
"Iya Pak, lalu apa yang bisa saya bantu untuk mempercepat pengurusan perceraian saya?" tanyaku sambil terkejut.
"Berkas-berkas yang dibutuhkan telah saya terima dari klien kami, saya hanya ingin memastikan apakah alamat yang tercantum di KTP benar dan sesuai dengan alamat Ibu saat ini," ucap sang pengacara.
"Iya benar Pak, saya masih tinggal di alamat sesuai KTP," jawabku kepada sang pengacara.
"Kalau begitu surat cerai akan segera saya kirimkan ke alamat Ibu Rani dengan segera, kalau begitu terima kasih atas informasinya selamat pagi," ucap pengacara tersebut sambil menutup ponselnya.
"Apa mungkin karena ini Mas Niko menghubungi ku berkali-kali," batinku sambil duduk di sofa.
Setelah membersihkan seluruh rumah dan menyuapi Luna kami langsung berangkat ke rumah Bu Santi. Setelah hampir 2 jam aku bekerja di rumah Bu Santi aku dan Luna langsung bergegas pamit pulang. Saat di tengah jalan aku bertemu dengan sahabat masa kecilku yang bernama Roy.
"Rani!" teriak seorang laki-laki sambil melambaikan tangannya.
"Siapa ya, sepertinya aku pernah mengenal laki-laki itu," batinku sambil terus melihat wajah laki-laki itu.
"Jangan bilang kalau kamu sudah melupakan aku," ucap Roy saat sudah berdiri di depanku.
"Sepertinya aku memang pernah mengenalmu, tapi siapa ya aku benar-benar lupa," jawabku sambil mengingat siapa laki-laki ini.
"Aku Roy sahabat kecilmu dulu, saat kita masih sering mandi di sungai dan bermain pasir," jawab Roy sambil tersenyum.
"Oh iya aku ingat, ya Allah apa kabar Roy?" tanyaku sambil menepuk pundak sahabatku.
"Alhamdulillah baik, gadis manis ini siapa?" tanya Roy saat melihat Luna yang ada di sampingku.
"Ini putriku namanya Luna," jawabku sambil tersenyum dan memperkenalkan Luna yang masih bingung saat melihat sosok Roy.
"Hai Nona manis, bisa kita berkenalan sebentar," ucap Roy sambil duduk dihadapan Luna dan mengulurkan tangannya.
"Ehm Roy maaf Putri ku tidak bisa mendengar," jawabku sambil sedikit ragu.
"Ya Allah, maaf ya Rani aku benar-benar tidak tahu," ucap Roy seolah merasa tidak enak.
"Tidak apa-apa, bagaimana kalau kamu mampir ke rumahku," ajak ku kepada Roy sambil sedikit ragu.
__ADS_1
"Kenalkan namaku Niko, aku Suami Rani," tiba-tiba Mas Niko mengulurkan tangannya kepada Roy.
"Mas Niko," batinku sambil menoleh ke arah Niko yang berdiri di sampingku.
"Roy, saya sahabat Rani," jawab Roy sambil menjabat tangan Niko.
"Jadi sudah 'kan pertemuan tidak disengaja nya, jadi sekarang kamu bisa pergi dari sini," ucap Niko seolah mengusir Roy.
"Kalau begitu aku pamit dulu ya Ran, Assalamualaikum," ucap Roy sambil berjalan meninggalkan kami.
Setelah Roy pergi aku langsung menggandeng Luna dan mengajaknya untuk segera masuk ke dalam rumah. Niko yang melihatku pergi meninggalkannya langsung berlari mengejarku. Bahkan dengan cepat dia menarik tangan Luna hingga membuatku terpaksa berhenti.
"Kenapa kamu langsung meninggalkanku begitu saja," tanya Niko sambil memegang tangan Luna.
"Lepaskan tangan Putri ku," perintahku sambil menahan emosiku.
"Ayah, kemarin ada 2 perempuan datang ke rumah dan mereka marah-marah kepada Ibu, bahkan mereka juga mengambil alat pendengaran ku," jelas Luna sambil memandang wajah Niko.
"Ayo kita masuk ke rumah Nak," ajakku kepada Luna sambil melepaskan tangan Niko.
