
Sejak mendapatkan penghasilan yang lumayan dari menulis online. Aku bertekad untuk terus memperbaiki tulisanku menjadi lebih indah dan lebih banyak diminati para pembaca. Walaupun aku tahu tidak mudah menjadi penulis hebat hanya dengan modal pendidikan rendah sepertiku.
"Sekarang kamu mandi dan langsung tidur siang ya, Ibu mau melanjutkan pekerjaan Ibu yang belum selesai," perintahku kepada putri kecilku.
"Iya Bu," jawab Luna sambil masuk ke dalam kamar untuk meletakkan barang belanjaannya.
Yang aku rasakan saat ini adalah bahagia dan bangga kepada diriku sendiri. Hal yang awalnya aku anggap tidak mungkin ternyata bisa aku lakukan. Walaupun tanpa bantuan seorang laki-laki di sampingku.
"Aku harus bisa membahagiakan Luna, dia harus bisa mendapat kehidupan dan pendidikan yang terbaik," ucapku sambil duduk di sofa ruang tamu.
Aku pun mulai menulis kata demi kata, serta paragraf yang memang sesuai dengan perjalanan hidupku. Tanpa ada pengurangan dan penambahan dalam setiap tulisanku. Aku tidak bermaksud untuk membuka aib kehidupanku, semua ini aku lakukan sebagai ungkapan isi hati yang tidak pernah aku ungkapkan kepada siapa pun.
***
Sebulan berlalu dengan begitu cepat hingga tanpa terasa aku sudah berhasil menulis beberapa cerita di beberapa aplikasi online. Sejak perceraian itu Niko masih sering ke rumah untuk menjenguk Luna. Aku juga tidak pernah melarang ataupun membatasi pertemuan Ayah dan anaknya.
"Assalamualaikum," ucap Mas Niko sambil mengetuk pintu.
"Waalaikumsalam," jawabku sambil berjalan ke arah pintu.
"Maaf jika aku mengganggumu, aku hanya ingin bertemu dengan Luna," ucap Mas Niko setelah aku membuka pintu.
"Iya, silahkan masuk Mas," jawabku sambil mempersilahkannya masuk dan duduk di sofa.
"Sepertinya sekarang kamu sudah memiliki kehidupan yang lebih baik," ucapnya saat melihatku merapikan beberapa buku, ponsel dan laptop.
"Alhamdulillah, kamu tunggu sini sebentar aku buatkan minuman dulu sekalian memanggil Luna di kamar," ucapku sambil membawa laptop dan alat kerja ku masuk ke dalam kamar.
"Terima kasih ya Rani," jawabnya dengan sangat ramah.
Aku hanya tersenyum tipis sambil menoleh ke Niko yang sedang duduk di sofa. Aku memang sengaja tidak terlalu banyak bicara, karena aku tidak mau jika Mas Niko meletakkan kembali rasa yang dulu di hatinya. Setelah memanggil Luna aku pun langsung berjalan menuju ke dapur untuk membuat secangkir teh hangat untuk Niko.
__ADS_1
"Silahkan diminum Mas," ucapku sambil meletakkan secangkir teh hangat di atas meja.
"Iya, terima kasih Ran," jawabnya sambil tersenyum.
Sesaat aku menyaksikan Luna dan Niko bermain dengan bahagia. Niko juga terlihat begitu sangat menyayangi Luna. Sambil duduk di sebuah kursi aku mulai menanyakan keadaan kedua mantan mertua ku dan Niken.
"Papa sudah meninggal 2 tahun lalu, tepatnya 1 tahun setelah pernikahanku dan Niken," ucap Niko sambil menoleh ke arahku sebentar.
"Innalillahiwainnailaihirojiun, kenapa tidak dari waktu itu cerita kepadaku Mas," tanyaku kepada Niko.
"Karena saat itu aku masih sibuk untuk memintamu kembali kepadaku lagi, jadi aku lupa bercerita tentang kepergian Papa," jelas Niko sambil menatapku dengan tajam.
"Lalu bagaimana keadaan Niken, apa dia baik-baik saja?" tanyaku sambil mengalihkan pembicaraan.
"Niken alhamdulillah baik, saat ini dia sedang hamil muda," jawab Mas Niko kepada ku.
"Hamil! Apa bisa orang yang mengalami penyumbatan di rahim hamil?" batinku sambil sedikit terkejut.
