Ibu, Kenapa Aku Berbeda?

Ibu, Kenapa Aku Berbeda?
Bab 11


__ADS_3

Sejak saat itu aku tidak pernah melihat Niko datang ke rumahku. Aku berpikir jika apa yang telah aku lakukan waktu itu berhasil membuat Niko menjauh dari kehidupan ku. Hingga suatu hari saat aku sibuk dengan cerita yang aku tulis di ponsel tiba-tiba terdengar suara seseorang yang berteriak di depan rumahku. 


"Rani keluar kamu! Jangan sembunyi dari kami," teriak suara itu hingga membuatku yang ada di ruang tamu terkejut.


"Ibu itu siapa teriak-teriak?" tanya Luna yang baru saja keluar dari kamar sambil mengucek matanya yang masih ngantuk.


"Ibu juga tidak tahu, kamu masuk saja biar Ibu lihat siapa yang datang," jawabku sambil meminta Luna masuk ke dalam kamar.


Setelah mengantar Luna masuk ke dalam akupun langsung keluar ke luar rumah. Ternyata mantan mertuaku dan Niken yang sejak tadi berteriak di depan rumah. Setelah menutup pintu aku pun langsung berjalan mendekati mereka. 


"Ada apa Ibu datang kemari?" tanyaku kepada mantan mertuaku dengan penuh sopan.


"Eh dasar perempuan tidak tahu malu, berani-beraninya kamu menggoda suamiku!" bentak Niken sambil mendorong tubuhku hingga jatuh.


Saat itu aku langsung melihat sekelilingku yang ternyata sudah banyak sekali tetangga yang berdatangan. Samar-samar aku mendengar gunjingan tentang sifatku yang mereka pikir telah merebut suami Niken. Sebagian lain berbisik jika aku adalah wanita tidak tahu diri sudah diceraikan masih saja menggoda mantan suami yang sudah menikah.


"Kamu bilang saya perempuan tidak tahu malu? Kalian tunggu disini," ucapku sambil berjalan masuk ke dalam rumah.


"Ibu, siapa yang berteriak-teriak di luar, aku takut Bu," ucap Luna saat melihatku masuk ke dalam kamar dan mengambil sebuah amplop berwarna coklat.


"Luna di sini saja Ibu janji akan kembali secepatnya kembali," perintahku sambil mendudukkan Luna di tempat tidur.


"Tidak, aku mau ikut Ibu keluar," rengek Luna yang membuatku tidak tega dan akhirnya mengizinkannya untuk ikut keluar rumah.


Ini adalah pertama kali Ibu mertuaku melihat Luna. Terlihat wajah kagum dan gugup saat melihat cucu yang selama ini tidak diakuinya. Untuk menghilangkan kegugupannya Bu Sarah langsung memalingkan wajahnya dari Luna.


"Kamu tadi sempat bilang kalau aku adalah perempuan tidak tahu malu dan menggoda suamimu," ucapku sambil berdiri dihadapan Niken.

__ADS_1


"Kamu memang perempuan penggoda, dari dulu aku sudah tidak setuju dengan mu, tapi kamu terus menggoda putraku bahkan sampai kalian bercerai pun kamu terus menggodanya!" bentak Ibu mertuaku sambil menoleh ke arahku dengan tatapan tajamnya.


"Bercerai, apa putra Ibu yang bilang kalau kami sudah resmi bercerai. Di dalam amplop ini ada surat-surat penting yang membuktikan jika saya adalah istri sah dari Mas Niko," ucapku sambil melempar amplop itu ke dada Niken.


Perlahan Niken mulai membuka amplop coklat yang aku berikan. Terlihat beberapa surat penting yang membuktikan jika aku dan Mas Niko masih berstatus suami istri yang sah. Sarah yang penasaran langsung menarik surat-surat itu dari tangan menantu kesayangannya.


"Jika aku mau aku bisa menuntut kalian secara hukum, karena telah menikah tanpa seizin ku, tapi kamu tenang saja aku tidak akan melakukan itu. Kamu bisa bawa surat itu dan urus perceraianku dengan Mas Niko," ucapku sambil menatap Niken dan Sarah.


