
"Apa benar kemarin kamu dan Mama pergi ke rumah Rani?" tanya Niko sambil menatap Niken yang mulai ketakutan.
"Aku …." belum selesai Niken menjawab Sarah langsung menjawab pertanyaan putranya.
"Iya, memang kenapa kalau kami kesana?" jawab Sarah sambil berjalan mendekati Niken yang mulai berkaca-kaca.
"Kenapa Mama harus kesana, apa tidak cukup Mama dan almarhum Papa memisahkan aku dari Rani?" tanya Niko dengan sedikit berteriak kepada sang ibu.
"Niko, Mama dan Papa melakukan ini demi kebaikanmu agar kamu tidak hidup menderita di jalanan!" bentak Sarah sambil menatap Niko tajam.
"Niko sudah dewasa, bahkan sudah menjadi seorang Ayah jadi tolong jangan campuri hidup Niko lagi dan sekarang berikan surat-surat yang Rani berikan kepada kalian," ucap Niko sambil meminta surat-surat bukti pernikahannya kepada Niken dan Sarah.
"Surat itu sudah aku berikan kepada pengacara keluargaku, dan yang aku dengar proses perceraian sudah mulai dilakukan," jawab Niken sambil menunduk.
"Apa, kalau aku disuruh pilih antara kamu dan Rani tentunya aku memilih Rani, kamu tahu kenapa? Karena dia itu subur dan bisa memberikanku keturunan," ucap Niko sambil mendekat ke wajah Niken yang mulai menangis.
"Niko jaga ucapanmu, anak tuli seperti itu apa yang bisa dibanggakan!" bentak Sarah kepada Niko sambil memeluk pundak Niken yang menangis.
"Paling tidak dia masih bisa memberikanku keturunan, daripada menantu kesayangan Mama yang hanya perempuan mandul yang tak berguna," jawab Niko sambil melirik ke arah Niken.
"Plak," Sarah yang sudah mulai kesal dengan sikap sang putra langsung menampar Niko dengan cukup keras.
"Mulai hari ini aku akan pergi dari rumah ini dan kembali kepada Rani," ucap Niko sambil melangkahkan kakinya ke arah pintu.
Niken yang sejak tadi menangis di pelukan sang mertua langsung berlari ke arah Niko. Sambil menangis dia terus membujuk bahkan memohon agar niko tidak meninggalkannya. Melihat menantu kesayangannya menangis hingga bersujud di kaki Niko, Sarah langsung menarik tangan Niken agar dia berdiri.
"Berdiri, kamu tidak perlu menangisi laki-laki ini," ucap Sarah sambil meminta Niken berdiri.
"Tapi Ma, Niken sangat menyayangi Mas Niko," jawab Niken sambil menangis.
"Pergi kejar perempuan itu, tapi ingat jangan harap kamu akan mendapatkan harta warisan dan semua fasilitas yang kamu miliki saat ini. Cepat pergi, dan kembalilah menjadi gembel seperti dulu!" bentak Sarah sambil mengusir Niko keluar dari rumahnya.
__ADS_1
Sesaat Niko hanya terdiam tanpa menjawab ucapan sang mama. Dia teringat kehidupan susahnya saat bersama Rani. Bangun pagi dan berangkat ke pasar hanya sebagai kuli panggul dengan gaji yang sangat kecil.
Cukup lama Niko berpikir tentang jalan apa yang harus dia ambil. Tetap memilih Rani dengan resiko menjadi kuli panggul dan kehidupan miskin atau tetap bersama Niken dengan harta yang melimpah. Setelah berpikir cukup lama Niko akhirnya kembali ke kamarnya dengan wajah yang masih sangat kesal.
"Kamu tidak perlu khawatir kehilangan Niko, Mama tahu dia tidak akan bisa hidup miskin dengan perempuan kampung itu," ucap Sarah sambil tersenyum penuh dengan kemenangan.
"Aku tidak mau hidup miskin lagi seperti dulu, tapi aku juga tidak bisa membohongi perasaanku yang masih sangat mencintai Rani," ucap Niko saat berada di dalam kamar sambil duduk di tempat tidur.
Saat Niko sedang melamun tiba-tiba dia dikejutkan dengan kedatangan Niken. Seolah ingin mengambil hati sang suami Niken mulai berusaha merayu Niko dengan pelukannya. Sambil tersenyum Niken mulai membisikkan kata-kata indah di telinga sang suami.
