
Mendengar ucapan Roy aku hanya terdiam tanpa jawaban satu katapun. Bahkan melihat matanya saja aku tidak sanggup. Setelah berpikir sejenak aku mulai memberani diri untuk menatap wajah laki-laki yang selama ini menjadi sahabat baikku.
"Apa kamu yakin dengan keputusanmu, dan apa kamu siap menerima Luna seperti anakmu sendiri walaupun di suatu saat kamu memiliki anak kandung dariku?" tanyaku kepada Roy dengan tatapan penuh keraguan kepadanya.
"Aku janji akan membahagiakan kalian berdua, aku juga akan selalu menganggap Luna seperti anak kandungku apapun yang terjadi di kemudian hari, " jawab Roy sambil tersenyum kepadaku dan memeluk Luna yang duduk di sampingnya.
"Bagaimana apa Rani menerima lamaran Roy untuk menjadikanmu Istrinya? " tanya Asih sambil tersenyum ramah.
"Bismillahirrohmanirrohim, Insya Allah Rani terima lamaran Mas Roy, " jawabku dengan tegas sambil tersenyum kepada Roy.
"Alhamdulillah, " ucap Roy dan kedua orang tuanya secara bersamaan.
"Baik kalau begitu tugas kita sebagai orang tua mencari tanggal yang baik buat mereka," ucap Usman kepada Asih sambil terlihat bahagia.
"Iya Pak, akhirnya kita punya cucu Pak. Luna sini Nak sama Nenek, " ucap Asih sambil melambaikan tangannya kepada Luna.
"Bu Asih saya minta maaf atas apa yang sudah dilakukan mantan suami saya kepada Mas Roy," ucapku dengan ragu kepada calon ibu mertuaku.
"Ibu yang seharusnya minta maaf kepadamu, harusnya saat itu Ibu tidak menyalahkanmu karena Ibu paham betul bagaimana sikap Niko, jangankan kepada orang lain kepadamu saja dia begitu kasar," ucap Asih sambil tersenyum dan memangku Luna yang baru saja berdiri di hadapannya.
"Rani kami tahu jika kamu adalah perempuan yang baik, hanya saja saat itu kamu telah salah memilih suami. Semoga kali ini Roy bisa menjadi Suami dan Ayah yang baik buatmu dan Luna serta untuk anak-anak kalian nanti, " ucap Usman sambil memeluk pundak Roy yang ada di sampingnya.
"Amiin," ucapku dan Roy secara bersamaan dan saling melemparkan senyum.
Hari itu adalah hari bahagia untukku, karena setelah sekian lama memendam rasa yang sama kepada sahabatku. Kini tanpa terasa aku akan menjadi istrinya. Senyuman seorang sahabat yang dulu memikat hatiku kini menjadi senyuman seorang calon suami dan imam yang akan membimbingku dan menemaniku menjalani masa depanku dan Luna.
***
Setelah tanggal dan semua persiapan dilakukan. Aku, Mas Roy dan Luna bermaksud untuk datang ke Niko. Selain untuk mengantar undangan pernikahan kami, kami juga berniat untuk menjalin silaturahmi yang baik dengan Niko dan keluarganya.
__ADS_1
"Assalamualaikum, " ucapku dan Roy secara bersamaan.
"Waalaikumsalam, Rani! " ucap Niko seolah terkejut dengan kedatangan ku dan Roy di rumahnya.
"Maaf jika kedatangan kami mengganggu mu, kami hanya ingin menyerahkan ini," ucapku sambil menyodorkan sebuah undangan pernikahan ku dan Roy.
"Apa maksud undangan ini?" tanya Niko seolah tidak percaya dengan apa yang dibacanya.
"Iya, lusa aku dan Roy akan melangsungkan acara pernikahan kami, aku harap kamu dan Niken bisa datang di resepsi kami," jawabku sambil tersenyum ramah.
"Tidak, kalian tidak boleh menikah. Rani aku mohon beri aku kesempatan untuk berubah dan aku janji akan segera menceraikan Niken dan kembali kepadamu, " ucap Niko sambil memohon dan memegang tanganku.
"maaf Mas, aku tidak bisa karena rasa cinta untukmu sudah lama pergi bersamaan dengan kamu meninggalkan ku 7 tahun lalu, " jawabku sambil melepaskan pegangan tangan Niko.
