
"Mau apa kamu kesini!" bentak Sarah saat melihatku dan Luna datang ke rumahnya.
"Maaf Bu, saya kesini hanya mau bertemu Niken dan Mas Niko untuk mengucapkan turut berbela sungkawa," jawabku sambil menggenggam tangan Luna.
"Alah, bilang aja kamu ingin menertawai kesusahan kami 'kan?" ucap Sarah sambil bertolak pinggang.
"Ibu, Nenek ini siapa?" tanya Luna sambil menoleh ke arahku.
"Beliau adalah Nenek Sarah," jawabku sambil tersenyum kepada Luna.
"Berarti Nenek ini adalah Nenek ku ya Bu," ucap Luna sambil menatap wajah Sarah yang penuh dengan kebencian.
Aku hanya mengangguk sambil tersenyum kepada Luna. Perlahan Luna mulai melepaskan pegangan tanganku dan berjalan ke arah Sarah untuk mencium tangannya. Namun, dengan kasar Sarah justru memukul tangan putriku dengan sangat keras hingga dia menangis kesakitan.
"Ibu boleh membenci saya bahkan menghina saya, tapi saya tidak bisa terima jika Ibu memperlakukan Luna dengan kasar, apalagi dia adalah cucu kandung Ibu!" bentakku sambil memeluk Luna yang sedang menangis.
"Cucu? Sejak kapan aku mengakui anak tuli ini sebagai Cucuku," ucap Sarah dengan pandangan menghina.
"Kenapa Nenek membenciku, aku sudah sembuh dan aku juga sudah bisa mendengar semua yang Nenek katakan," jawab Luna sambil menangis.
"Kamu pikir aku peduli, eh anak tuli sampai kapanpun aku tidak akan mengakuimu sebagai Cucuku!" bentak Sarah sambil bertolak pinggang.
"Ya Allah ternyata kebencian mantan Ibu mertuaku sudah sangat mendarah daging, bahkan Luna yang tidak tahu apa-apa ikut dibencinya," batinku sambil terus menatap wajah Sarah yang penuh dengan kebencian.
"Luna ayo kita pulang Nak," ajakku sambil menggandeng Luna.
"Tapi Bu, Luna 'kan belum bertemu Ayah," jawab Luna sambil terlihat sedih karena gagal bertemu dengan Niko.
"Sekarang Ayah sedang sibuk jadi dia tidak bisa menemui kita, Ibu yakin jika ayah tidak sibuk dia akan menemui kita dan bermain dengan Luna," bajukku sambil mengusap air matanya yang menetes ke pipi chubbynya.
Perlahan kami pun mulai meninggalkan rumah mewah itu. Terlihat jelas jika Luna sangat kecewa dan sedih karena tidak dapat bertemu dengan Ayahnya. Berkali-kali dia menoleh ke arah pintu rumah mewah itu seperti berharap jika sang ayah keluar untuk menemuinya.
"Luna, ayo naik Sayang," ajakku kepada Luna yang masih berdiri mematung sambil melihat ke rumah Niko.
Sepanjang perjalanan Luna hanya diam menatap ke arah jendela mobil. Wajah ceria dan bahagia sudah tidak lagi terlihat di dirinya. Sebenarnya ada rasa penyesalan dalam diriku karena sudah mengajaknya untuk datang ke rumah itu.
__ADS_1
"Maafkan Ibu ya Nak, semoga kelak kamu bisa mendapatkan kehidupan yang lebih baik dari Ibu," batinku sambil menoleh ke arah Luna yang menatap di jendela.
Setelah sampai di rumah, aku pun langsung meminta Luna untuk segera mandi dan langsung istirahat. Perjalanan dari kampung ke rumah Niko memang memakan waktu seharian, jadi aku yakin Luna pasti sangat kelelahan. Setelah membersihkan diri, makan dan menidurkan Luna aku segera membuka laptop ku untuk mulai menuliskan semua kenangan pahit yang aku alami.
***
"Bagaimana keadaanmu?" tanya Niko kepada sang istri yang baru saja tiba di rumah.
"Aku baik-baik saja Mas," jawab Niken sambil tersenyum.
