
Setelah beberapa lama aku berbincang-bincang dengan Bu Santi. Tiba-tiba Mia keluar dari kamarnya dengan membawa sebuah benda di tangannya. Sambil tersenyum ramah Mia memberikanku sebuah ponsel yang dia bawah dari kamarnya.
"Sementara Mbak Rani belajar pake ponselku saja," ucap Mia sambil tersenyum ramah dan memberikan ponselnya kepadaku.
"Tapi Mbak, bagaimana kalau Mbak Mia butuh ponsel ini," jawabku sambil menerima ponsel dari tangan Mia.
"Ponsel itu lama tidak terpakai, jadi daripada dia tidak ada manfaatnya jadi lebih baik saya kasih Mbak Rani, siapa tahu dia bisa lebih memberi banyak berkah buat Mbak Rani dan Luna," jawabnya sambil mengusap rambut Luna yang sedang menikmati snack di sampingnya.
"Mia benar, siapa tahu kamu berbakat menulis, jadi banyak yang baca nanti Luna bisa beli banyak snack ya Sayang," jawab Bu Santi sambil tersenyum kepada Luna.
"Ya Allah, terima kasih ya Bu, Mbak semoga apa yang saya lakukan saat ini bisa merubah nasib kami kedepan," ucapku sambil menahan air mata.
"Ya sudah kamu belajar saja sama Mia, biar Luna saya yang temani di halaman depan," ucap Bu Santi sambil mengajak Luna ke teras rumahnya.
Pertama Mia mulai mengatur ponsel yang aku gunakan untuk belajar membuat cerita. Dia juga mulai membuat akun email dan mengunduh beberapa aplikasi yang dibutuhkan. Termasuk aplikasi pesan singkat berwarna hijau.
"Mbak ini kok ada nomor telepon Mas Niko," tanyaku kepada Mia saat aku melihat nomer Niko ada di aplikasi itu.
"Itu tandanya dia menggunakan aplikasi yang sama untuk mengirim pesan singkat, ini 'kan nomor lama Mbak Rani jadi pasti Mbak Rani menyimpan nomor Mas Niko," jelas Mia sambil memberikan ponsel itu kepadaku.
Aku memang masih menyimpan nomor lama Mas Niko. Namun, aku tidak pernah menghubungi nomor itu secara langsung. Karena aku pikir tidak ada gunanya aku menghubungi laki-laki yang menurutku tidak bertanggung jawab.
"Mbak Rani mau buat judul cerita apa?" tanya Mia yang ternyata membuatku terkejut.
"Judul, harus pakai judul ya Mbak," jawabku sambil terlihat bingung.
"Iya, Judul itu yang akan membuat orang mudah mencari cerita kita di aplikasi itu," jawab Mia sambil menatap layar laptopnya.
__ADS_1
"Kalau aku buat cerita tentang kehidupan pribadi apa boleh Mbak," tanyaku kepada Mia.
"Boleh, bagus itu Mbak," jawab Mia sambil terlihat berantusias.
"Kalau begitu saya mau kasih judul Ibu, Kenapa Aku Berbeda?," jawabku sambil menatap ke arah tembok.
"Kenapa judulnya itu Mbak?" tanya Mia sambil menatapku dengan tatapan bingung.
"Beberapa bulan yang lalu Luna pernah bertanya hal itu kepada saya Mbak," jawabku sambil menunduk.
"Luna, kenapa dia bertanya seperti itu Mbak," tanya Mia penasaran.
"Karena kondisi telinganya yang tidak mampu mendengar, dan karena tidak ada sosok Ayah di sampingnya, jadi membuat beberapa temannya menghinanya dengan sebutan anak haram," jawabku sambil mulai meneteskan air mata.
"Ya Allah, apa karena itu Mbak Rani pergi ke kota selama hampir 1 tahun," tanya Mia sambil memeluk pundakku.
"Iya Mbak, tapi ternyata apa yang saya lakukan salah, Mas Niko ternyata sudah menikah dengan perempuan kaya dan cantik," jawabku sambil menangis.
"Kalau sudah bagaimana Mbak," tanyaku bingung.
