Ibu, Kenapa Aku Berbeda?

Ibu, Kenapa Aku Berbeda?
Bab 30


__ADS_3

Hari ini adalah hari pernikahanku dengan Roy, sejak pagi aku dan beberapa warga sekitar sudah mulai sibuk untuk menyambut kedatangan Roy dan keluarganya. Luna yang saat itu sudah menggunakan gaun berwarna putih dengan rambut yang sengaja aku ikat dua terlihat sangat cantik dan lucu. Senyum bahagia terlihat jelas di bibirku dan Luna saat kami sedang berada di dalam kamar penggantin. 


"Ibu terlihat sangat cantik," puji Luna saat melihatku menggunakan kebaya berwarna putih tulang senada dengan gaun yang dia gunakan. 


"Luna juga terlihat sangat cantik dengan gaun ini, " jawabku yang langsung membuatnya tersenyum bahagia sambil memutarkan tubuhnya.


Ini adalah penikahan kedua yang akan aku jalani dalam hitungan beberapa jam lagi. Namun, entah kenapa rasa grogi dan gugup masih saja datang menghampiriku. Bahkan saat rombongan keluarga Roy tiba hatiku semakin gugup entah karena aku bahagia atau yang lain. 


"Bagaimana apa akad nikah sudah bisa di lakukan sekarang?" tanya penghulu kepada Roy dan Pak Usman.


“Bisa Pak, tapi sebentar masih menunggu pengantin perempuan insya Allah sebentar lagi selesai,” jawab salah satu warga yang ada di ruang tamu.


Tidak berapa lama akupun keluar sambil menggandeng Luna di tangan kananku. Sekilas aku melihat senyum calon mertua ku saat melihatku keluar dari dalam kamar. Roy yang saat itu duduk di hadapan penghulu hanya bisa menatapku dengan tatapan seolah terpesona. 


“Mas Roy, kalau lihat Mbak Rani jangan lama-lama nanti lupa ijab khobulnya loh,” ucap sang penghulu yang membuat semua orang tertawa terbahak-bahak termasuk aku dan Roy yang hanya tersenyum kecil sambil menunduk.


“Baik ayo sekarang jabat tangan saya dan kita lakukan ijab sekarang, mungkin si pengantin pria tidak sabar untuk segera mencium kekasih hati,” tambah sang penghulu sambil melirik ke arah ku dan Roy yang sudah duduk di hadapannya. 


“Muhammad Roy Alfahri bin Usman sudrajat saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan Shofia Anggraini binti Almarhum Doni Hermawan dengan mas kawin seperangkat alat shalat dan emas seberat 9gram serta uang senilai 10 juta rupiah dibayar tunai,” ucap sang penghulu sambil menjabat tangan Roy.


“Saya terima nikah dan kawinnya Shofia Anggraini binti Almarhum Doni Hermawan dengan mas kawin tersebut dibayar tunai,” jawab Roy sambil menatap mata sang penghulu. 


“Bagaimana para saksi?” tanya Penghulu kepada kedua saksi yang ada di sampingnya.


“Sah,” ucap kedua saksi dan seluruh orang yang ada di ruangan itu. 


Mendengar kata sah dari seluruh saksi sang penghulu langsung memanjatkan doa untuk kami berdua. Tanpa terasa air mataku pun jatuh tanpa bisa di bendung lagi. Rasa haru dan bahagia begitu terasa di hatiku, seakan belum percaya jika sekarang aku telah resmi menjadi istri dari sahabat baikku sendiri. 

__ADS_1


 Setelah melakukan serangkaian acara mulai dari akad sampai resepsi aku, Roy dan Luna menikmati malam pertama kami sebagai seorang keluarga yang utuh dengan menjalankan ibadah shalat isya' berjamaah di rumah. Setelah menjalankan shalat isya' aku bergegas menuju ke dapur untuk membuat sebuah teh hangat untuk kami bertiga. Namun, saat aku sedang sibuk dengan aktifitasku di dapur tiba-tiba Roy menghampiri ku sambil membawa ponselku. 


"Sayang, biar aku yang melanjutkan sekarang kamu terima dulu telepon dari Niko," perintah Roy sambil memberikan ponsel kepadaku. 


"Apalagi yang dia inginkan kali ini," batinku sambil menatap Roy.


Sebenarnya aku sudah malas berhubungan dengan Niko, karena semakin aku mencoba bersahabat dan menerima dia diantara kami membuatku semakin susah untuk melupakan masa lalu kelamku. Namun, saat aku melihat wajah Luna rasanya egois sekali jika aku memisahkan Niko dari putri kandungnya sendiri. Sesulit inikah pilihan yang harus aku hadapi dan sampai kapan aku harus hidup dengan bayang-bayang masa lalu yang kelam dan trauma serta luka yang diberikan Niko.  


