Ibu, Kenapa Aku Berbeda?

Ibu, Kenapa Aku Berbeda?
Bab 24


__ADS_3

“Lebih baik kamu keluar karena aku ingin beristirahat sebentar," jawab Niko sambil membelakangi Niken.


"Tidak aku tidak akan pergi sebelum kamu menjawab pertanyaanku!" bentak Niken sambil menarik pundak suaminya.


"Aku bilang keluar dari kamarku sekarang! Jangan sampai kamu  memancingku untuk bertindak kasar kepadamu," bentak Niko sambil berdiri di hadapan Niken yang terkejut. 


 


***


Disaat Niko dan istrinya sedang diuji kesabaran oleh Allah. Aku justru menikmati kesendirianku sebagai seorang penulis online dan seorang single parent. Pagi itu saat aku sedang sibuk melayani beberapa tamu di warung nasiku tiba-tiba muncul seorang laki-laki yang sangat aku kenal.


"Assalamualaikum," ucap Roy yang sudah berdiri di hadapanku. 


"Waalaikumsalam," jawabku dengan sedikit terkejut saat melihat kedatangan Roy yang tiba-tiba.


"Rani aku pesan nasi campur dengan lauk ayam," ucap Roy sambil menunjuk sebuah ayam goreng yang ada di dalam etalase.


"Mau dibungkus atau makan disini?" tanya ku dengan ramah.


"Makan disini saja, oh ya sekalian teh hangatnya satu ya," jawab Roy sambil duduk di sebuah kursi.


Saat aku sedang sibuk menyiapkan pesanan Roy. Secara tidak sengaja aku melirik ke arah laki-laki yang aku kenal sebagai sahabat masa kecilku dulu. Seorang sahabat yang selalu membantuku disaat banyak anak menghina keluargaku yang saat itu serba kekurangan.


"Om Roy!" teriak Luna yang saat itu baru keluar dari dalam rumah. 


"Hai Cantik, apa kabar," jawab Roy sambil mencium kening Luna.


"Baik, Om Roy mau sarapan ya?" tanya Luna sambil duduk di kursi samping Roy.


"Iya Cantik, karena Om belum makan jadi Om putusin makan di tempat Luna sekalian mau cicipi seenak apa masakan Ibu Luna," ucap Roy sambil mengangkat tubuh Luna dan mendudukkannya di sebuah kursi.


"Ehm jangan salah, masakan Ibu enak deh Om. Luna yakin Om Roy pasti ketagihan," Luna sambil bersemangat. 


"Ah masa, Om tidak percaya," jawab Roy sambil melirik ke arahku.

__ADS_1


"Ehm dibilangin malah nggak percaya," ucap Luna sambil terlihat cemberut.


Saat aku perhatikan dari kejauhan Luna terlihat begitu akrab dengan Roy, hingga membuatku tertawa saat melihat tingkah mereka. Setelah selesai menyiapkan makanan dan minuman yang di pesan Roy. Aku pun langsung segera mengantarnya ke meja sahabatku itu.  


"Luna kamu masuk kedalam dulu ya, karena Om Roy mau makan dulu," ucapku sambil meletakkan pesanan Roy diatas meja.


"Nggak mau ah, Luna mau tetap disini sama Om Roy," jawab Luna dengan memasang wajah kesal.


"Sudah tidak apa-apa aku juga senang bisa ditemani Nona cantik makan," jawab Roy sambil mengusap rambut panjang Luna.


Setelah mendengar jawaban Roy aku pun langsung menuju ke etalase untuk menyiapkan pesanan untuk pembeli yang lain. Luna adalah anak yang serba ingin tahu, segala hal yang membuatnya penasaran pasti akan ditanyakan. Sekarang saatnya Roy yang sibuk menjawab semua pertanyaan Luna sambil menikmati makanannya.


"Bagaimana Om, masakan Ibu enak 'kan?" tanya Luna setelah Roy memasukkan suapan pertama di mulutnya.


"Ehm enak banget, ini pertama kalinya Om makan masakan seenak ini," ucap Roy sambil tersenyum.


"Benar 'kan, Luna suka masakan Ibu. Tapi dulu sebelum Ibu jualan dan banyak uang setiap hari Luna hanya makan telur kadang juga hanya nasi sama kecap," ucap Luna sambil memainkan rambut boneka barbie yang ada di tangannya.


"Memang kenapa Ibu tidak masak?" tanya Roy penasaran.