"Rani, dua wanita itu adalah Niken dan Mamaku?" tanya Niko sambil berusaha terus mengejarku.
"Kamu masuk dulu ya Sayang, Ibu mau bicara sama Ayah," perihku kepada Luna sambil menutup pintu rumahku.
"Sekarang apa dua wanita yang dimaksud Luna adalah Niken dan Mamaku," tanya Niko sambil berjalan mendekatiku.
"Iya benar, aku juga sudah memberikan seluruh surat-surat penting kita kepada mereka agar mereka secepatnya mengurus perceraian kita," jawabku dengan tegas.
"Tidak, aku tidak akan pernah menceraikanmu," jawab Niko sambil mendekatkan wajahnya di hadapanku.
"Terlambat Mas, tadi pagi ada pengacara yang menghubungi ku dan dia bilang jika mereka akan segera mengirim surat cerai kita ke alamatku," jawabku sambil menatap mata Niko.
"Tidak, jangan harap aku mau menandatangani surat itu, dan sampai kapanpun aku tidak akan pernah menceraikanmu," ucap Niko sambil menatapku tajam.
"Kenapa kamu masih tetap pada pendirianmu untuk tidak menceraikanku?" tanyaku dengan sedikit berteriak.
__ADS_1
"Karena aku masih mencintaimu dan sampai kapanpun aku tidak akan menceraikanmu," jawab Niko dengan menahan amarahnya.
"Cinta, kamu bilang cinta kepadaku lalu kenapa kamu menikah dengan Niken jika kamu masih mencintaiku!" bentakku sambil berteriak di hadapan Niko.
"Kamu tidak akan mengerti apa yang aku lakukan ini demi kalian," jelasnya sambil memegang tangan ku.
"Lepaskan tanganmu, aku tidak mengerti dan tidak akan pernah mau mengerti," jawabku sambil berjalan masuk ke rumah.
Setelah menutup pintu aku pun langsung menangis. Entah rasa apa yang ada di dalam hatiku saat ini, sakit ataukah justru bahagia. Niko yang dari tadi berdiri di depan rumahku langsung berjalan meninggalkan rumahku.
"Ya Allah, bantulah aku untuk keluar dari masalah ini," ucapku sambil menengadahkan tanganku.
"Ibu kenapa?" tanya Luna yang tiba-tiba keluar dari kamar dan langsung memelukku.
"Tidak Nak, Ibu tidak apa-apa," jawabku sambil mengusap air mataku.
Terlihat wajah sedih dan air mata yang mulai menetes di wajah cantik putri kecilku. Seolah dia tahu tentang apa yang aku rasakan saat ini. Sebuah rasa sakit atas pengkhianatan dan sebuah sakit atas hubungan yang belum ada kejelasan.
***
Niko yang saat itu langsung menuju ke rumahnya kini telah tiba di halaman rumahnya. Sambil menahan emosinya dia pun langsung masuk ke dalam rumah dan langsung mencari Niken. Niko masuk ke dalam rumah sambil berteriak memanggil nama sang istri..
"Niken! Niken dimana kamu," teriak Niko sambil masuk ke dalam rumah.
"Maaf Mas, Mbak Niken sedang tidak ada di rumah," ucap seorang asisten rumah tangganya.
"Dimana dia?" tanya Niko dengan nada yang penuh dengan emosi.
"Katanya dia sedang berbelanja dengan Nyonya besar, mungkin sebentar lagi pulang," jawab sang asisten rumah tangga.
"Baik aku akan menunggu mereka disini, Mbok kembali saja ke dapur dan tolong bawakan saya segelas air putih," peringah Niko kepada sang asisten rumah tangganya.
"Baik Mas," jawab si mbok sambil mulai berjalan ke arah dapur.
Hampir satu jam Niko duduk di ruang tamu sambil menunggu Niken dan Mamanya pulang berbelanja. Hingga setelah cukup lama menunggu akhirnya mereka pun pulang sambil membawa beberapa kantong belanjaan. Sambil tersenyum Niken mulai mendekati sang suami yang sudah berdiri di ruang tamu.
__ADS_1
"Plak," tiba-tiba Niko menampar Niken dengan cukup keras.
"Ada apa Mas?" tanya Niken dengan bingung sambil memegangi pipinya.