“Halo, Assalamualaikum,” ucapku saat panggilan telepon sudah terhubung dengan Niko. 


“Waalaikumsalam, maaf hari ini aku tidak datang ke resepsi pernikahanmu karena hari ini aku harus mengantar Mama ke rumah sakit, ”jawab Niko sambil terdengar kaku.


“Iya tidak apa-apa, apa Bu Sarah sakit?” tanyaku dengan sedikit terkejut saat mendengar alasan mantan suamiku. 


“Iya, hari ini Bi Imah menemukan Mama pingsan di ruang keluarga,” jawab Niko yang terdengar lesu. 


“Astagfirullah, lalu bagaimana keadaan Bu Sarah sekarang Mas,” jawabku sambil menutup mulutku seakan tak percaya dengan apa yang aku dengar. 


“Saat ini Mama masih belum sadarkan diri,”jawab Niko singkat.


“Kalau boleh tahu Bu Sarah di rawat di rumah sakit mana, Mas?” tanyaku dengan penasaran.


“Di rumah sakit Medika. Ran, sudah dulu ya, karena aku mau lihat Mama di kamarnya,” pamit Niko sebelum menutup ponselnya.


“Ada apa Sayang? Kenapa wajahmu terlihat murung begitu,” tanya Roy yang sudah ada di sampingku.


“Bu Sarah masuk rumah sakit Mas,” jawabku sambil menoleh ke arah Roy.

__ADS_1


“Astagfirullah, kalau begitu kita istirahat dulu besok kita jenguk Bu Sarah di rumah sakit," ucap Roy sambil menggandeng ku ke arah kamar.  


Malam ini adalah malam pertama aku menjalankan kewajibanku sebagai seorang istri untuk Roy. Roy adalah seorang laki-laki yang mengerti tentang agama, dengan lembut dia mengajakku untuk menjalankan shalat sunnah sebelum kami melakukan hubungan suami istri. Setelah mengerjakan shalat sunnah Roy pun memegang kepalaku dan membacakan sebuah doa untukku, tapi aku yakin apa yang dia lakukan saat ini adalah hal yang nantinya akan membuatku menjadi istri yang sholeha.


***


Keesokan harinya saat aku terbangun dari tidurku yang lelap. Aku bergegas menuju ke dapur untuk menyiapkan makanan untuk keluarga kecilku. Namun, alangkah terkejutnya aku saat melewati meja makan aku melihat Luna dan Roy yang sudah rapi sedang menikmati sepiring nasi goreng dengan lahap.


“Ibu! Lihat Om Roy memasak nasi goreng buat kita,” teriak Luna saat melihatku berjalan dari kamar. 


"Mas, kamu sudah bangun?" jawabku sambil mengusap rambut putri kecilku dan duduk di sampingnya.


"Iya, aku sudah bangun sejak subuh karena aku bingung harus berbuat apa jadi aku putuskan untuk membuat nasi goreng dan kebetulan Luna bangun jadi sekalian saja aku memintanya untuk segera mandi, " jelas Roy sambil tersenyum kepadaku. 


“Kenapa kamu tidak membangunkanku, aku ‘kan bisa membantumu Mas,” jawabku dengan rasa sungkan.


“Tadinya aku ingin membangunkanmu, tapi saat aku melihatmu begitu lelap jadi putuskan untuk membiarkanmu. Maafkan aku ya Sayang,” jawab Roy dengan kata-kata yang sangat lembut.


“Ibu ayo cicipi makanan Ayah Roy, rasanya enak deh,” ucap Luna yang membuatku terkejut.


“Ayah,” ucapku dengan lirih.


“Kata Om Roy hari ini aku harus memanggilnya dengan panggilan Ayah, karena Ibu dan Ayah sudah tinggal bersama, benarkan Yah?” jelas Luna sambil memegang sendok. 


“Iya Nona kecil, sekarang kamu habiskan nasi gorengnya setelah itu kita akan pergi jalan-jalan,” ucap Roy yang di balas anggukan dan senyuman oleh Luna.


Aku bersyukur bisa menikah dengan Roy, sosoknya yang sabar dan lembut sangat membuatku dan Luna nyaman dan tenang. Dia memang laki-laki baik yang sengaja Allah kirimkan untukku dan Luna. Dia selalu memperlakukan kami dengan sangat istimewa layaknya seorang Ratu. 

__ADS_1


 


   


__ADS_2