Ibu, Kenapa Aku Berbeda?

Ibu, Kenapa Aku Berbeda?
Bab 25


__ADS_3

Sejak hari itu Roy sering berkunjung ke rumahku untuk sekedar makan dan bermain dengan Luna.  Hal itu justru membuat Luna menjadi lebih dekat dengan Roy. Bahkan membuatnya perlahan melupakan Niko yang hampir beberapa bulan ini tidak lagi mengunjunginya. 


“Luna, Om Roy pulang dulu ya, karena sudah malam," ucap Roy sambil berdiri dari tempat duduknya.


"kenapa Om harus pulang, Luna masih mau bermain dengan Om Roy," jawab Luna sambil mendongakkan kepalanya ke arah Roy yang sudah berdiri.


“Sayang dengarkan Ibu baik-baik ya, Om Roy harus pulang karena besok dia harus bekerja, insya Allah kalau Om Roy libur dia akan main lagi bersama Luna. Iya 'kan Om?" ucapku sambil duduk di samping Luna dan membelai rambut panjangnya.


"Iya, insya Allah hari minggu Om main lagi, bagaimana kalau hari minggu besok kita jalan-jalan ke kebun binatang, disana Luna bisa melihat banyak sekali binatang yang belum pernah Luna kenal," jelas Roy sambil tersenyum.


"Benar ya, Om tidak bohong ‘kan," ucap Luna dengan sangat berantusias.


"Iya Sayang, kalau begitu sekarang Om boleh pulang 'kan?" tanya Roy sambil tersenyum dan mengusap kepala Luna dengan lembut.


"Iya boleh, Luna tunggu hari minggu ya Om," jawab Luna sambil berdiri dan memeluk tubuh Roy.


"Om pulang dulu ya, Assalamualaikum," ucap Roy sambil berjalan meninggalkan rumahku.


"Waalaikumsalam, hati-hati di jalan jangan lupa hari minggu ya Om!" teriak Luna sambil melambaikan tangannya kepada Roy  yang sudah berjalan menjauh.


***

__ADS_1


Disaat aku dan Luna merapikan mainan yang masih berserakan di lantai. Roy yang baru saja tiba di rumahnya langsung bergegas menjalankan ibadah sholat magrib di sebuah mushola. Entah kenapa pikiran Roy hari ini tertuju kepada Rani sosok yang dikenalnya sejak kecil.


"Kamu masih sama seperti Rani yang aku kenal dulu, Rani yang lembut tapi begitu kuat dalam menjalani kehidupan ini," ucap Roy sambil berbaring di sofa sambil menatap ke langit-langit rumahnya.


Berbeda denganku, aku yang sudah pernah merasakan sakitnya hidup berumah tangga justru masih takut untuk melangkah ke depan. Trauma masa lalu masih aku rasakan di setiap hariku. Jangankan untuk berumah tangga menjalin hubungan sebagai kekasih dengan lawan jenis saja aku masih takut. 


Sesaat aku mengingat bagaimana Niko memperlakukan ku saat itu. Makian, hinaan bahkan pukulan sering aku dapatkan hingga aku mengalami depresi. Bahkan dengan tega menggugurkan kandunganku yang sudah berusia 6 bulan yang menyebabkan Luna mengalami kekurangan pada pendengarannya. Tanpa terasa air mata kembali menetes saat aku mengingat kembali luka yang aku simpan dengan rapat.


"Ayah, Ibu aku sedang merindukan pelukan kalian, putrimu saat ini sedang tidak baik-baik saja," batinku sambil meneteskan air mata dan berbaring di samping Luna yang sedang terlelap dalam tidurnya.


***


Hari yang ditunggu pun tiba, Roy menepati janjinya untuk mengajak Luna pergi ke kebun binatang. Setelah memasak beberapa Makanan untuk makan siang di sana kami pun pergi dengan hati bahagia. Roy sahabat kecil ku dengan telaten menggandeng Luna dan menunjukkan beberapa hewan yang ada di kebun binatang. Hingga saat kami sedang menikmati makan siang tiba-tiba Roy menanyakan hal yang membuatku terkejut.