"Tetaplah bersamaku Mas, aku jamin hidupmu tidak akan susah dan kamu akan tetap bergelimangan harta, karena seluruh harta warisan Papa mu semua dalam genggamanku," bisik Niken sambil tersenyum sinis.
"Kamu pikir aku takut kehilangan seluruh harta, pekerjaan dan fasilitas mewah ini?" tanya Niko sambil berdiri.
"Baik kalau memang kamu mau pergi silahkan, tapi asal kamu tahu sekali aku bilang ke Mama jika kamu meninggalkanku, aku jamin seluruh hartamu akan dibekukan dalam waktu singkat," jawab Niken sambil duduk dan menyilangkan kakinya.
"Dasar kamu perempuan licik!" bentak Niko sambil menunjuk ke arah Niken.
***
Di tempat yang lain aku mulai sibuk dengan kegiatanku sebagai seorang penulis online di sebuah aplikasi berbayar. Selain sebagai penulis aku juga selalu datang ke rumah Bu Santi untuk mengerjakan pekerjaanku sebagai buruh cuci gosok. Hingga suatu hari saat aku sibuk menulis dengan Mia tiba-tiba muncul sebuah notifikasi dari ponselnya.
"Mbak Ini apa?" tanyaku sambil menunjukkan sebuah pesan dari salah satu aplikasi berbayar.
"Coba saya lihat Mbak," jawab Mia sambil mengambil ponsel dari tanganku.
"Apa itu Mbak, karena selama ini saya belum pernah mendapatkan pesan apapun dari aplikasi itu," ucapku kepada Mia yang masih serius membaca pesan tersebut.
"Ini notifikasi gaji pertama Mbak Rani, dan jumlahnya 3 juta rupiah," jawab Mia dengan bahagia.
"Masya Allah, apa Mbak Rani serius?" tanyaku yang masih tidak percaya.
__ADS_1
"Iya Mbak ini, coba lihat benar 'kan," jelas Mia sambil menunjukkan pesan tersebut kepadaku.
"Alhamdulillah, tapi bagaimana saya bisa mengambilnya Mbak, sedangkan saya tidak punya nomor rekening," tanyaku dengan penasaran.
"Bagaimana kalau Mbak Rani pakai nomor rekening saya dulu, nanti setelah ada uangnya Mbak Rani bisa buat rekening sendiri," jawab Mia sambil tersenyum.
"Iya Mbak saya setuju, saya sudah tidak sabar ingin mengajak Luna pergi ke minimarket depan," ucapku sambil terlihat bahagia.
Aku memang mengirimkan beberapa cerita dengan judul berbeda di beberapa aplikasi. Namun, aku tidak menyangka aku bisa secepat ini mendapatkan hasil dari tulisanku. Bahkan dengan jumlah yang menurutku sangat besar.
"Ya Allah terima kasih atas rezeki yang engkau berikan kepadaku," batinku sambil menahan tangis bahagiaku.
"Mbak Rani, mau ditarik semua uangnya?" tanya Mia hingga membuatku terkejut.
"Oh iya Mbak di tarik semua saja, soalnya saya mau beli alat itu," ucapku sambil menunjuk ke sebuah benda yang menurutku mirip dengan televisi.
"Oh laptop," jawab Mia sambil tersenyum.
"Iya laptop maksud saya," ucapku sambil sedikit malu.
"Kalian ada apa, dari tadi Ibu dengarkan berisik sekali?" tanya Bu Santi sambil menggandeng Luna.
"Maaf kalau Rani sudah berisik di rumah Ibu, Rani hanya bahagia karena hari ini Rani mendapatkan gaji pertama dari hasil menulis," jawabku sambil tersenyum.
"Kamu serius?" tanya Bu Santi seolah meyakinkan diriku.
"Iya Bu, itu sedang di tarik sama Mbak Mia," jawabku dengan ekspresi bangga dan bahagia.
"Alhamdulillah, selamat ya Rani, Ibu yakin kamu pasti bisa sukses dengan karya-karyamu," jawab Bu Santi dengan bangga.
"Semoga setelah ini aku bisa mendapatkan hasil yang lebih banyak lagi," batinku sambil tersenyum bahagia.
__ADS_1