Aku yang mendengar percakapan Roy dan Luna sempat terkejut mendengar cerita putriku. Ada rasa sedih dan penyesalan karena belum mampu memberikan kebahagiaan untuk Luna. Roy yang sejak tadi mendengar ucapan Luna langsung terdiam dan meletakkan sendoknya.


"Tapi sekarang Ibu sudah banyak uang 'kan?" tanya Roy sambil tersenyum dan menoleh ke arah Luna. 


"Iya, sejak Ibu nulis di laptop Luna jadi bisa membeli apapun termasuk makan masakan Ibu setiap hari," jawab Luna sambil tersenyum gembira.


"Nulis?" ucap Roy dengan sedikit bingung.


"Luna, bukankah sekarang ada jam kartun kesukaanmu," ucapku seolah mengingatkan Luna tentang acara favoritnya.


"Oh iya, Om Luna masuk dulu ya …." ucapnya sambil turun dari kursi dan berlari ke arah ruang tamu.


"Apa kamu sudah lama hidup sendiri?" tanya Roy yang mulai penasaran dengan kehidupanku.


Roy memanglah sahabat kecilku, sejak kami duduk di bangku sekolah dasar dia selalu melindungiku dari banyaknya hinaan yang diberikan teman-teman seusia kami waktu itu. Namun, sejak kedua orang tuaku meninggal dan saat itu aku yang hanya lulusan SMP memutuskan untuk meninggalkan kampungku dan mencari pekerjaan di kota. Sejak saat itu aku tidak lagi bertemu dengannya, bahkan saat aku kembali ke kampung ini bersama Niko pun Roy tidak pernah terlihat. 

__ADS_1


"Sejak Luna berusia satu minggu Mas Niko sudah meninggalkan kami," jawabku sambil tersenyum kecil.


"Maaf kalau aku lancang, kalau boleh aku tahu kenapa Niko meninggalkanmu dan Luna begitu saja," tanya Roy sambil menoleh ke arahku.


Sebenarnya aku tidak mau membuka atau pun mengingat kisah kelamku bersama Niko. Hanya saja karena aku mengingat kebaikan Roy kepadaku jadi aku pun mulai bercerita tentang apa yang sebenarnya terjadi. Kisah demi kisah aku jelaskan kembali, luka yang sudah mengering harus kembali aku buka. 


"Kehidupan miskin itulah yang membuatnya memutuskan untuk kembali kepada keluarganya yang memang memiliki segalanya," ucapku sambil mengusap air mataku.


"Maaf jika aku sudah membuatmu kembali mengingat apa yang telah terjadi," ucap Roy sambil menatapku.


"Tidak apa-apa, kamu sendiri apa sudah berumah tangga?" tanyaku kepada Roy sambil mengusap air mataku dan tersenyum kecil.


"Belum, aku kembali kesini hanya untuk menemui orang yang sejak dulu pernah ada di hatiku tapi sampai saat ini aku belum bisa mengungkapkan perasaanku kepadanya," jawabnya sambil tersenyum dan menunduk.


"Kenapa?" tanyaku yang mulai penasaran dengan apa yang diucapkan sahabat kecilku.


"Entahlah mungkin karena aku terlalu takut untuk mengatakan semua itu," jawabnya sambil tersenyum kepadaku.


"Lalu apa pekerjaanmu saat ini?" tanyaku kepada Roy karena yang aku lihat dia tidak pernah melakukan banyak kegiatan kecuali ke masjid.


"Aku membuka sebuah restoran kecil di kota, karena aku tahu perempuan yang aku cintai sangat menginginkan itu sejak dahulu," jelasnya sambil menoleh ke arah meja.


Mendengar ucapan Roy aku langsung teringat pada salah satu ucapanku kepadanya. Saat itu kami yang masih berusia 13 tahun sedang duduk di sebuah sungai kecil di kampung ini. Aku ingat benar apa yang dia katakan saat itu.


"Rani jika sudah dewasa apa yang kamu inginkan," tanya Roy sambil bermain air.


"Aku ingin punya sebuah restoran untuk membahagiakan orang tuaku," jawabku sambil turun ke sungai dengan dibantu Roy.


"Rani, kamu kenapa melamun," ucapan Roy seketika membuatku tersadar dari lamunanku.


"Oh tidak, aku hanya mendengarkan ceritamu," jawabku sambil terkejut.


"Ya Allah Rani kenapa kamu bisa berpikir jika usahanya adalah untukmu sedangkan di kampung ini begitu banyak wanita yang lebih darimu," batinku sambil menggelengkan kepala ku dengan kecil.  


 

__ADS_1


__ADS_2