
Keesokan harinya aku mengajak Luna pergi pasar untuk membeli barang-barang yang akan aku gunakan untuk membuka warung nasi kecil. Setelah berbelanja semua kebutuhan dan meletakkannya di rumah. Aku langsung bergegas pergi ke rumah Bu Santi.
"Assalamualaikum," ucapku sambil mengetuk pintu.
"Waalaikumsalam," jawab Mia sambil membuka pintu rumahnya.
"Eh Mbak Rani, mari silahkan masuk ayo duduk dulu Mbak," ucap Mia sambil mempersilahkan kami duduk.
"Terima kasih Mbak, tapi sepertinya saya langsung kerja saja, biar gak terlalu siang," jawabku sambil tersenyum.
"Silahkan kalau begitu Mbak, Luna disini saja ya sama Tante," ucap Mia sambil mengajak Mia berjalan ke arah ruang tengah.
Aku Pun langsung bergegas menuju ke halaman belakang untuk mencuci baju dan setrika. Hampir 3 jam aku menjalankan tugasku di rumah Bu Santi. Setelah selesai aku pun langsung berjalan ke ruang tengah untuk menemui Mia dan Luna
"Mbak Mia apa Ibu ada di rumah?" tanyaku kepada Mia setelah aku duduk di bawah sofa.
"Oh Ibu, kalau begitu sebentar ya aku panggilkan dulu," jawab Mia sambil berjalan masuk ke kamar sang ibu.
Setelah menunggu hampir 10 menit Mia dan Bu Santi pun keluar dari dalam rumah. Sambil tersenyum ramah Bu Santi duduk di samping Luna. Melihat Bu Santi dan Mia sudah duduk di sofa aku mulai menjelaskan maksud kedatanganku kemari.
"Sebelumnya saya mau minta maaf kepada Ibu dan Mbak Mia kalau selama ini saya sudah banyak merepotkan," ucapku sambil menunduk.
"Ibu tidak pernah merasa direpotkan, justru kami senang bisa membantu kamu dan Luna," jawab Bu Santi sambil memeluk pundak Luna.
"Begini Bu, sepertinya mulai besok saya tidak bisa datang kesini lagi," ucapku dengan sedikit ragu dan takut.
"Loh kenapa Mbak, apa ada kesalahan dari sikap kami selama ini?" tanya Mia kepada ku sambil terkejut.
"Tidak Mbak, saya mau membuka usaha warung nasi di rumah alhamdulillah tabungan saya sudah cukup untuk membuka warung nasi," jawabku sambil menoleh ke arah Mia.
"Alhamdulillah kalau kamu bisa membuka usaha sendiri, tapi jangan lupa sering-sering main ke sini ya," pesan Bu Santi kepadaku.
__ADS_1
"Insya Allah kalau saya libur saya akan main kemari untuk menjenguk Bu Santi dan Mia," jawabku sambil tersenyum.
"Tapi Mbak Rani tetap melanjutkan tulisannya 'kan, karena saya lihat tulisan Mbak Rani sudah banyak yang baca jadi sayang kalau harus berhenti," Saran Mia kepadaku.
"Insya Allah Mbak, oh ya Mbak ponsel yang kemarin saya pinjam masih ada di rumah, insya Allah kalau saya sudah beli yang baru akan segera saya kembalikan," ucapku kepada Mia.
"Sudah itu kenang-kenangan buat Mbak Rani," jawab Mia sambil tersenyum.
Setelah berbincang-bincang cukup lama aku dan Luna langsung pamit pulang. Setelah menidurkan Luna akupun bergegas menuju ke dapur untuk mulai menyiapkan bumbu masakan buat besok. Beberapa menu makanan sudah berhasil aku masak dalam waktu 3 jam.
"Alhamdulillah sebagian masakan untuk besok sudah siap, tinggal beberapa lagi yang belum siap," ucapku sambil berdiri dan berjalan ke arah ruang tamu.
***
Disaat aku sibuk dengan menu masakan untuk berjualan besok. Niko justru sibuk mencari tahu tentang pembalut yang dia temukan di dalam kamar mandinya kemarin. Setelah makan siang Niko mengajak Niken untuk periksa kandungan.
"Sayang, bagaimana kalau besok aku antar kamu untuk periksa kandungan, kebetulan besok aku banyak jadwal kosong," ajak Niko kepada sang istri.
