
Saat Niko sedang duduk termenung di ruang tamu tiba-tiba sang asisten rumah tangga datang dengan membawa secangkir kopi dan teh untuk Niko dan tamunya. Melihat kedatangan asisten rumah tangganya datang Niko mulai bertanya tentang siapa tamu yang mencarinya hari ini. Mendengar jawaban asisten rumah tangganya Niko terkejut.
"Tamunya sudah pulang Den," tanya Mbok saat ada di ruang tamu.
"Mbok siapa yang tadi datang mencariku?" tanya Niko kepada sang asisten rumah tangganya.
"Kalau tidak salah namanya Rani," jawab si mbok sambil mengingat.
"Rani, ada apa dia datang kesini," batin Niko sambil melamun.
"Den, ini kopinya mau di letakkan sini atau saya bawa ke dapur," tanya Mbok hingga membuat Niko terkejut.
"Oh kopinya letakkan sini saja Mbok," jawab Niko sambil terkejut.
Setelah Luna sembuh aku memutuskan untuk pulang ke kampung. Serta memutuskan untuk melupakan semua kejadian yang telah terjadi selama ini. Setelah memberi pengertian kepada Luna kami pun berangkat.
"Sayang, besok kita pulang ke desa ya," ucapku sambil memegang pundak Luna.
"Apa Bu?" tanya Luna yang ternyata tidak mendengar ucapannya.
"Besok kita pulang ke Desa ya," ucapku sambil sedikit berteriak di telinganya.
"Lalu Ayah bagaimana," tanya Luna yang langsung membuatku terdiam.
"Luna, Ayah tidak bisa pulang dengan kita," jawabku sambil memangku tubuh putri kecilku.
"Kenapa Bu, apa Ayah marah sama Luna karena tidak bisa mendengar dengan jelas," tanya Luna dengan penasaran.
"Tidak Nak, Ayah masih ada pekerjaan yang harus diselesaikan, tapi Ayah janji jika pekerjaannya selesai dia akan menjemput kita di desa," ucapku sambil tersenyum.
Keesokan harinya saat aku sedang bersiap-siap untuk berangkat ke desa. Tiba-tiba terdengar suara sebuah mobil berhenti di depan rumah kontrakanku. Awalnya aku pikir itu adalah travel yang akan mengantarku dan Luna.
"Luna! Ayo Nak travelnya sudah datang," teriakku kepada Luna yang masih ada di dalam kamar.
"Iya Bu," jawab Luna sambil berlari menghampiriku.
"Ayah!" teriak Luna saat aku mulai membuka pintu.
__ADS_1
"Luna, sini peluk Ayah," ucap Niko sambil berjongkok di hadapan Luna.
Mendengar ucapan sang ayah Luna langsung berlari memeluk Niko. Terlihat sebuah kerinduan yang begitu besar dari pelukan Luna dan Niko. Hingga tanpa terasa aku mulai meneteskan air mataku.
"Ayah, hari ini Luna sama Ibu mau pulang ke desa," ucap Luna sambil melepaskan pelukannya.
"Oh iya," jawab Niko sambil sedikit terkejut.
"Luna sini Sayang," perintahku sambil sedikit berteriak.
"Ada apa Bu," tanya Luna sambil menatap wajahku.
"Kamu masuk dulu ya, Ibu mau bicara sama Ayah," perintahku kepada Luna.
Luna pun masuk ke dalam kamarnya dan menutup pintunya. Akupun meminta Mas Niko masuk ke dalam rumah dan mempersilahkannya duduk di sebuah kursi kayu yang sudah terlihat keropos dimakan usia. Aku mulai menjelaskan kepada Mas Niko tentang pernikahan kami.
"Aku harap kamu bersedia mengurus surat perceraian kita dengan baik-baik," ucapku sambil memberikan sebuah amplop coklat kepada laki-laki yang ada dihadapanku.
"Tidak, sampai kapanpun aku tidak akan menceraikanmu," ucapnya sambil melempar amplop itu ke lantai.
"Kamu jangan egois Mas, biarkan aku dan Luna bahagia tanpamu," jawabku dengan nada kesal.
"Aku, kamu bilang aku yang memisahkanmu dari Luna! Justru kamu yang meninggalkan kami bertahun-tahun yang lalu dan sekarang kamu bilang aku yang memisahkan kalian," jawabku sambil berdiri.
