
Niko mulai menceritakan semuanya kepada ku tentang apa yang dialami Niken saat ini. Saat dia sedang menceritakan tentang kondisi Niken. Tiba-tiba terdengar suara ponsel yang ada di dalam saku celananya.
"Halo, ada apa Ma?" tanya Niko saat panggilan telepon sudah tersambung.
"Kamu dimana Nak?" terdengar suara Sarah yang sedang panik.
"Aku ada di rumah Rani, memangnya kenapa Mama menangis," jawab Niko sambil terlihat panik.
"Lebih baik kamu pulang sekarang, Mama tunggu kamu di rumah," jawab sang mama sambil menangis.
"Baik aku akan pulang sekarang juga," ucap Niko sambil menutup ponselnya.
"Ada apa Mas?" tanyaku setelah Niko menutup panggilan ponselnya.
"Aku tidak tahu, yang pasti aku harus pulang sekarang," jawabnya sambil berdiri dan berjalan dengan terburu-buru.
"Apa kamu tidak pamit kepada Luna dulu!" teriakku saat Niko berjalan keluar.
"Kamu sampaikan saja kepadanya aku akan segera kembali lagi," jawabnya sambil berteriak dan mulai masuk ke dalam mobil.
"Sebenarnya apa yang sudah terjadi kepada Anita," batinku sambil melihat mobil Niko yang mulai berjalan meninggalkan halaman rumahku.
Setelah Niko meninggalkan rumahku, aku pun mulai melanjutkan aktivitasku. Membersihkan warung makan dan melayani beberapa tamu yang datang. Di kediaman Sarah sudah berkumpul beberapa orang dan telah terpasang sebuah bendera kuning di halaman rumahnya.
"Ada apa Ma, kenapa ada bendera kuning, serta kenapa banyak orang berkumpul di rumah ini?" tanya Niko dengan kebingungan.
"Maafkan Mama, Mama sudah gagal menjadi seorang nenek yang baik," jawab Sarah sambil menangis.
"Apa maksud Mama, mana Niken kenapa dia tidak ada disini?" tanya Niko sambil mengarahkan pandangannya untuk mencari Niken.
"Kamu yang sabar ya Nak, Istrimu saat ini ada di rumah sakit dia mengalami pendarahan dan kami baru saja memakamkan putramu," jawab Sarah sambil menangis.
__ADS_1
"Putra, maksud Mama calon anakku laki-laki?" tanya Rudi seolah meyakinkan apa yang telah dia dengar.
"Iya Nak, tapi sekarang dia sudah tidak ada kamu benar pendarahan itu adalah salah satu tanda keguguran," jawab Sarah sambil mengusap lengan Niko.
"Ya Allah," ucap Niko sambil terduduk lemas di lantai.
Air mata Niko seketika jatuh di pipinya, dia tidak menyangka Allah akan mengambil putranya secepat ini. Beberapa saat Niko menangis dan terduduk lemas sambil termenung. Setelah merasa cukup tenang, Niko langsung berdiri dan menanyakan keadaan Niken kepada sang Mama.
"Niken masih di rumah sakit, kondisinya masih sangat memprihatinkan," jawab Sarah sambil mengusap air matanya.
"Aku harus menemuinya sekarang juga," ucap Niko sambil melangkahkan kakinya keluar.
"Niko tunggu dulu!" teriak Sarah sambil mengejar Niko yang sudah berjalan ke arah mobil.
"Ada apa Ma, aku mau menemui Niken," jawabnya saat sudah berada di depan mobilnya.
"Niken tidak boleh ditemui sekarang, lebih baik kamu ke makam putramu," perintah Sarah seolah melarang Niko untuk menemui Niken.
Niko pun akhirnya masuk ke dalam mobilnya dan segera menuju ke makam sang putra. Sarah yang masih berada di rumah langsung masuk untuk mengambil sebuah amplop coklat dan memberikannya kepada salah satu orang yang ada di tempat itu. Ternyata orang-orang itu hanyalah orang yang sengaja dibawa oleh Sarah untuk berpura-pura melayat ke rumahnya.
