
Satu jam berlalu dan kini kami sudah tiba di sebuah restoran yang menurutku sangat mewah. Terlihat beberapa pelayan tengah sibuk melayani beberapa pengunjung yang terlihat sangat rapi bahkan bisa dibilang mereka adalah orang-orang kelas atas. Berbagai pertanyaan muncul dalam benakku akan status restoran mewah ini hingga membuatku terdiam sesaat.
"Rani ayo masuk," ajak ibu mertuaku hingga membuatku sedikit terkejut.
"Iya Bu," jawabku singkat sambil berjalan mengikuti langkah kaki Bu Asih.
"Apa ini restoran Mas Roy? Tapi bukannya dia bilang jika usahanya hanyalah warung kecil," batinku sambil melihat sekeliling.
"Permisi Pak, ini ada beberapa berkas keuangan yang harus segera anda tanda tangani," tiba-tiba muncul seorang laki-laki menggunakan jas hitam menghampiri kami.
"Baik nanti akan saya tanda tangani, sekarang siapkan ruangan untuk keluarga saya dan keluarkan semua menu yang ada," perintah Roy kepada laki-laki tersebut.
"Baik Pak," jawab laki-laki yang bernama Rahmad lalu pergi meninggalkan kami.
"Kalian tunggu disini dulu, aku akan pergi sebentar dan nanti akan ada pelayan yang mengantar kalian ke ruangan khusus," ucap Roy yang langsung meninggalkan kami menuju ke sebuah ruangan.
"Bu, apa ini usaha warung makan Mas Roy?" tanyaku kepada Bu Asih yang saat itu sedang bercanda dengan Luna.
"Iya, inilah hasil jerih payah Roy selama ini. Apa kamu tidak tahu kalau Roy punya rumah makan yang besar dan mewah?" tanya Bu Asih penasaran.
"Tidak, dia hanya bilang jika rumah makan usahanya adalah warung kecil seperti warung makanku di rumah," jawabku dengan polos.
"Anak itu benar-benar melakukannya," jawab Pak Usman sambil tersenyum bangga.
"Maksud Bapak?" tanyaku sambil sedikit terkejut saat mendengarkan ucapan Pak Usman.
"Selamat malam Bapak dan Ibu, mari saya antar ke ruangan yang sudah disiapkan," ajak seorang pelayan yang baru saja tiba.
"Iya terima kasih Mbak," jawab Pak Usman sambil berdiri dan kami pun mengikuti langkah kaki sang pelayan.
"Ayah!" teriak Luna sambil berlari ke arah Roy yang ternyata sudah duduk di sebuah kursi.
__ADS_1
"Nona cantik, ayo sini duduk dekat Ayah," jawab Roy sambil menggendong Luna ke tempat duduk.
Saat kami sedang asyik dengan senda gurau dan perbincangan hangat dengan keluarga. Tiba-tiba beberapa pelayan masuk dengan membawa nampan yang berisi bermacam-macam makanan, snack dan minuman. Hingga tanpa sadar aku langsung bertanya kepada Roy.
"Mas, banyak sekali makanan ini. Apa tidak mubazir jika kita tidak habis?" tanyaku sambil mengedarkan pandangan ke arah makanan yang hampir memenuhi meja.
"Kamu tenang saja, aku sudah memperkirakan hal itu," jawab Roy sambil tersenyum.
"Putri cantik, kamu makan yang banyak ya Nak," ucap Roy sambil menoleh ke arah Luna.
Malam ini adalah malam pertama aku menikmati makanan yang sangat lezat di restoran mewah. Luna yang selama ini hanya bisa makan nasi dan telor dadar terlihat begitu lahap menikmati semua menu makanan yang ada di meja. Hingga setelah makan malam selesai aku mulai memberanikan diri bertanya tentang apa yang Ayah mertuaku katakan tadi.
“Memang apa yang sudah Ayah katakan?" tanya Roy yang terlihat bingung.
"Itu tentang ucapanmu saat itu, kamu ingin mencari istri yang hanya mengenalmu sebagai laki-laki miskin dan pengangguran," jawab Usman hingga membuat Roy tertawa.
"Sayang, waktu itu aku pernah bilang kepada Ayah dan Ibu jika aku mau mencari seorang istri yang tidak melihat kekayaanku, karena aku ingin mempunyai istri yang mau menemaniku saat susah dan senangku," jelas Roy sambil menatapku.
