Ibu, Kenapa Aku Berbeda?

Ibu, Kenapa Aku Berbeda?
Bab 28


__ADS_3

“Assalammualiakum," ucapku dan Luna secara bersamaan.


"Waalaikumsalam," terdengar jawaban dari dalam rumah tersebut.


Tidak berapa lama pintu rumah Roy terbuka lebar. Terlihat Bu Asih yang saat itu berdiri di depan pintunya. Masih terlihat jelas wajah marah dan kesal dari matanya saat menatapku. 


“Mau apa kamu kesini?" tanya Bu Asih dengan nada ketus hingga membuat Luna menatapnya dengan takut. 


"Maaf jika kedatangan kami mengganggu Ibu, kami kesini mau menjenguk Roy," jawabku dengan sedikit ragu dan takut. 


"Iya Nek, Luna dan Ibu mau jenguk Om Roy. Boleh 'kan Nek?" tanya Luna sambil berjalan sedikit mendekati Bu Asih.


Sesaat Bu Asih hanya diam termenung sambil menatap wajah polos Luna yang sedang berdiri di hadapannya sambil memeluk sebuah buku di dadanya. Perlahan Bu Asih duduk di hadapan Luna sambil tersenyum dan membelai rambut panjang si gadis kecil. Kali ini aku tidak melihat wajah ketus dan marah dari Bu Asih, justru rasa sayang dan iba saat dia menatap Luna.


“Kamu mau bertemu dengan Om Roy, kalau boleh Nenek tahu buku apa yang kamu bawa?” tanya Bu Asih sambil tersenyum.


“Luna mau tunjukkan lukisan kepada Om Roy, Nenek mau lihat?” jawab Luna sambil tersenyum manis.


“Mau, kalau begitu kita masuk yuk. Nenek akan panggilkan Om Roy di kamarnya,” ucap Bu Asih sambil mengulurkan tangannya kepada Luna dan menggandengnya.


“Rani, ayo masuk,” perintahnya padaku hingga membuatku terkejut dan tersadar dari lamunanku.


“Iya Bu, terima kasih,” jawabku sambil tersenyum. 


“Luna kamu duduk disini dulu ya sama Ibu, Nenek mau panggilkan Om Roy dulu ya,” ucap Bu Asih sambil melepaskan genggaman tangannya dari tangan Luna. 


“Iya Nek,” jawab Luna singkat sambil tersenyum.


Setelah menunggu hampir 30 menit terlihat Roy keluar dengan dibantu oleh sang ayah. Entah kenapa saat melihat keadaan Roy yang masih penuh luka akibat perbuatan Niko air mataku langsung menetes tanpa bisa tertahan. Perlahan Roy duduk di samping Luna lalu memeluk si gadis kecil dengan penuh kerinduan.


“Assalamualaikum Rani, kamu kenapa menangis?” tanya Roy saat melihat aku mulai meneteskan air mata. 

__ADS_1


“Oh tidak, aku hanya menyesal atas apa yang terjadi kepadamu maafkan aku jika selama ini aku sudah selalu membuatmu terluka,” jawabku kepada Roy sambil mengusap air mataku. 


“Ini bukan karena kesalahanmu Ran ….” belum selesai Roy bicara Luna langsung memotong ucapan laki-laki tampan yang ada di hadapannya.


“Om lihat deh lukisan Luna, bagus nggak?” tanya Luna sambil menunjukkan hasil gambarannya saat di sekolah.  


“Wah bagus sekali lukisan Nona Cantik, kalau boleh tahu ini siapa?” tanya Roy sambil menunjuk ke sebuah sosok laki-laki yang ada di gambar Luna yang letaknya terpisah dengan beberapa orang lainnya. 


“Ini Ayah, dia sedang melihat kita dari kejauhan,” jelas Luna sambil menunjuk lukisannya.


“Kenapa Luna menggambar Ayah jauh dari kita?" tanya Roy dengan rasa penasaran atas jawaban Luna.


"Agar Ayah tidak bisa memukul Om Roy seperti kemarin," jawabnya sambil mengusap lukisan yang dia beri nama Om Roy.


Aku dan Roy langsung terdiam dan saling berpandangan saat mendengar ucapan Luna. Aku tidak menyangka seorang anak berusia 7 tahun bisa berpikiran begitu dewasa melebihi usianya. Saat kami sedang terdiam mendengar ucapan Luna tiba-tiba Bu Asih datang dengan membawa sebuah nampan berisi beberapa gelas minuman.


