
Setelah membaca tulisan Mas Niko, aku mulai berpikir lagi tentang perceraian yang ingin aku ajukan. Namun, semua langsung aku tepis begitu saja. Aku berusaha untuk tidak terpengaruh dengan apa yang aku baca.
"Tidak, aku tidak boleh lemah, aku yakin bisa membahagiakan Luna walaupun tanpa Mas Niko," batinku sambil menatap wajah putri kecilku.
Setelah memastikan jika Luna sudah tertidur pulas. Aku pun langsung mengambil ponselku dan mulai menulis kembali di aplikasi yang sudah diberitahu Mia. Kata demi kata aku tulis dan aku rangkai di ceritaku. Hingga tanpa terasa aku pun tertidur dengan ponsel yang masih ada di genggamanku.
"Luna!" teriakku saat aku terbangun dan tidak melihat keberadaan putri kecilku.
Karena tidak ada jawaban dari Luna akupun bergegas keluar kamar untuk mencarinya. Terlihat Luna sedang duduk di sofa ruang tamu bersama Mas Niko. Aku yang baru saja bangun dari tidur langsung kembali ke kamar untuk segera membersihkan diri dan langsung menemui Luna dan Mas Niko.
"Sini Mas," ucapku sambil menarik tangan Mas Niko dengan kasar.
"Ibu," ucap Luna saat dia melihatku menarik tangan ayahnya dengan kasar.
"Kamu tunggu Ayah disini ya Nak, nanti kita jalan-jalan," jawab Mas Niko sambil tersenyum.
"Kenapa kamu datang kemari lagi?" tanyaku saat kami sudah sedikit menjauh dari Luna.
"Kenapa? Bukannya aku masih punya hak atas putriku," ucapnya sambil melepaskan tanganku.
"Hak, berapa kali harus aku bilang jika Luna bukan anakmu, dia adalah anakku karena aku yang berjuang sendiri selama ini!" bentakku kepada Niko dengan suara kecil.
"Sebentar," ucap Niko sambil berjalan masuk ke kamarku.
"Kamar ini, kamar ini tetap sama seperti pertama kita menikah," ucap Mas Niko sambil mengamati sekeliling kamar.
"Lebih baik kamu cepat pergi dari sini, dan jangan pernah datang lagi ke rumah ini," ucapku sambil menarik tangan Niko.
"Tidak! Aku tidak akan pergi meninggalkan rumah ini!" bentak Niko hingga membuatku melepaskan genggaman tanganku.
"Apa yang kamu inginkan dariku, apa belum puas kamu menyakitiku," tanyaku dengan nada tinggi.
"Aku akan pergi dari sini asalkan kamu mau memaafkanku dan kembali kepadaku," jawab Mas Niko sambil mendekat ke arahku.
Sesaat dadaku terasa berdetak kencang hingga membuatku susah bernafas. Melihat Mas Niko yang mulai mendekat aku pun mulai melangkahkan kaki ku mundur menjauhinya. Sambil tertawa dia pun mulai mendekatkan wajahnya ke telingaku.
__ADS_1
"Aku pastikan kamu akan kembali ke pelukanku lagi," ucapnya sambil memelukku.
"Tidak, aku tidak akan pernah kembali kepada laki-laki pengecut sepertimu!" bentakku kepada Niko sambil melepaskan pelukannya.
"Apa kamu yakin, Niko yang sekarang bukanlah Niko miskin yang kamu kenal dulu, aku bisa memberikan kehidupan layak untukmu dan Luna agar hidup kalian tidak kekurangan seperti sekarang," ucapnya sambil merapikan bajunya yang kusut karena dorongan tanganku.
"plakk," sebuah tamparan keras ku berikan kepada Niko.
"Aku tahu kamu laki-laki kaya, apa saja bisa kamu beli dengan uangmu tapi jangan lupa kamu tidak bisa membeli kebahagiaanku dan perasaanku dengan uangmu," jawabku dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
"Apa kamu yakin bisa membahagiakan Luna dengan kondisi kekurangan seperti sekarang," ucapnya seolah menghinaku.
"Aku akan buktikan jika aku bisa membahagiakan putriku tanpa bantuanmu, sekarang cepat keluar dari rumahku!" bentakku sambil menunjuk ke arah pintu.
"Baik aku tunggu janjimu, dan akan pastikan kamu tidak akan bisa membahagiakan Luna tanpa bantuanku," ancam Niko sambil tersenyum sinis dan berjalan keluar kamar.
Luna yang sedang menikmati kue di tangannya langsung menoleh saat ayahnya berjalan ke arah pintu. Dia langsung berlari mengajar Niko yang tidak menghiraukannya. Aku yang masih berdiri di ruang tamu langsung mengejar Luna di halaman depan.