"Sekarang aku sudah mendapatkan perempuan yang tepat, yaitu kamu istri sekaligus Ibu yang hebat," jawabnya sambil menggenggam tanganku.
Kata-kata Roy malam ini benar-benar membuatku salah tingkah dan malu. Entah ini yang namanya cinta atau karena aku yang terlalu percaya diri karena memang baru kali ini aku mendengar rayuan dari seorang laki-laki. Mungkin jika saat itu seluruh keluarga tidak menikmati makan malam mungkin mereka sudah melihat wajahku memerah bagaikan udang rebus yang ada di hadapanku.
“Ya Allah, apakah ini cinta atau mungkin semua ini hanya mimpi?” batinku sambil menunduk seolah ingin menyembunyikan wajahku yang memerah karena malu.
“Mas, apa boleh jika aku melakukan kegiatanku selama ini? Karena aku sudah rindu dengan warung kecilku dan cerita yang sudah aku tinggalkan cukup lama,” tanyaku kepada Roy.
“Apa kamu tidak ingin mengelolah restoran ini denganku?” tanya Roy sambil meletakkan sendok yang ada di tangannya.
“Iya Ran, bukannya lebih baik kalian olah bisnis ini bersama,” usul Bu Asih sambil menoleh ke arahku.
“Rani hanya ingin belajar mandiri Bu, lagipula jika Rani di rumah lebih bisa mengawasi Luna. Selain itu juga sayang kalau Rani harus meninggalkan cerita yang sudah memberikan sedikit rezeki buat kami selama ini,” jelas ku sambil menunduk karena takut jika Ibu mertuaku marah saat mendengar jawabanku.
__ADS_1
“Aku izinkan kamu buat teruskan ceritamu, tapi untuk usaha warung makan aku tidak izinkan,” jawab Roy hingga membuatku terkejut.
"Kenapa aku tidak boleh membuka warung lagi Mas?" tanyaku penasaran.
"Apa kamu mampu mengurus rumah, Luna dan aku dengan aktivitasmu yang padat, jadi lebih baik kamu pilih antara cerita dan warung makan," jelas Roy sambil menatapku.
"Ayah setuju, karena akan membutuhkan tenaga yang besar untuk mengurus rumah seorang diri, jadi menurut Ayah lebih baik Rani lanjutkan saja ceritanya," tambah Pak Usman.
Apa yang dikatakan Roy dan orang tuanya benar, aku memang harus mengutamakan keluarga kecilku. Roy juga pasti menginginkan keturunan dariku suatu saat nanti. Namun, jika aku hentikan ceritaku bagaimana dengan pembacaku, jika aku tutup warungku bagaimana pelangganku selama ini. Menurutku ini adalah dua pilihan yang sulit, antara hobi memasakku atau cerita yang sudah memberikan aku kehidupan selama ini.
"Sayang, ayo kita pulang," ajak Roy hingga mengejutkanku yang masih duduk mematung.
"Iya Mas," jawabku sambil menggandeng tangan suamiku dan berjalan keluar ruangan.
Saat aku dan Roy berjalan di lobby restoran, tanpa sadar aku melihat sosok wanita yang sangat aku kenal. Sesaat aku mengamatinya seakan tidak percaya dengan apa yang aku lihat saat ini. Perlahan aku melepaskan tangan suamiku dan berjalan menghampiri perempuan itu.
"Niken, kamu benar Niken 'kan? " tanya ku kepada seorang perempuan yang ada di sebuah meja.
"Rani, ternyata sekarang kamu kerja disini,” jawab Niken sambil menatapku dengan tatapan rendah.
"Siapa laki-laki ini, dan kenapa kamu tidak kesini dengan Niko?" tanyaku kepada Niken.
"Ini bukan urusanmu, awas ya kalau kamu sampai bongkar semua ini ke Niko, aku pastikan hidupmu akan lebih menderita dari ini," ancam Niken sambil mengacungkan jari telunjuknya ke wajahku.
"Turunkan jari telunjuk mu dari wajah Istriku!" bentak Roy sambil memukul tangan Niken hingga dia meringis kesakitan.
"Boleh juga suami wanita miskin ini, apa perlu aku dekati dia," batin Niken saat melihat Roy yang berdiri di hadapannya.
"Ayo Sayang kita pulang sekarang," ajak Roy sambil memeluk tubuhku.
"Aku harus cari tahu siapa laki-laki itu, aku tidak boleh kalah dengan wanita miskin seperti Rani," batin Niken sambil terus menatap kami yang sudah mulai menjauh dari hadapannya.
__ADS_1