"Alhamdulillah ya Mas akhirnya Niken bisa hamil," jawabku sambil tersenyum dengan penuh tanda tanya.
Aku bahagia mendengar kehamilan Niken. Namun, yang menjadi beban pikiranku saat ini adalah apa mungkin orang yang mengalami penyumbatan di rahimnya hamil tanpa operasi. Atau mungkin dia sudah melakukan tindakan operasi.
"Rani, Rani aku mau pamit pulang dulu, karena Mama memintaku untuk membelikan Niken beberapa buah-buahan," ucap Mas Niko sambil menyenggol tanganku hingga membuatku tersadar dari lamunanku.
"Oh iya Mas, salam buat Niken dan Mama," ucapku dengan sedikit terkejut.
"Sayang, Ayah pulang dulu nanti kalau ayah tidak sibuk kita main lagi," ucap Niko lalu mengecup kening Luna.
"Iya Yah, kalau Ayah kesini belikan Luna mainan baru lagi ya Yah," pesan Luna sambil menatap wajah sang ayah.
"Luna, tidak boleh bicara seperti itu," perintahku dengan sedikit membentaknya hingga membuat Luna langsung memanyunkan bibirnya seperti ingin menangis.
__ADS_1
"Tidak apa Ran, iya nanti Ayah akan bawakan mainan yang banyak buat Luna," ucap Niko sambil merayu putri kecilnya.
Mendengar jawaban sang ayah, Luna yang tadinya terlihat kesal kini langsung tersenyum bahagia. Aku melarang Luna meminta uang ataupun sebagainya kepada Niko bukan karena gengsi. Namun, aku tidak mau Luna terlalu bergantung kepada Niko.
"Luna, lain kali jangan bicara seperti itu di depan Ayah," jelasku kepada Luna saat Niko sudah pergi dari rumahku.
"Kenapa Bu, Luna 'kan minta sama Ayah bukan kepada orang lain," jawab Luna sambil terlihat sedikit marah.
"Bukannya Ibu tidak mengizinkan, walaupun itu Ayah Luna tapi tetap tidak sopan, lagipula Ibu juga sudah belikan banyak mainan buat Luna," jelasku sambil meminta putriku duduk di pangkuanku.
"Apa karena Ayah sudah tidak tinggal bersama kita jadi Luna tidak boleh minta apapun?" tanya Luna sambil menatap mataku.
"Suatu saat Luna akan tahu apa yang terjadi antara Ibu dan Ayah," ucapku sambil mengajak Luna masuk ke dalam kamar.
Entah kenapa malam ini tiba-tiba aku teringat akan ucapan Mas Niko tentang kehamilan Niken. Aku yang mulai penasaran dengan apa yang diucapkan Mas Niko langsung mengambil laptopku dan mencari informasi tentang penyumbatan di dalam rahim. Jawaban di internet itu sontak membuatku terkejut.
"Jika kehamilan bisa terjadi dengan proses bayi tabung atau operasi, lalu bagaimana Niken bisa hamil secara murni atau mungkin mereka melakukan bayi tabung," batinku sambil terus menatap layar laptopku.
Saat aku sedang melamun tentang kehamilan Niken. Tiba-tiba aku terkejut dengan suara ponsel yang ada di samping laptop ku. Terlihat nama Mas Niko ada di layar ponselku.
"Kenapa malam-malam begini dia menghubungiku, jika aku terima apa tidak membuat Niken marah?" ucapku sambil menatap layar ponselku.
Setelah beberapa saat aku pun menerima panggilan telepon itu. Terdengar suara Mas Niko berbicara kepadaku sambil berbisik. Hingga membuatku sulit mendengar apa yang diucapkannya.
"Halo, ada apa Mas bisa tolong sedikit besar suarami," ucapku sambil berusaha mendengar suara mas Niko.
"Apa orang hamil bisa menstruasi?" tanya Mas Niko hingga membuatku terkejut.
"Menstruasi, memangnya kenapa kamu bertanya seperti itu?" tanyaku sambil sedikit terkejut dan bingung.
"Aku tidak sengaja menemukan pembalut di tong sampah yang ada di toilet, dan sepertinya itu pembalut yang sudah terpakai," jelas Mas Niko sambil berbisik.
__ADS_1
"Pembalut?" batinku sambil berfikir tentang kehamilan Niken.