.
"Plak," tiba-tiba Niken menampar wajah Niko dengan sangat keras.
"Kamu boleh membenciku, tapi jangan pernah menghinaku dengan mulut busukmu itu," ucap Niken sambil menunjuk wajah Niko dengan jari telunjuknya.
"Jangan pernah kamu menunjuk wajahku seperti itu atau aku akan menamparmu," ucap Niko sambil mulai menampar Niken.
__ADS_1
"Niko hentikan!" bentak Sarah sambil berteriak dan memegang tangan putranya.
"Biar saja Ma, biar dia menamparku sesuka hatinya aku yakin laki-laki seperti dia hanya bisa berucap tanpa berani bertindak!" teriak Niken sambil menatap wajah suaminya.
"Dasar kamu," ucap Niko sambil mengibaskan tangan sang mama dan pergi meninggalkan ruang keluarga.
Setelah Niko pergi dari ruang keluarga dan keluar dari rumah. Sarah dan Niken langsung duduk dengan jantung yang masih berdetak kencang. Sambil tersenyum Sarah langsung menyandarkan tubuhnya ke sofa.
"Akhirnya Niko dan perempuan miskin itu resmi bercerai," ucap Sarah sambil bersandar di sofa dengan nafas lega.
"Iya Ma, dengan begitu sekarang aku bisa memiliki Mas Niko sepenuhnya tanpa merasa menjadi istri kedua ataupun pelakor," jawab Niken sambil tersenyum licik.
"Kamu benar, tapi Mama masih ragu jika Niko bisa meninggalkan Rani dan anak tuli itu, ya walaupun mereka sudah resmi bercerai," ucap Sarah sambil menatap ke acara televisi.
"Maksud Mama Mas Niko akan tetap menemui Rani dan anaknya walaupun mereka sudah bercerai?" tanya Niken sambil menoleh ke arah Sarah.
"Ya kalau untuk sekedar menemui saja tidak masalah, tapi Mama yakin Niko akan membujuk Rani untuk kembali kepadanya," ucap Sarah sambil terlihat berpikir.
"Apa mungkin orang yang sudah bercerai akan kembali bersatu?" tanya Niken dengan penasaran.
"Bisa saja, apalagi tanda tangan yang kamu berikan kepada pengacara itu bukan tanda tangan asli Niko, Mama tahu kecerdikannya dia akan mencari cara untuk mendapatkan semua keinginannya," jelas Sarah sambil menatap wajah Niken.
"Jadi Mas Niko akan mencari cara melalui tanda tangan itu," tebak Niken dengan wajah sedikit ketakutan.
"Gawat jika benar laki-laki tolol itu mencari tahu tentang tanda tangan itu, aku bisa dituntut pemalsuan identitas seseorang," batin Niken dengan wajah ketakutan.
Sejenak Niken terdiam memikirkan semua ucapan Sarah kepadanya. Memang seluruh tanda tangan dan surat persetujuan perceraian kedua belah pihak itu adalah karangan dia. Rasa takut, dan khawatir mulai merasuki pikirannya.
"Lalu apa yang harus kita lakukan Ma, Niken tidak mau masuk penjara karena hal ini," ucap Niken kepada Sarah.
"Kamu tenang saja Mama sudah punya ide bagus untuk menyelamatkanmu, tapi kamu harus setuju apapun ide yang Mama berikan," jawab Sarah sambil tersenyum kepada Niken.
__ADS_1
"Ide apa Ma?" tanya Niken penasaran.
Sarah langsung berbisik ke telinga Niken dengan penuh antusias. Terlihat Niken mulai menganggukkan kepalanya seakan mengerti dengan apa yang dibisikkan mertuanya itu. Namun, Niken langsung terkejut saat Sarah menyarankan satu ide yang menurut Niken itu sangat konyol.