"Baik Bu, akan saya lakukan," jawab laki-laki itu sambil menerima amplop dari Sarah dan pergi meninggalkan tempat itu.
"Untung Niko percaya kepadaku, padahal hari ini aku mengirim Sarah keluar kota untuk berlibur selama beberapa hari," ucap Ningrum sambil mengusap air matanya.
Entah makam siapa yang saat ini ada di hadapan Niko. Sebuah makam kecil bertuliskan nama sang putra. Sejenak Niko duduk di samping makam tersebut sambil menyesali apa yang sudah dia lakukan.
"Maafkan Papa Nak, karena kesalahan Papa kamu jadi seperti ini," ucap Niko sambil tak kuasa menahan air matanya.
Hampir satu jam Niko berada di samping pusara yang bertuliskan nama putranya. Penyesalan atas apa yang dilakukannya kepada Niken terus menghantuinya. Pelukan hangat yang ingin dia berikan kepada sang putra kini hanya bisa dia berikan kepada batu nisan yang ada di pemakaman tersebut.
"Halo, ada apa Rani," ucap Niko saat aku menelponnya.
__ADS_1
"Apa kamu baik-baik saja Mas?" tanyaku saat mendengar suara Niko yang berat karena terlalu banyak menangis.
"Putraku baru saja meninggal, dan Niken saat ini dalam keadaan kritis," jawab Niko yang langsung membuatku terkejut.
"Innalillahiwainnailaihirojiun," ucapku sambil terkejut.
Aku memang sengaja menghubungi Niko untuk mencari tahu tentang apa yang telah terjadi. Itu sengaja aku lakukan bukan untuk mencari simpati ataupun perhatian dari mantan suamiku. Namun, semata karena aku berpikir bagaimanapun juga dia pernah memberiku kebahagiaan walaupun kebahagiaan itu harus berakhir.
"Aku turut berduka cita atas apa yang menimpa keluargamu, semoga Niken bisa secepatnya lepas dari kritisnya," ucapku dengan nada yang penuh iba.
"Amin … terima kasih atas doamu," jawab Niko sambil menutup ponselnya.
Setelah mendengar berita duka yang diberikan Niko. Aku langsung mengajak Luna untuk berangkat ke rumah Niko untuk mengucapkan bela sungkawa. Setelah mengemasi barang-barangku dan Luna tidak berapa lama taksi online yang aku pesan tiba.
"Bu, kita mau kemana?" tanya Luna saat kami sudah berada di dalam mobil.
"Hari ini kita mau ke rumah Ayah, Luna mau 'kan ketemu sama Ayah," jawabku sambil memintanya bersandar di tubuhku.
"Mau Bu, hore Luna ketemu sama Ayah!" teriak Luna dengan rasa bahagia.
Setelah menempuh perjalanan panjang kami akhirnya sampai di rumah Niko. Terlihat sebuah rumah mewah dengan halaman yang cukup luas. Luna yang baru pertama kali datang ke rumah sang Ayah terlihat takjub dengan rumah mewah yang ada di hadapannya saat ini.
"Ibu apa benar ini rumah Ayah?" tanya Luna sambil mengarahkan pandangannya ke seluruh sudut rumah.
"Iya Nak, ayo kita masuk dan temui Ayah," ajakku sambil menggandeng tangan kecilnya.
"Ibu, jika rumah Ayah sebesar ini kenapa kita harus tinggal di rumah kecil seperti di kampung?" tanya Luna sambil menoleh ke arahku.
"Sayang walaupun rumah kita kecil, tapi paling tidak disana banyak temannya daripada disini tidak ada teman yang akan bermain dengan Luna," jawabku sambil tersenyum.
Aku sengaja tidak menceritakan apa yang sebenarnya terjadi antara aku dan Mas Niko. Karena aku tidak mau Luna berubah membenci Ayahnya. Bagaimanapun juga Luna dan Mas Niko masih ada ikatan darah.
__ADS_1
"Assalamualaikum," ucapku sambil mengetuk pintu.
"Waalaikumsalam," jawab seseorang sambil membuka pintu.