"Ini pasti pemberian Suamiku, mana mungkin orang miskin seperti kalian bisa membeli barang semahal ini," ucap Niken sambil menarik alat pendengar di telinga Luna.


"Aduh sakit Tante!" teriak Luna sambil memegangi telinganya.


"Kamu boleh menghinaku, tapi jangan pernah menyakiti Putriku," ucapku sambil memegang tangan Niken dan menatapnya tajam.


"Lepaskan tangan menantuku, atau aku akan laporkan kamu ke polisi," ancam Ibu mertuaku.


"Polisi, silahkan Ibu laporkan saya karena kebetulan saya juga akan melaporkan keluarga Ibu,"jawabku sambil berbalik mengancam Sarah.


"Niken lebih baik kita pergi dari tempat ini," ajak Sarah sambil menggandeng tangan Niken yang masih terdiam.


Akupun segera mengajak Luna masuk ke dalam kamar. Para tetangga yang sejak tadi berdiri di depan rumahku satu per satu kembali ke rumah masing-masing. Setelah mengajak Luna tidur siang aku pun langsung mengambil kembali ponsel yang sejak tadi aku letakkan di meja ruang tamu.


"Ada 3 pesan masuk," ucapku saat menyalakan layar di ponselku.


Terlihat beberapa pesan masuk yang mengatasnamakan editor salah satu aplikasi tulis berbayar. Dia mengatakan jika karyaku berhasil masuk dan mendapat tanda tangan kontrak. Aku yang saat itu terkejut langsung duduk dan mulai meneteskan air mataku.


"Ya Allah apa ini benar, sepertinya nanti sore aku harus ke rumah Bu Santi untuk bertemu Mia," batinku sambil menatap layar ponselku.

__ADS_1


***


"Assalamualaikum," ucapku sambil mengetuk rumah Bu Santi.


"Waalaikumsalam, eh Mbak Rani dan Luna. Ayo silahkan masuk," jawab Mia sambil mempersilahkan kami masuk dan duduk di sofa.


"Siapa yang datang Nak!" tanya Bu Santi sambil berteriak dari dalam dapur.


"Mbak Rani sama Luna Ma," jawab Mia dengan sedikit berteriak.


Tidak berapa lama Bu Santi pun keluar dengan membawa nampan berisi beberapa gelas minuman dan snack untuk Luna. Setelah meletakkan nampan itu Bu Santi langsung duduk di samping putriku. Beliau langsung membantu Luna mengupas snack yang ada di hadapan kami.


"Ada apa Mbak Rani datang kemari, bukannya hari ini Mbak Rani libur?" tanya Mia dengan penasaran.


"Iya Mbak, saya kesini mau menanyakan pesan singkat yang saya terima tadi siang," ucapku sambil memberikan ponsel kepada Mia.


"Pesan singkat, saya lihat ya Mbak," izin Mia sambil mulai membuka ponsel yang aku berikan.


"Pesan apa Mi?" tanya Bu Santi kepada Mia.


"Alhamdulillah Mbak, Naskah yang Mbak kirim ke salah satu platform online di terima, saya cek dulu di aplikasinya ya," jawab Mia dengan perasaan bahagia.


"Alhamdulillah, akhirnya kamu bisa mendapat kehidupan yang lebih baik Rani," ucap Bu Santi sambil mengusap pundakku.


"Alhamdulillah Bu," jawabku dengan mata yang mulai berkaca-kaca.


Sambil menunggu Mia yang sedang mengecek aplikasi menulis ku. Bu Santi mempersilahkan ku dan Luna untuk mencicipi minuman yang disuguhkan. Saat aku menikmati minuman yang ada di hadapanku, Bu Santi tiba-tiba menanyakan tentang alat pendengaran yang biasa terpasang di telinga Luna.

__ADS_1


"Rani, alat pendengaran Luna kemana kok tidak ada," tanya Bu Santi sambil memperhatikan kedua telinga Luna.


"Alat itu …." aku terdiam sejenak karena muncul rasa ragu untuk menjawab pertanyaan Bu Santi. 


__ADS_2