Ibu, Kenapa Aku Berbeda?

Ibu, Kenapa Aku Berbeda?
Bab 18


__ADS_3

"Kalau setahuku sih seorang perempuan yang sedang hamil tidak akan mendapatkan menstruasi sampai masa bersalin, tapi kamu bisa cari tahu lagi ke Dokter kandungan karena bisa saja apa yang ucapkan salah," jelasku kepada Niko.


"Baik kalau begitu besok aku akan coba tanya ke Dokter kandungan, terima kasih atas penjelasanmu," ucap Niko sambil menutup ponselnya.


"Apa benar orang yang hamil bisa mendapat menstruasi?" ucapku sambil meletakkan ponsel di atas meja.


*** 


Keesokan harinya setelah memandikan Luna dan menyuapinya. Aku langsung bergegas ke rumah Bu Santi. Luna yang saat ini sudah berusia 6 tahun sudah mulai jarang ikut denganku, apalagi sejak telinganya bisa berfungsi dengan baik dia lebih sering menyaksikan kartun kesukaannya di televisi. 


"Luna! kamu mau ikut Ibu kerja atau tetap menonton televisi di rumah," ucapku sambil berteriak dari dalam kamar.


"Aku dirumah saja Bu," jawabnya sambil terus memandang acara televisi.


Mendengar jawaban putri kecilku, aku pun langsung berjalan ke arah dapur untuk mengambil beberapa snack yang sengaja aku beli untuknya. Serta mencabut selang gas agar Luna tidak bermain dengan kompor saat aku tidak dirumah. Setelah aku pastikan semua aman, aku langsung berjalan ke ruang tamu untuk memberikan snack dan minuman untuk putriku.


"Luna disini saja sampai Ibu pulang, ingat jangan kemana-mana," pesanku sambil meletakkan snack dan minuman di atas meja.


"Iya Bu, aku janji akan tetap di rumah sampai Ibu pulang," jawabnya sambil menoleh ke arahku.


"Bagus kalau begitu Ibu berangkat dulu, ingat jangan kemana-mana," ucapku sambil mengulurkan tangan ke Luna.


"Iya Bu," jawabnya singkat sambil mencium tanganku.


Aku bersyukur perlahan-lahan aku mulai bisa memenuhi kebutuhan hidupku dan Luna. Aku tidak pernah meminta nafkah anak kepada mantan suamiku. Bahkan saat dia datang pun aku tidak pernah menanyakan tentang nafkah untuk Luna.


Mulai dari kebutuhan pokok, kebutuhan mewah, hingga biaya sekolah untuk Luna pun sudah aku selesaikan. Namun, Luna baru bisa mulai bisa masuk saat tahun ajaran baru. Itupun dia langsung masuk ke sekolah dasar. 


"Assalamualaikum," ucapku sambil mengetuk pintu Bu Santi.


"Waalaikumsalam," terdengar suara Bu Santi dari dalam.

__ADS_1


"Eh Rani kamu sudah datang, oh ya mana Luna? Beberapa hari ini dia tidak ikut kamu kerja," tanya Bu Santi yang jarang melihat Luna.


"Iya Bu, sejak saya belikan alat pendengaran dia lebih senang tinggal di rumah sambil menonton televisi," jawabku sambil masuk ke dalam rumah Bu Santi.


"Ya Allah, tapi kamu sudah pastikan dia aman dark benda berbahaya 'kan?" tanya Bu Santi seolah ingin memastikan jika aku sudah benar-benar memperhatikan keamanan Luna.


"Insya Allah aman Bu," jawabku sambil tersenyum.


"Ya sudah kamu kerja saja, Ibu mau istirahat karena hari ini Ibu sedang tidak enak badan," ucap Bu Santi sambil berjalan ke arah kamarnya.


Aku pun mulai mengerjakan semua tugasku. Mulai dari mencuci baju, setrika, dan lain-lain. Hingga tanpa terasa waktu sudah menunjukkan pukul 1 siang. Namun, pekerjaanku kali ini masih banyak, jadi terpaksa aku harus pulang sedikit sore hari ini.


"Semoga Luna masih tetap duduk di sofa ruang tamu," batinku sambil menyetrika baju.


"Kamu kenapa masih kerja, ini sudah jam berapa?" tanya Bu Santi sambil berusaha mencari jam di sekitar ruang setrika.


"Jam 2 siang Bu, nanggung sebentar lagi setrikaan selesai," jawabku sambil tersenyum ramah.