"Ayah! Ayah mau kemana," teriak Luna sambil mengejar Niko yang terus berjalan ke mobilnya.
"Sabar ya Nak, nanti Luna main sama Ibu saja," ucapku sambil memeluk Luna.
"Tidak! Luna benci sama Ibu," bentak Luna sambil berteriak dan berlari ke dalam rumah.
"Ya Allah apa aku salah jika aku ingin membahagiakan putriku seorang diri," batinku yang mulai meneteskan air mata.
Sejak kejadian itu Mas Niko tidak pernah datang lagi ke rumahku. Luna yang tadinya marah kepadaku karena kepergian ayahnya kini sudah mulai membuka hatinya kembali. Hingga tiba di saat hari ulang tahun putriku, aku menerima sebuah pesan singkat di aplikasi hijau dari Niko.
"Bagaimana, apa kamu sudah bisa hidup mewah dengan putri kecilmu?" tulis Mas Niko dalam pesan singkatnya.
"Darimana dia tahu kalau aku punya aplikasi ini," ucapku sambil membaca pesan itu.
"Aku pastikan kamu akan berlutut di kakiku dan meminta ku untuk membantu memenuhi kebutuhanmu," kembali dia mengirim sebuah pesan singkat kepadaku.
"Maaf lebih baik kamu urus istrimu agar dia bisa menjadi perempuan yang lebih sholeha, dan aku akan buktikan jika aku tidak akan pernah meminta bantuan apapun kepadamu walau sepeserpun," tulisku kepada pesan singkat yang aku kirimkan kepada Niko.
__ADS_1
"Dasar perempuan sombong," jawab Niko setelah membaca pesan singkat dariku.
Setelah membaca pesan yang dikirimkan akupun langsung menuju ke rumah Bu Santi. Saat aku mengunci pintu rumahku tiba-tiba Luna menangis sambil memelukku dari belakang. Aku yang terkejut langsung menoleh dan duduk di hadapannya.
"Kamu kenapa Sayang?" tanyaku sambil mengusap air matanya.
"Ibu, hari ini ulang tahun Luna yang ke 6 ya," jawabnya sambil sedikit sesenggukan.
"Iya Nak, lalu kenapa kamu menangis," tanyaku sambil tersenyum dan merapikan rambut panjang putri kecilku.
"Lalu kenapa Luna tidak merayakan seperti teman-teman yang lain," tanyanya kembali.
"Ya Allah kuatkan aku, tegarkan hatiku," batinku sambil menatap mata Luna dengan dalam.
"Ibu, kenapa Ibu tidak menjawab," terdengar suara Luna bertanya padaku hingga membuatku sedikit terkejut.
"Kita duduk di kursi dulu ya, Ibu akan kasih cerita yang bagus buatmu," ajakku sambil berdiri dan menggandeng tangan mungilnya menuju kursi yang berada di teras.
Setelah duduk dan memangku tubuh kecil Luna. Akupun mulai menjelaskan apa itu ulang tahun. Serta kenapa aku tidak merayakan ulang tahunnya.
"Sayang, ulang tahun itu pertambahan usia setiap manusia, jadi jika Luna kemarin usia 5 tahun sekarang menjadi 6 tahun," jawabku sambil mengusap air matanya.
"Lalu kenapa Luna tidak ada acara pesta makan-makan dan nyanyi di rumah ini seperti teman-teman yang lain?" tanya Luna sambil memandang wajahku.
"Di dalam islam tidak ada namanya pesta makan-makan ataupun nyanyi saat ulang tahun, jadi Ibu sengaja tidak mengadakan pesta apapun untuk kamu," jawabku sambil mencubit hidung kecilnya.
"Memang kenapa Bu," tanyanya penasaran.
"Karena Allah tidak suka dengan namanya berfoya-foya ataupun berpesta yang berlebihan, atau gini saja nanti siang Ibu akan buatkan nasi kuning kesukaanmu dan kita bagikan ke teman Luna dan sebagian lagi kita berikan kepada fakir miskin," ucapku sambil memeluk pundak Luna.
"Jadi kalau kita mau merayakan ulang tahun harus dengan cara bagi-bagi saja ya Bu," tanyanya sambil sedikit penasaran.
"Iya, sebagai tanda syukur kita Allah sudah memberikan umur yang panjang dan kesehatan kepada Luna," jawabku sambil tersenyum.
"Lalu apa hari ini Ayah akan datang kemari?" tanya Luna yang langsung membuatku terdiam sesaat.
__ADS_1
"Kita ke rumah Bu Santi yuk, ibu sudah kesiangan," ajakku sambil menggandeng tangan Luna.