Ibu, Kenapa Aku Berbeda?

Ibu, Kenapa Aku Berbeda?
Bab 27


__ADS_3

Setelah meminta Luna agar segera keluar, akupun langsung mengunci pintu. Bergegas mengikuti langkah kaki laki-laki yang ada di depanku. Begitu terkejutnya aku saat melihat apa yang dilakukan Niko kepada Roy yang saat itu tersungkur di tanah dan hampir tidak sadarkan diri. 


"Mas Niko! Apa yang kamu lakukan," bentakku sambil menarik tangannya dari wajah Roy yang sudah berlumur darah.


"Rani, kenapa kamu bisa ada di sini" tanya Niko yang terkejut saat melihat kehadiranku dan Luna. 


"Tidak penting kenapa aku bisa disini, sekarang jelaskan kepadaku apa maksudmu memperlakukan sahabatku seperti itu," tanya ku sambil menatap matanya dengan tajam.


"Roy, ya Allah Nak …." terdengar suara orang tua Roy yang baru saja datang dan langsung menolongnya.


"Ini semua pasti gara-gara kamu! Sejak kecil kamu selalu membawa anak saya ke dalam masalah, kalau sampai terjadi apa-apa kepada anakku kamu harus bertanggung jawab," bentak Bu Asih kepadaku hingga membuatku terkejut.


"Sudah Bu, lebih baik kita bawa Roy kerumah sakit sekarang," ucap Pak Usman sambil di bantu beberapa warga membopong tubuh Roy yang sudah tidak sadarkan diri.


Setelah melihat Roy dibawah ke rumah sakit dengan mobil salah satu warga. Aku langsung menatap Niko dengan tatapan kecewa dan marah. Bergegas aku menggandeng tangan Luna yang ada di sampingku dan mengajaknya pulang. Selama aku berpikir jika laki-laki yang pernah menjadi suamiku sudah berubah sejak kepergian putra pertamanya dengan Niken.


“Rani! Ran, dengarkan penjelasanku dulu,” teriak Niko saat melihatku dan Luna pergi dari tempat itu.


“Bu, Om Roy sama Ayah kenapa bertengkar?” tanya Luna yang saat itu ada di gandenganku.


Aku sama sekali tidak menjawab pertanyaan Luna, bukan karena aku tidak mendengar. Namun, yang ada di pikiranku saat ini bagaimana kondisi Roy. Saat aku akan masuk ke dalam rumah tiba-tiba sebuah tangan menggegam tanganku dengan erat.


“Rani, aku mohon berikan aku kesempatan untuk menjelaskan semua yang terjadi,” ucap Niko sambil menggegam tanganku dengan erat.


“Luna kamu masuk ke kamar ya, Ibu mau bicara sebentar dengan Ayah,” perintahku kepada Luna yang dibalasnya dengan anggukan kecil.

__ADS_1


“Plak!” sebuah tamparan aku berikan kepada Niko saat Luna sudah masuk ke dalam kamar.


“Bagaiman apa tamparanku sakit?” ucapku kepada Niko yang langsung terdiam setelah mendapatkan tamparan keras dariku.


“Sakit yang kamu rasakan sekarang tidak sebanding dengan apa yang Roy rasakan saat ini," tambahku sambil menatap mata Niko dengan tatapan marah.


"Aku punya alasan kenapa aku melakukan hal itu kepada sahabatmu," jawab Niko seolah membela diri.


"Apapun alasan kamu tetap salah di mataku," jawabku sambil berjalan ke arah pintu.


"Aku masih sangat menyayangimu Ran, aku hanya tidak ingin dia berhasil mendapatkan hatimu, aku sadar jika kamu adalah wanita yang pantas untuk aku cintai," ucap Niko saat aku mulai membuka pintu rumahku.


“Sejak kapan kamu berpikir aku pantas untuk kamu cintai? Apa sejak Niken tidak dapat memberimu keturunan, atau sejak kamu kehilangan putra pertama kalian, tapi sayangnya aku sudah tidak memiliki rasa yang sama sepertimu,” jawabku sambil berjalan mendekati Niko yang berdiri mematung di hadapanku.