"Nanti saya bantu update di aplikasi berbayarnya Mbak, semoga cerita Mbak Rani bisa membawa rejeki buat Luna dan Mbak Rani ya," jawab Mia sambil tersenyum ramah.
Aku pun mulai menulis cerita demi cerita di setiap perjalanan hidupku. Pertemuanku dengan Mas Niko dan istri barunya. Serta penghinaan dari ibu mertua ku saat aku datang ke rumahnya.
Saat aku menulis kisah demi kisah di ponsel yang Mia pinjamkan tanpa sadar hari sudah mulai sore. Aku langsung mengembalikan ponsel itu kepada Mia dan segera pamit untuk pulang. Sambil berdiri dari tempat duduknya Mia menolak ponsel dari tangan ku.
"Mbak bawa saja ponselnya, 'kan ponsel itu sudah saya berikan kepada Mbak Rani," jawab Mia sambil mendorong ponsel itu ke arahku.
__ADS_1
"Ya Allah, terima kasih ya Mbak, terima kasih atas bantuannya," jawabku sambil menahan air mataku.
"Iya sama-sama, oh iya kalau ada yang mau ditanyakan ke saya kirim saja pesan melalui aplikasi ini, lalu nanti Mbak pencet nomer saya dan tulis apa yang akan Mbak tanyakan," jelas Mia sambil membimbingku.
"Iya Mbak, sekali lagi terima kasih ya," jawabku sambil sedikit membungkukkan punggung.
Akupun langsung berjalan ke arah teras untuk menemui Bu Santi yang sejak tadi menemani Luna bermain. Luna terlihat begitu akrab dan nyaman saat duduk bersama Bu Santi sambil menikmati snack yang ada di tangannya. Bu Santi yang saat itu sedang menyuapi Luna dengan snack anak-anak langsung terkejut.
"Rani, sudah selesai belajarnya?" tanya Bu Santi sambil berdiri.
"Alhamdulillah sudah Bu, maaf ya Bu kalau Rani sudah merepotkan," ucapku sambil menggandeng tangan putri kecilku.
"Tidak, Ibu sudah lama mengenal almarhum orang tuamu, bahkan dari kamu belum lahir saya sudah bersahabat dengan Ibumu, jadi jangan sungkan kalau kamu butuh apa-apa," jawab Bu Santi sambil memberikan snack kepadaku.
"Sekali lagi terima kasih ya Bu, kalau begitu saya pamit pulang dulu. Assalamualaikum," ucapku sambil berlalu meninggalkan rumah Bu Santi.
"Waalaikumsalam," jawab Bu Santi dengan singkat.
Setelah memandikan Luna dan menyuapinya, aku langsung mengajaknya tidur. Karena aku pikir tadi siang dia tidak tidur jadi pasti tubuhnya sudah lelah karena seharian bermain. Setelah Luna tertidur aku mulai mengambil ponselku untuk melihat aplikasi-aplikasi yang ada di ponsel ku.
Pertama aku membuka aplikasi pesan singkat berwarna hijau. Terlihat tulisan status di aplikasi itu, karena penasaran aku pun mencoba membuka bagian status itu. Aku melihat nama Mas Niko menulis sebuah pesan di bagian tersebut.
"Apakah masih ada kesempatan kedua untuk penghianat sepertiku?" tulis Mas Niko di status itu.
Aku yang belum tahu tentang aplikasi tersebut merasa bingung dengan apa yang aku baca. Muncul sebuah pertanyaan dari pikiranku tentang status yang baru saja aku baca. Apa maksud dari tulisan Mas Niko.
"Kenapa aku bisa baca pesan Mas Niko, dan kenapa dia mengirim pesan singkat kepadaku," batinku sambil menekan tombol keluar dan meletakkan ponsel ku di atas meja.
__ADS_1
Semalaman aku tidak dapat tidur karena memikirkan tulisan mantan suamiku. Apa mungkin laki-laki seperti dia bisa mencintai seseorang dengan tulus. Atau semua itu hanya ucapan manisnya yang dia berikan kepadaku.
"Ya Allah, apa mungkin aku harus kembali kepada laki-laki yang sudah meninggalkanku," batinku yang saat itu sedang dihantui rasa kebimbangan.