"Bukannya selama ini kamu selalu periksa kandungan setiap tanggal 15, kenapa sekarang kamu bilang tidak ada jadwal periksa?" tanya Niko sambil menatap Niken yang minum secangkir air putih di dalam gelas.
"Sudah nanti biar Mama yang mengantar Niken ke Dokter kandungan, oh ya bukannya hari ini kamu bilang akan ke rumah Rani untuk menjenguk putri cacatmu," jawab Sarah sambil terus menikmati makanannya.
"Mama, tolong jangan menghina putriku seperti itu," ucap Niko kepada Sarah.
"Tapi memang benar 'kan kalau anak itu hanya anak cacat yang tidak berguna," jawab Sarah sambil tersenyum dengan penuh hinaan.
"Sudah Ma jangan membuat Mas Niko marah, memang nama anakmu siapa Mas?" ucap Niken seolah ingin mengambil hati Niko.
"Luna," jawab Niko singkat sambil terlihat kesal.
Setelah menikmati sarapannya Niko langsung berdiri dan berjalan keluar rumah tanpa berpamitan kepada Sarah dan Niken. Melihat sang suami yang berjalan keluar Niken langsung berdiri dan mengejar Niko yang pergi dalam keadaan marah. Sarah hanya tersenyum melihat sikap putra semata wayangnya.
__ADS_1
"Apa yang bisa di banggakan dari seorang anak cacat seperti Luna," ucap Sarah sambil mengusap mulutnya.
"Mas! Tunggu sebentar," teriak Niken sambil berlari mengejar Niko.
"Ada apa?" tanya Niko dengan singkat sambil berhenti di hadapan Niken.
"Kamu tidak mau menciumku sebelum berangkat," jawab Niken sambil tersenyum manis.
Tanpa menjawab Niko langsung mencium kening sang istri lalu mengusap perut Niken yang masih rata. Diam-diam Sarah memperhatikan Niko dan Niken yang sedang bermesraan di teras. Saat Niken masuk Sarah langsung menarik tangan menantunya itu menuju ke sofa.
"Kenapa kamu tadi tidak membela Mama di hadapan Niko," protes Sarah kepada menantu kesayangannya.
"Bukan begitu Ma, kalau kita terus menghina Rani dan anaknya aku takut Mas Niko akan semakin mendesakku untuk ikut dengannya ke rumah sakit," jelas Niken sambil sedikit berbisik.
"Kamu benar, tapi sepertinya dia sudah mulai curiga, apa kamu tidak melakukan apapun yang membuatnya curiga?" tanya Sarah memastikan.
"Aku rasa tidak, selama ini aku juga terlihat tenang," jawab Niken sambil sedikit mengingat sesuatu.
Setelah berbincang-bincang dengan sang mertua Niken langsung pamit masuk ke dalam kamarnya. Saat di dalam kamar Niken langsung menuju ke kamar mandi untuk sekedar buang air kecil. Saat sedang merapikan celananya tiba-tiba Niken melihat ke arah tong sampah yang sudah berantakan. Niken mulai membersihkan sampah-sampah bekas yang sudah berserakan di kamar mandi.
"Kenapa sampah-sampah ini berjatuhan seperti ini," ucap Niken sambil membersihkan sampah yang berserakan di lantai kamar mandi.
Saat sedang merapikan sampah tersebut dia melihat sebuah pembalut bekas pakai. Perlahan dia mulai memastikan apa benar itu pembalut yang dia buang beberapa hari lalu. Setelah memastikan jika itu benar pembalutnya Niken langsung terkejut.
"Apa jangan-jangan Mas Niko melihat pembalut ini, tidak. Mas Niko tidak boleh melihat benda ini ada di dalam kamar ini," batin Niken bergegas merapikan sampah-sampah tersebut dan membawanya ke dapur.
"Mbom cepat buang sampah-sampah ini ke depan," perintah Niken kepada asisten rumah tangganya.
"Baik Mbak," jawab Mbok sambil menerima kantong plastik hitam dari tangan Niken.
"Kenapa aku seceroboh itu, semoga Mas Niko tidak melihat pembalut itu," ucap Niken sambil mengusap wajahnya dengan kasar.
__ADS_1