"Tapi paling tidak biarkan aku menebus kesalahanku 5 tahun lalu kepada kalian," ucapnya sambil memegang tanganku.
"Menebus kesalahan, dengan apa? Apa dengan tetap menjadi istrimu, sedangkan kamu sudah memiliki istri yang lain," tanyaku sambil melepaskan tangan Mas Niko.
"Aku janji akan berbuat adil kepada kalian, aku masih sangat mencintaimu Rani, selama ini aku selalu dihantui rasa bersalah kepadamu dan putri kita," ucap Niko sambil memohon.
"Adil, apa istrimu mau berbagi suaminya denganku! Jika kamu masih mencintaiku lalu kenapa kamu menikahiku," bentakku sambil mulai menangis dan duduk disofa.
"Aku tidak ada pilihan lain, orang tuaku mengancam akan menyakitimu dan Luna jika aku masih bersama kalian," jelasnya sambil duduk di bawah kakiku.
"Lalu kenapa kamu tetap bersamaku, apa kamu tidak takut mereka akan semakin menyakiti ku," jawabku sambil menatap Mas Niko.
"Aku pastikan mereka tidak akan menyakiti kalian, karena aku yang akan melindungi kalian," jawabnya sambil menggenggam tanganku.
__ADS_1
"Kenapa tidak dari dulu kamu berfikir seperti itu, kenapa harus sekarang setelah kamu meninggalkan kami bertahun-tahun dan setelah kamu menikah dengan Niken," jawabku sambil melepaskan genggaman tangan Niko.
"Aku mohon beri aku kesempatan untuk menebus kesalahan ku," ucap Niko sambil terus memohon.
"Aku minta kamu keluar dari rumah ini, dan jangan pernah temui aku lagi," ucapku sambil membuka pintu rumah ku.
"Tidak aku tidak akan pergi dari sini sebelum kamu memberi kesempatan kepadaku," ucap Niko sambil tetap berdiri di tempatnya.
"Pergi, aku bilang cepat kamu pergi dari sini Mas!" bentakku sambil berteriak hingga membuat Luna keluar dari kamarnya.
"Ayah!" teriak Luna sambil berlari memeluk sang ayah.
"Luna lepaskan, biarkan Ayah pergi," perintahku sambil menarik tangan Luna.
"Tidak, Luna mau sama Ayah," rengek Luna sambil menangis.
"Lepaskan dia Nak, kita harus segera pergi," jawabku sambil terus menarik tangan Luna.
"Tidak mau, Luna mau sama Ayah," jawab Luna sambil memeluk ayahnya dengan erat.
"Luna, lepaskan!"teriakku sambil membentak Luna dan menarik tubuhnya dengan keras.
"Rani! Apa yang kamu lakukan, dia masih anak-anak," teriak Niko hingga membuatku menoleh ke arahnya.
"Apa hakmu melarangku untuk mendidik Luna, dia adalah putriku jadi aku berhak mengaturnya," jawabku sambil menatap wajah Niko.
"Tapi aku juga Ayahnya!" jawab Niko sambil menggandeng tangan Luna.
"Ayah! Kamu bilang kamu Ayahnya, dimana saat dia baru dilahirkan, apa kamu memikirkannya saat kamu meninggalkan kami 5 tahun yang lalu," jawabku sambil berteriak.
"Baik aku akui jika aku memang salah, tapi aku mohon biarkan aku mengantar kalian sampai ke desa, setelah itu aku janji tidak akan mengganggu kalian lagi," ucap Niko yang membuatku langsung terdiam.
Aku hanya diam mendengar ucapan Mas Niko sambil terus menggandeng tangan Luna. Sambil tersenyum Mas Niko mulai mendekati Luna dan memasangkan alat pendengaran di telinga kanan sang putri. Dia berharap dengan itu Luna bisa mendengar dengan jelas setiap ucapan orang lain kepadanya.
"Luna, Ayah mau antar Luna sama Ibu ke kampung, apa kamu mau," ucap Niko dengan lembut sambil duduk dihadapan Luna.
"Ibu, boleh ya Ayah antar kita ke kampung, biar Luna bisa kenalkan Ayah kepada teman-teman," ucap Luna sambil menoleh ke arahku yang masih berdiri mematung di sampingnya.
__ADS_1
"Aku mohon izinkan aku untuk mengantar kalian sekali ini saja, aku janji setelah itu aku tidak akan mengganggu kalian lagi," bujuk Niko kepadaku.