“Bukan begitu Ran, aku benar-benar mencintaimu. Aku mohon berikan aku kesempatan untuk menjadi suami dan Ayah yang baik untukmu dan Luna, aku juga janji akan segera menceraikan Niken,” ucap Niko sambil menggenggam tanganku.


Sesaat aku termenung dan menangis sambil duduk di depan pintu. Bukan karena cintaku kepada Niko ataupun Roy, bukan juga karena penyesalan akan kandasnya pernikahan pertamaku. Namun, lebih kepada rasa lelah yang saat ini aku rasakan, terkadang aku berpikir sampai kapan aku akan dibayang-bayangi masa lalu kelam dan menyakitkan. 


"Ibu, Bapak aku merindukan kalian disini," ucapku sambil menunduk dan menangis.


Setelah puas mengeluarkan air mataku dan setelah merasa jika perasaanku lebih baik. Aku pun langsung berdiri dan berjalan ke kamar untuk menemui Luna. Terlihat putri kecilku tertidur dengan pulasnya, wajah polosnya seakan membuatku merasa jauh lebih tenang.


“Ibu janji akan berusaha untuk membahagiakanmu Nak, tidak ada yang bisa merubah kasih sayang Ibu kepadamu,” ucapku sambil membelai rambut Luna yang terlihat begitu pulas dalam tidurnya. 


Sejak saat kejadian itu Luna mulai menjauhi Niko setiap dia datang berkunjung. Hampir sebulan juga Roy tidak lagi berkunjung ke rumahku. Hingga membuat Luna yang sudah dekat dengan sosok Roy selalu menanyakan tentang keberadaannya saat ini. 

__ADS_1


“Ibu kenapa Om Roy tidak pernah datang lagi ke rumah kita?” tanya Luna yang tiba-tiba keluar dari kamar dan duduk di sampingku. 


“Om Roy saat ini sedang sakit, lebih baik Luna doakan Om Roy biar cepat sembuh dan bisa bermain lagi ke rumah ini,” jawabku sambil menutup laptopku dan langsung memeluk tubuh Luna dari samping.


“Apa Om Roy sakit gara-gara Ayah,” tanya Luna sambil melepaskan pelukanku.


“Kenapa Luna bisa berpikir seperti itu?” tanyaku sambil sedikit terkejut.


“Kita ‘kan pernah lihat Ayah memukul Om Roy sampai pingsan, Ibu kenapa Ayah begitu jahat kepada Om Roy. Luna benci Ayah,” jawabnya dengan polos.


“Sayang, kamu salah, Ayah tidak pernah jahat kepada siapapun termasuk Om Roy mungkin Ayah seperti itu karena dia lelah dan sedang ada banyak pikiran," jelasku sambil memangku tubuh kecil Luna. 


"Jadi orang dewasa jika banyak hal yang dipikirkan harus memukul ya Bu?" tanyanya hingga membuatku diam sejenak.


"Lebih baik kamu mandi dan makan, karena hari sudah sore, doakan saja Om Roy cepat sembuh ya Sayang,” jawabku sambil mencium pipi putri kecilku.


“Kenapa aku tidak jenguk saja Roy di rumahnya, bagaimanapun juga aku harus minta maaf kepadanya dan orang tuanya,” batinku sambil merapikan laptopku.


***


Keesokan harinya setelah memandikan Luna, aku langsung mengajaknya ke sebuah toko kue yang ada di ujung jalan raya. Setelah beberapa macam kue sudah ada di tanganku. Aku dan Luna langsung segera menuju ke rumah Roy. Karena beberapa orang memberitahukan jika Roy sudah ada di rumah dari 2 minggu yang lalu. 


“Ibu, Luna seneng deh kita akan ketemu Om Roy, oh ya kemarin Luna di ajari Bu Guru menggambar,” ucap Luna yang berjalan dengan sangat bersemangat. 


“Oh ya … Memang Luna menggambar apa?” tanyaku dengan tersenyum.

__ADS_1


“Ada deh, Luna mau tunjukan lukisan ini kepada Om Roy,” jawabnya sambil menunjukkan buku gambar yang ada di tangannya. 


__ADS_2