"Insya Allah dia sudah saya kasih beberapa snack kesukaannya, jadi dia pasti sudah kenyang," jawabku sambil terus menyetrika baju.


"Ya sudah, kalau kamu sudah selesai cepat pulang ya, kasihan kalau Luna terlalu lama menunggu, Ibu khawatir sama keselamatan dia di rumah," ucap Bu Santi yang khawatir dengan Luna.


"Baik Bu, terima kasih Ibu sudah sangat menyayangi Luna selama ini," jawabku sambil menoleh ke arah Bu Santi.


"Ya sudah Ibu tunggu di ruang tamu ya, kamu cepat selesaikan tugasmu dan segera pulang," perintah Bu Santi sambil berjalan ke ruang tamu.


Sekitar pukul 3 sore seluruh pekerjaanku selesai. Setelah mencabut listrik setrika ku, aku langsung berjalan menemui Bu Santi. Terlihat Bu santi yang sedang serius menonton acara sinetron di televisi.


"Permisi Bu, saya mau pamit pulang," ucapku sambil sedikit membungkuk.


"Sudah selesai pekerjaanmu? Kalau begitu kamu tunggu disini Ibu ambilkan upah buatmu," perintah Bu Santi sambil berdiri dan berjalan ke arah kamarnya.

__ADS_1


Setelah hampir 15 menit aku menunggu Bu Santi dia pun akhirnya datang dengan membawa sebuah kantong plastik hitam. Setelah berdiri di hadapanku beliau pun memberikan kantong tersebut sambil tersenyum ramah. Diantara seluruh tetangga ku Bu Santi dan Mia adalah tetangga yang paling baik.


"Rani, ini tada Ibu masak opor ayam tolong berikan kepada Luna, dan ini upah buatmu hari ini," ucapnya sambil menyerahkan kantong plastik hitam berisi opor dan beberapa snack.


"Masya Allah banyak sekali Bu, nanti Ibu dan Mbak Mia bagaimana?" tanyaku seakan tidak enak karena harus terus merepotkan Bu Santi dan keluarganya.


"Sudah kamu bawa saja, Ibu dan Mia kalau malam jarang makan, ya paling kami beli cemilan di depan atau pesan dari kurir," jawabnya sambil mendorong kantong tersebut ke arahku.


"Terima kasih Bu, kalau begitu saya pamit dulu. Assalamualaikum," ucapku sambil berjalan keluar dari rumah Bu Santi.


"Waalaikumsalam," jawab Bu Santi.


Aku mulai melangkahkan kaki ku dengan cepat. Aku berharap Luna tidak menangis karena lapar ataupun melakukan hal berbahaya. Sesampai di rumah aku langsung masuk ke dalam rumah.


"Assalamualaikum," ucapku sambil masuk ke dalam rumah.


Namun, aku tidak menemukan Luna ada di ruang tamu. Aku yang sudah khawatir berusaha mencari putri kecilku ke kamar bahkan dapur dan kamar mandi tapi tetap tidak kulihat keberadaan Luna. Kaki ku seakan lemas saat mengetahui Luna tidak ada di rumah.


"Ya Allah kemana putriku, apa jangan-jangan dia bermain di rumah Ratih," batinku sambil duduk termenung di lantai dapur.


Segera aku berdiri dan mencari keberadaan Luna di rumah sahabatnya yang bernama Ratih. Ternyata Luna juga tidak ada di rumah Ratih, bahkan Ibu Ratih pun tidak tahu jika Luna di rumah sendirian. Aku yang sudah khawatir berusaha mencari keberadaan putriku di seluruh rumah para tetangga.


"Assalamualaikum," ucapku sambil mengetuk rumah Bu Santi.


"Waalaikumsalam," ucap Bu Santi sambil membuka pintu rumahnya.


"Rani, kenapa kamu kembali kesini, apa ada yang tertinggal?" tanya Bu Santi yang terkejut dengan kedatanganku.


"Tidak Bu, saya kesini mau bertanya apa Luna tadi kemari," ucapku sambil terlihat khawatir.


"Tidak, memang ada apa?" tanya Bu Santi yang mulai khawatir saat melihat air mataku mulai jatuh.

__ADS_1


"Luna tidak ada di rumah Bu, saya sudah cari di rumah seluruh warga, tapi tetap tidak ada yang tau dimana keberadaanha maka dari itu saya kesini siapa tahu tadi dia menjemput saya," jelasku sambil menangis.


__ADS_2