"Boleh, silahkan," jawabku sambil menoleh ke arahnya dan tersenyum.


“Apa kamu tidak ada pikiran untuk membuka hati kembali?" tanya Roy sambil menatapku hingga membuatku terkejut.


"Belum, aku masih menikmati peranku sebagai seorang Ayah dan Ibu buat Luna, lagi pula yang ada di pikiran ku saat ini bagaimana aku bisa menjadi Ibu yang baik buat putriku dan berusaha menjadi penulis yang lebih baik lagi walaupun aku tahu banyak sekali kekurangan ku dalam menulis cerita," jawabku sambil minum sebuah minuman dingin yang ada di genggamanku.


"Lalu sampai kapan kamu akan terus sendiri, apa kamu tidak memikirkan perasaan Luna  yang sangat merindukan sosok seorang Ayah," jawab Roy sambil menatap Luna yang sedang asyik bermain di depan kami.

__ADS_1


"Aku pernah memikirkan hal itu, tapi entah kenapa semakin aku memikirkannya luka yang aku simpan selalu kembali datang dalam pikiranku, mungkin itu yang membuatku masih nyaman dengan kesendirian," jawabku sambil tersenyum dan menunduk.


“Apa kamu masih mencintai Niko? Dan berharap dia kembali kepadamu," tanya Roy hingga membuatku langsung menoleh ke arahnya dengan terkejut.


“Berharap kembali dan cinta sudah tidak ada lagi, hanya saja aku merasa kasihan kepada kehidupannya saat ini," jawabku sambil tersenyum.


"Kasihan?" tanya Roy yang bingung dengan jawabanku.


"Iya entah kenapa aku merasa kasihan dengan kehidupannya saat ini dia seolah memiliki beban yang begitu banyak di pernikahan yang sekarang, tapi aku berusaha untuk tidak terlalu ikut campur dengan rumah tangganya karena Niken adalah pilihannya jadi biarlah dia menikmati apa yang sudah menjadi pilihannya," jawabku sambil terus menatap Luna.


"Lalu bagaimana jika aku mencintaimu, apa kamu akan menerimaku menjadi Ayah pengganti untuk Luna?" ucapan Roy benar-benar membuatku bingung bahkan aku tidak bisa berkata apa-apa setelah mendengar pertanyaannya.


“Ibu, Luna ngantuk,” ucap Luna sambil memelukku hingga membuatku tersadar dari lamunan panjangku.


"Iya Sayang, ayo kita pulang sekarang ya," ucapku kepada Luna sambil menggendongnya.


"Biar aku saja yang menggendong Luna lebih baik kamu bawa saja bonekanya," ucap Roy sambil mengambil Luna dari gendonganku.


Siang itu kami pulang dengan keadaan canggung, tidak ada pembicaraan yang terjadi antara aku dan Roy. Bahkan saat aku sampai di rumah pun aku hanya mengucapkan terima kasih dan segera masuk ke dalam rumah. Setelah menidurkan Luna aku pun segera mengambil laptopku dan menuliskan kembali kisah yang sempat tertunda. 


kata demi kata aku coba rangkai dalam tulisanku, bahkan pernyataan cinta sahabat masa kecilku pun aku tulis rapi di dalam novel yang saat ini aku buat. hampir satu jam aku berusaha mencari kata dan merangkainya, hingga entah kenapa tiba-tiba aku teringat akan ungkapan cinta Roy kepadaku. Rasa ragu dan takut ini kembali merasuk dalam hati dan pikiranku.

__ADS_1


“Apa mungkin Roy sahabat kecilku tulus mencintaiku dengan statusku yang hanya seorang janda miskin dengan satu anak?" tulisku dalam cerita online yang ada di hadapanku saat ini.


Sampai saat ini aku belum memberikan jawaban apapun kepadanya, bahkan saat bertemu dengannya aku mencoba untuk mengalihkan pertanyaannya. Bukan karena aku menolaknya, tapi rasa trauma dan takut serta sakit akan perlakuan kasar mantan suamiku masih sangat membekas di dalam hati dan pikiranku. Jadi aku tidak ingin mengalami hal yang sama saat aku memilih untuk menikah kembali. 


__ADS_2