Ibu, Kenapa Aku Berbeda?

Ibu, Kenapa Aku Berbeda?
Bab 19


__ADS_3

Hari itu aku benar-benar seperti orang gila. Aku dibantu Mia dan Bu Santi mencari Luna di seluruh kampung. Hingga saat kami sibuk mencari tiba-tiba Mia yang saat itu berpencar langsung berteriak.


"Mama, Mbak Rani! Sini itu Luna ada di sana," teriak Mia hingga membuat ku dan Bu Santi terkejut dan berlari ke arah Mia.


"Di mana Luna?" tanya Bu Santi dengan sangat khawatir.


"Itu Ma, lihat dia sedang makan di kios ayam itu," jawab Mia sambil menunjuk ke seberang jalan.


"Ya Allah kenapa dia bisa ada di situ," ucapku seolah tidak percaya.


Kami bertiga pun langsung berjalan ke arah kios ayam tersebut. Sambil menangis aku langsung memeluk Luna dengan erat. Tanpa melihat siapa yang mengajaknya ke tempat itu.


"Ya Allah Nak, kamu sudah membuat Ibu khawatir," ucapku sambil menangis dan memeluk tubuh putri semata wayangku.


"Rani, Bu Santi," terdengar suara seorang laki-laki memanggil namaku dan Bu Santi.


"Roy, kenapa kamu bisa ada di sini juga," tanyaku yang mulai penasaran.


"Maaf Rani tadi tidak sengaja aku melihat Luna menangis sambil berjalan, saat aku tanya dia mau mencarimu karena perutnya lapar makanya aku langsung membawanya kemari," jelas Roy kepadaku sambil meminta maaf.


"Maafkan Ibu ya Nak, lain kali Ibu tidak akan meninggalkanmu terlalu lama," ucapku sambil berlutut dan mencium kening Luna.


"Nak Roy, terima kasih sudah menjaga Luna, sebenarnya selama ini Rani bekerja di rumah saya dan biasanya Luna selalu ikut, tapi akhir-akhir ini dia menolak untuk ikut," jelas Bu Santi sambil berterima kasih kepada Roy.


"Maaf ya Roy kalau Luna sudah merepotkanmu," ucapku sambil melepaskan pelukan ku dari tubuh putri kecilku.


"Tidak apa-apa, saya suka bisa makan bersama Luna apalagi dia anaknya sangat penurut," jawab Roy sambil mengusap pipi Luna.


"Luna ayo ucapkan terima kasih kepada Om Roy, setelah itu kita pulang ke rumah," ucapku kepada Luna.

__ADS_1


"Terima kasih Om, Luna pamit dulu ya," pamit Luna sambil mencium tangan Roy.


"Iya Sayang Lain kali kita makan bersama lagi ya," ucap Roy sambil tersenyum.


Aku, Bu Santi dan Mia pun langsung pamit pulang kepada Roy. Setelah sampai di rumah aku pun meminta Luna untuk segera mandi. Sambil tersenyum aku pun mengajak Luna untuk duduk di tempat tidur Dan sedikit memberikan nasehat kepadanya.


" Luna, lain kali tidak boleh seperti itu ibu dan yang lainnya cemas, kalau sampai terjadi apa-apa Bagaimana, " ucapku kepada Luna sambil mengusap rambutnya dengan lembut.


" Iya Bu, Luna minta maaf dan Luna janji tidak akan mengulanginya lagi, " jawab Luna sambil menoleh ke arahku.


" Yaudah sekarang kamu istirahat," ucapku sambil meminta Luna berbaring di tempat tidur.


Setelah Luna tertidur aku segera melanjutkan kegiatanku yang tertunda. Aku mulai membersihkan rumah dan mencuci seluruh pakaianku. Dari dulu aku hanya bisa mengerjakan pekerjaan rumah pada malam hari, karena siang hari aku harus bekerja mencari nafkah untuk kebutuhan hidup kami berdua.


***


Keesokan harinya aku melakukan kegiatanku seperti biasa. Namun, kali ini aku tidak mengizinkan Luna untuk tinggal di rumah sendirian. Karena aku tidak ingin kejadian kemarin terulang kembali.


