Ibu, Kenapa Aku Berbeda?

Ibu, Kenapa Aku Berbeda?
Bab 21


__ADS_3

Niken berharap pembalut bekas pakai yang ada di kamar mandinya belum sempat dilihat oleh sang suami. Niko yang curiga dengan pembalut yang dia temukan di kamar mandi langsung menemui seorang Dokter kandungan di salah satu rumah sakit. Sambil sedikit gugup Niko mulai masuk ke ruangan sang dokter.


"Selamat siang Dok," sapa Niko sambil membuka pintu dan masuk ke ruangan sang dokter.


"Selamat siang Pak, mari silahkan duduk," jawab Dokter kandungan sambil mempersilahkan Niko duduk.


Niko lalu menjelaskan maksud dan tujuannya kepada sang dokter. Setelah mendengarkan penjelasan Niko. Dokter mulai menjelaskan tentang kehamilan dan penyumbatan tuba falopi.


"Apa Bapak dan istri sudah pernah melakukan pengecekan ataupun program bayi tabung?" tanya Dokter kepada Niko yang terlihat sangat bingung.


"Belum Dok," jawab Niko dengan singkat.


"Kalau begitu begini saja besok ajak Istri Bapak kemari, saya khawatir pendarahan itu bukanlah menstruasi," jelas sang dokter.


"Maksud Dokter bagaimana ya, kalau bukan darah menstruasi itu darah apa?" tanya Niko sambil penasaran.


"Jika memang istri Bapak hamil, saya khawatir itu adalah pendarahan yang akan membahayakan janin, atau pendarahan keguguran," jawab Dokter kepada Niko.


Mendengar penjelasan Dokter kandungan Niko langsung terkejut. Dia pun segera meminta Izin untuk segera pulang untuk membawa sang istri ke rumah sakit. Niko yang khawatir dengan anak yang ada di dalam kandungan Niken langsung melajukan mobilnya dengan cepat.


"Ma, Mama!" teriak Niko memanggil Mamanya.


"Ada Apa, kenapa teriak-teriak," jawab Sarah sambil keluar dari ruang keluarga. 


"Niken mana Ma?" tanya Niko dengan wajah panik.


"Ada, sepertinya dia sedang tidur di dalam kamar. Memangnya ada apa sampai kamu terlihat begitu panik?" tanya Sarah dengan kebingungan.


"Sini Ma, ada yang mau Niko sampaikan kepada Mama," jawab Niko sambil menarik tangan mamanya ke arah Sofa.


"Ada apa sih," ucap Sarah dengan perasaan heran melihat sikap putra semata wayangnya.


"Kemarin saat aku ke kamar mandi tidak sengaja kakiku menendang tong sampah, dan saat aku akan merapikan sampah itu ke tempatnya aku menemukan sebuah pembalut bekas pakai," jelas Niko hingga membuat Sarah terkejut.


"Ya ampun Niken, ceroboh sekali kamu bagaimana bisa dia membuang pembalut sembarangan seperti itu," batin Sarah sambil menatap Niko yang masih memberikan penjelasan.

__ADS_1


"Rencananya aku akan membawa Niken ke rumah sakit, karena jujur setelah mendengar penjelasan Dokter aku jadi sangat khawatir dengan keadaan anak di dalam kandungan Niken," ucap Niko dengan penuh khawatir.


"Aduh, apa yang harus aku jelaskan kepada Niko, ini semua gara-gara kecerobohan menantu tolol itu," batin Sarah sambil terlihat kesal.


"Ma, Mama," panggil Niko hingga membuat mamanya terkejut.


"Sudah kamu tidak perlu khawatir, biar besok Mama yang antar ke Dokter kandungan yang dulu pernah menangani persalinan Mama," jelas Sarah dengan sedikit gugup.


"Mama yakin Dokter itu akan memeriksa Niken dengan benar," tanya Niko seolah tidak percaya dengan apa yang diucapkan Sarah.


"Sudah kamu tenang saja, percayakan kepada Mama. Lebih baik sekarang kamu masuk dan istirahat," perintah Sarah sambil mendorong tubuh Niko untuk masuk ke dalam kamar.


***


Keesokan harinya setelah Niko berangkat ke perusahaan peninggalan Ayahnya. Sarah langsung menarik tangan Niken dan mengajaknya masuk ke dalam kamar. Sambil terlihat kesal Sarah langsung bertanya kepada Niken tentang sebuah pembalut bekas pakai yang ditemukan Niko.