"Dasar Bajingan kamu!" bentak Niko sambil menarik baju Roy hingga membuatnya terkejut.
"Ayah! lepaskan Om Roy, " teriak Luna dengan tiba-tiba sambil mendorong tubuh Niko agar menjauhi Roy.
"Jangan pernah menyakiti putriku!" bentak Roy sambil mendorong tubuh Niko dan langsung berjalan ke arah Luna dan menggendongnya.
"Putrimu, Luna adalah putriku ingat Itu! " bentak Niko sambil berusaha menariknya dari pelukan Roy.
"Cukup Mas! Selama ini aku sudah sabar menghadapi sikapmu, dan mulai sekarang jangan campuri semua urusanku. Aku tidak melarangmu bertemu dengan Luna tapi aku harap kamu tidak membuat kekacauan saat menemuinya," jelasku sambil menarik tubuh Niko menjauhi Luna yang sedang ketakutan.
"Rani, lebih baik kita pulang sekarang kasihan Luna sudah sangat ketakutan," ajak Roy yang langsung aku jawab dengan anggukan.
“Kalian tidak bisa pergi dari sini dengan membawa Luna! Luna ayo Nak ikut Ayah,” teriak Niko sambil mengejar kami yang sedang berjalan ke arah mobil.
“Ayo cepat Mas,” perintahku kepada Roy dan memintanya segera masuk ke dalam mobil dan mengunci pintu mobil.
__ADS_1
“Rani cepat buka pintunya! Roy cepat buka atau aku pecahkan kaca mobilmu,” ancam Niko dengan berusaha membuka pintu mobil kami yang sudah mulai berjalan meninggalkan rumah itu.
“Aku tidak menyangka kamu bisa bertahan hidup dengan laki-laki kasar seperti Niko," ucap Roy sambil mengemudikan mobilnya.
"Saat aku mengenalnya hingga kami menikah dia begitu lembut, tapi sikapnya berubah saat kehidupan kami benar-benar ada di bawah, sikap kasarnya mulai terlihat tidak jarang dia menyiksa dan memukulku di depan banyak orang hanya karena masalah sepele," jawabku sambil mengarahkan pandanganku lurus ke depan.
"Aku janji akan terus menjaga dan melindungimu dan Luna dari laki-laki kasar itu," ucap Roy sambil terus fokus dengan jalanan di depannya.
"Ibu, Luna lapar," rengek Luna yang baru saja berhenti dari tangisnya.
"Luna mau makan apa Sayang?" tanya Roy sambil melirik ke arah Luna.
"Luna mau makan ayam Om," jawab Luna sambil berpindah ke kursi Roy.
"Bagaimana kalau kita makan di restoran ayam kentucky, tapi ada syaratnya dong," ucap Roy sambil tersenyum.
"Apa Om?" tanya Luna sambil mengintip Roy dari balik kursi.
"Cium dulu dong, baru setelah itu kita makan ayam," jawab Roy sambil tersenyum.
Luna langsung memeluk Roy dari belakang dan menciumnya dengan sangat bahagia. Aku yang melihat tingkah putriku dan calon suamiku hanya tersenyum bahagia. Aku tidak menyangka Roy bisa mengambil hati Luna dengan sangat muda.
"Ibu kenapa tersenyum, apa kamu tidak mau menciumku juga," goda Roy hingga membuatku malu dan tersenyum.
"Ya Allah semoga ini adalah awal kebahagiaan yang tidak akan pernah berakhir, dan semoga Roy adalah laki-laki yang tepat untukku dan Luna," batinku sambil menatap Roy.
"Baik kalau Ibu tidak mau, biar Ayah saja yang cium," godanya sambil mendekatkan bibirnya.
"Hust, tidak boleh belum akad nikah," jawabku sambil mendorong bibir Roy agar sedikit menjauh hingga membuat Luna tertawa terbahak-bahak.
__ADS_1
canda tawa di mobil siang itu terdengar jelas, mungkin sebagian orang akan berpikir kami adalah keluarga yang utuh. Walaupun kenyataannya aku masih calon istri dari laki-laki yang saat ini di sampingku. Air mata dan tangis Luna juga telah berganti dengan senyum dan tawa yang terlihat jelas di wajahnya.