"Sebentar ya Nak, Ibu bersih-bersih dulu kamu tidur di sofa ruang tamu saja dulu," ucapku sambil mengusap kepala putriku.


"Tapi nanti kalau aku tertidur bagaimana Ibu akan mengajakku pulang?" tanya Luna yang terlihat tidak mau merepotkanku.


"Nanti Ibu akan bangunkan kamu, sekarang kamu tidur di sofa dulu ya," perintahku sambil mencium keningnya.


Sebenarnya lelah harus memerankan dua karakter sekaligus. Harus menjadi Ayah dan juga Ibu untuk putri semata wayangku. Namun, aku harus bisa bertahan demi masa depan Luna.


"Sabar ya Nak, semua ini Ibu lakukan untuk kebaikan masa depanmu," batinku sambil terus melihat Luna yang berjalan ke arah ruang tamu.


Setelah menyelesaikan semua pekerjaan yang ada di rumah Bu Santi. Aku segera pamit untuk segera pulang karena hari sudah mulai sore. Luna yang saat itu masih tertidur pulas langsung aku peluk di dalam gendonganku.

__ADS_1


"Ibu, kita sudah sampai di rumah?" tanya Luna yang tiba-tiba terbangun dari tidurnya saat aku menidurkannya di tempat tidur.


"Iya, kamu mau tidur lagi atau mau mandi sore?" tanyaku kepada Luna yang masih terlihat malas karena baru sadar dari tidurnya.


"Aku mau makan Bu, karena perutku sudah lapar," jawabnya sambil mengucek matanya.


"Kalau begitu kamu mandi dulu, biar Ibu buatkan ayam goreng kesukaanmu," perintahku sambil menggandeng tangan Luna dan mengantarnya ke kamar mandi.


Setelah menyiapkan makan buat Luna aku langsung masuk ke dalam kamar. Segera aku mengambil kaleng biskuit yang aku simpan di dalam lemari bajuku. Saat aku membuka kaleng tersebut terlihat banyak sekali uang di dalam kaleng itu hingga hampir memenuhi kaleng itu.


"Alhamdulillah, sepertinya uang ini bisa aku jadikan modal usaha ku," ucapku sambil melihat uang yang ada di dalam kaleng tersebut.


 "Ibu, aku sudah selesai mandi," tiba-tiba Luna masuk ke dalam kamar hingga mengagetkanku.


"Iya, ayo sini Ibu pakaikan baju dulu," perintahku sambil meminta Luna mendekat ke arahku.


"Itu apa Bu?" tanya Luna sambil menunjuk ke arah kaleng itu.


"Itu isinya uang tabungan Ibu, sebentar lagi kita bisa buka usaha sendiri di rumah jadi Luna tidak perlu capek untuk menunggu Ibu kerja di rumah Bu Santi," jelasku sambil memakaikan baju kepada putri kecilku.


"Lalu kapan aku akan sekolah?" tanyanya kembali.


"Kamu masuk sekolah menunggu tahun ajaran baru yang akan dimulai 3 bulan lagi, tapi kamu tenang saja Ibu sudah mendaftarkan mu sekolah," ucapku sambil tersenyum.


"Hore aku sekolah, terima kasih ya Bu!" teriak Luna penuh dengan bahagia sambil memeluk dan menciumku.


"Ya Allah terima kasih atas rezeki yang selalu engkau berikan kepada kami," batinku sambil tersenyum di hadapan Luna. 


Awalnya memang berat untukku menjadi seorang single parent dengan satu orang anak. Ditambah lagi merawat seorang bayi yang baru lahir seorang diri tanpa adanya suami dan orang tua. Namun, kini aku bersyukur karena perlahan-lahan Allah mulai mengganti air mataku dengan kebahagiaan dan sebuah senyuman. 

__ADS_1


Aku pernah berada di titik terendah hingga membuatku hampir gila. Bisikan setan serta emosi yang tak terkendali sempat membuatku ingin mengakhiri hidupku dan Luna. Namun, semua itu seakan hilang saat aku mulai mengambil air wudhu dan menjalankan sholat untuk pertama kalinya.


"Ya Allah sekali lagi terima kasih, karena Engkau telah mengeluarkan ku dari keterpurukan ku selama ini," batinku sambil memejamkan mata.


__ADS_2