"Ternyata Mas Niko melihat pembalut itu," ucap Niken sambil terkejut.


"Kenapa kamu bisa seceroboh ini Niken," ucap Sarah kepada Niken sambil berdiri.


"Maafkan Niken Ma, aku benar-benar tidak tahu," jawab Niken dengan wajah panik.


"Lalu apa yang harus aku lakukan Ma," tanya Niken dengan sedikit khawatir.


"Mulai sekarang kamu ikuti semua perintah Mama, jangan membantah ini semua demi masa depan kamu dan Niko," ucap Sarah dengan nada kesal.


*** 


Di Tempat terpisah usahaku semakin hari semakin ramai. Bahkan dalam waktu satu hari aku bisa mendapat keuntungan bersih 300 sampai 400 ribu. Cerita yang aku tulis pun mulai disukai banyak orang. 


"Luna!" teriakku sambil membawa wadah kosong bekas jualan ku.


"Iya Bu," jawab Luna sambil keluar dari dalam kamar.


"Sayang, tolong jaga warung dulu ya, Ibu mau masuk ke dalam untuk mengambil beberapa lauk yang sudah habis.

__ADS_1


"Iya Bu," jawab Luna sambil berjalan ke warung dan duduk di kursi sambil memainkan boneka kesayangannya.


"Assalamualaikum," ucap Niko yang tiba-tiba datang.


"Waalaikumsalam,Ayah!" teriak Luna saat melihat Niko datang sambil membawa beberapa kantong belanjaan untuk Luna.


"Ibu kemana?" tanya Niko sambil menggunakan bahasa isyarat.


"Ayah, aku sudah bisa mendengar dengan jelas, karena Ibu sudah membelikanku alat ini," jelas Luna sambil memamerkan alat pendengarannya.


"Kamu baru datang Mas," tanyaku kepada Niko saat aku sudah berada di warung.


"Sudah 5 menit yang lalu, kamu sudah banyak perubahan sekarang," ucap Niko sambil berdiri dan berjalan ke arahku.


"Tidak ada yang berubah, semua tetap sama seperti yang dulu. Hanya saja aku ingin berusaha membahagiakan putriku dengan hasil keringat yang halal," jawabku sambil menyibukkan diri.


Aku sengaja menyibukkan diri saat Niko menghampiriku. Karena aku tidak mau mendengar rayuan dan cerita tentang masa lalu kami. Bagiku semua itu cukup tersimpan rapi di dalam hati tanpa perlu diungkit kembali.


"Mbak," terdengar suara seseorang memanggilku.


"Iya Mas?" tanyaku kepada dua orang laki-laki yang berdiri di depan etalase makanan.


"Nasi campur sama es teh manis 2, makan disini ya, jawabnya sambil duduk di sebuah kursi bersama salah satu temannya.


Aku pun langsung meninggalkan Niko yang masih berdiri mematung di sampingku. Aku mulai melayani beberapa tamu yang datang untuk menikmati makan siangnya. Setelah selesai Niko langsung pegang tanganku hingga membuatku langsung terkejut.


"Bisa kita bicara sebentar?" tanya Niko sambil memegang tanganku.


"Maaf Mas, aku sedang sibuk," jawabku sambil melepaskan tangan Niko dari tanganku.


"Aku mohon, hanya sebentar saja karena ada yang ingin aku tanyakan kepadamu," ucap Niko sambil memohon kepadaku.


Aku pun meminta Niko untuk menunggu di ruang tamu. Serta berjanji akan menemuinya setelah aku melayani beberapa tamu yang ingin makan siang di warung ku. Rumahku memang kampung kecil yang lumayan jauh dari jalan raya. Namun, karena disini banyak sekali rumah kosan dan kontrakan jadi banyak para mahasiswa yang tinggal di daerah situ.


"Sekarang cepat katakan apa yang ingin kamu ceritakan kepadaku," ucapku sambil duduk di sofa.

__ADS_1


"Aku … Aku ingin menceritakan tentang Niken kepadamu," jawab Niko dengan rasa sungkan.


"Tentang Niken, memangnya apa yang terjadi kepadanya," tanyaku sambil penasaran.


__ADS_2