"Silahkan diminum dulu Ran," ucap Bu Asih sambil meletakkan gelas di atas meja.


"Terima kasih Bu," jawabku sambil tersenyum kepada Bu Asih.


"Ada di dalam sedang menonton televisi, apa kamu mau Ibu panggilkan Bapak," tawar Bu Asih kepada sang putra. 


"Iya, karena ada yang ingin aku sampaikan kepada Bapak dan Ibu," jawab Roy kepada ibunya. 


"Rani, Ibu tinggal masuk dulu ya," pamit Bu Asih sambil berdiri dari tempat duduknya. 


***


Saat aku, Luna dan Roy sedang berbincang-bincang di ruang tamu. Bu Asih dan Pak Usman diam-diam memperhatikan kami dari balik tembok ruang tengah. Tidak berapa lama Bu Asih langsung menarik tangan sang suami untuk sedikit menjauhi kami.


"Pak sepertinya Roy mempunyai perasaan kepada Rani, dia juga meminta Ibu memanggil Bapak tadi," ucap Asih kepada sang suami.

__ADS_1


"Memang ada apa sampai Roy memanggil Bapak ke sana?" tanya Usman yang terlihat penasaran dengan apa yang diucapkan istrinya. 


"Entah Ibu juga tidak tahu Pak, tapi bagaimana kalau seandainya Roy melamar Rani," jawab Asih dengan terkejut atas apa yang dia pikirkan. 


"Kalau Bapak serahkan semua kepada Roy, karena dia adalah laki-laki dan sudah saatnya juga dia memiliki seorang pendamping hidup," jawab Usman sambil berjalan ke arah ruang tamu.


"Tapi Pak, Rani 'kan janda anak satu," ucap Asih sambil memegang tangan suaminya dengan cepat.


"Memangnya kenapa kalau Rani janda, Bapak yakin dia adalah gadis baik-baik. Bukannya Ibu tahu bagaimana perjalanan pernikahan Rani dengan mantan suaminya dulu," jelas Usman sambil berjalan meninggalkan  Asih yang masih terdiam.


"Benar juga apa yang dikatakan Bapak, lagi pula tidak ada perempuan yang mau menjadi janda," batin Asih yang langsung mengikuti langkah kaki sang suami. 


"Maaf ya kami lama di dalam, karena Bapak harus dikamar mandi dulu," ucap Bu Asih seolah mencari alasan.


"Ada apa Roy, kata Ibu ada yang ingin kamu sampaikan kepada kami?" tanya Usman kepada putranya sambil duduk di samping Roy. 


"Sebenarnya aku ingin membicarakan ini saat aku sudah sembuh,  tapi karena kebetulan Rani ada di sini jadi lebih baik aku bicarakan sekarang," jawab Roy hingga membuat seluruh orang yang ada di tempat itu penasaran. 


"Apa yang akan dibicarakan Roy, dan kenapa aku jadi deg-degan seperti ini, " batinku sambil terlihat gugup di hadapan Roy dan orang tuanya. 


"Roy ingin melamar Rani untuk menjadi istri, apa Bapak dan Ibu setuju?" tanya Roy kepada orang tuanya.


"Apa! Ternyata dia benar-benar melamarku, " batinku sambil terkejut saat mendengar ucapan Roy.


"Kalau Bapak serahkan semuanya kepadamu,  karena kamu sudah dewasa dan sudah saatnya kamu memilih dan menjalani kehidupanmu sesuai dengan hati nuranimu sendiri, " jawab Usman sambil menepuk pundak sang putra. 


"Kalau Ibu bagaimana?" Tanya Roy kepada sang ibu saat dia melihat Asih hanya terdiam. 


"Jika menurutmu Rani adalah perempuan terbaik buatmu, Insya Allah Ibu akan selalu mendukung, " jawab Asih sambil menatap mata sang putra. 


"Tapi Mas, kamu tahukan aku hanya janda dengan anak satu bahkan secara materi aku masih jauh dari kata kurang, " ucapku sambil menunduk seolah malu dengan apa yang terjadi di hidupku. 

__ADS_1


"Statusmu dan kondisi keuanganmu bukanlah hal yang penting untukku,  aku mencintaimu jauh sebelum kamu mencintai mantan suamimu. Rani binti Hendra maukah engkau menerima lamaranku, " ucap Roy sambil menatap mataku dengan tajam.  


 


__ADS_2