"Syukurlah, lebih baik sekarang kamu masuk dan istirahat," ucap Niko sambil berjalan keluar meninggalkan Niken dan Sarah.
"Kamu mau kemana, kasihan Niken baru pulang dari rumah sakit!" teriak Sarah saat melihat sang putra berjalan ke arah mobilnya.
Niko tidak menjawab pertanyaan Sarah, dia terus berjalan dan meninggalkan rumah itu. Hal itu membuat Niken sangat kesal dengan suaminya.
"Mama lihat sendiri 'kan Mas Niko justru menjauhi ku," ucap Niken kepada Sarah.
"Sekarang kamu menyalahkan Mama, semua ini Mama lakukan untuk menyelamatkanmu asal kamu tahu petaka ini berawal dari kebodohanmu sendiri," jawab Sarah sambil berjalan ke arah kamarnya.
Niken hanya diam mendengar ucapan sang mertua. Dia tahu jika ini memang kesalahannya, tapi apa tidak ada cara lain selain berpura-pura keguguran. Rasa marah dan kesal terlihat jelas di wajah Niken.
"Ayah!" jawab Luna sambil berlari menghampirinya.
"Mana Ibu?" tanya Niko sambil menggendong Luna yang sudah berusia 6 tahun.
"Ibu sedang melayani beberapa tamu yang mau makan, Ayah kemarin Luna sama Ibu main ke rumah, tapi kami malah diusir sama Nenek Sarah," ucap Luna kepada Niko yang baru saja datang.
"Memangnya Nenek Sarah bilang apa kepada Luna?" tanya Niko dengan penasaran.
Luna pun mulai menceritakan apa yang dia dengar saat di rumah ayahnya. Mendengar apa yang diceritakan putrinya Niko langsung meminta sang putri untuk masuk ke dalam rumah. Tanpa basa-basi Niko langsung masuk ke dalam mobilnya untuk segera pulang.
"Luna!" teriakku sambil memanggil nama Luna.
"Iya Bu," jawabnya sambil berjalan ke arahku.
__ADS_1
"Tadi kamu cerita apa ke Ayah," tanyaku penasaran.
"Luna hanya bercerita tentang apa yang dikatakan Nenek Sarah waktu itu," jawab Luna dengan polos.
"Ya Allah aku yakin Niko pasti marah kepada Bu Sarah," batinku sambil mengusap rambut putri kecilku.
"Memang Luna salah ya Bu?" tanya Luna yang mengejutkanku.
"Sayang tolong kamu ambil ponsel Ibu di dalam kamar ya," perintahku sambil tersenyum.
Setelah Luna memberikan ponselku, aku segera menghubungi Niko yang menurutku masih diperjalanan. Namun, berkali-kali aku mencoba menghubunginya tetap tidak ada jawaban darinya. Bahkan pesan singkat yang aku kirimkan kepadanya juga tidak di baca sama sekali.
"Kenapa dia tidak mengangkat teleponku," batinku sambil terus memegang ponselku.
***
"Mama! Ma," teriak Niko sambil masuk ke dalam rumah.
"Kamu pikir rumah ini hutan jadi kamu bisa berteriak sesuka hatimu!" bentak Sarah yang saat itu sedang berada di ruang keluarga bersama Niken.
"Apa benar Mama mengusir Rani dan Luna saat mereka datang ke rumah ini?" tanya Niko dengan sangat kesal.
"Oh jadi perempuan sampah itu sudah bercerita kepadamu," jawab Sarah sambil terus menatap televisi.
"Mama tahu 'kan jika Luna itu darah daging Niko, kenapa Mama tega menghinanya!" bentak Niko sambil berdiri di hadapan Sarah.
"Jangan asal menuduh kamu, siapa yang menghinanya Mama bicara apa adanya," jawab Sarah dengan tersenyum sinis.
"Tapi tidak harus bilang jika dia itu tuli, apa Mama tidak punya hati nurani hingga tega menyakiti hati cucu Mama sendiri," ucap Niko sambil menatap tajam ke arah Sarah.
"Mama bukan pembohong, kalau tuli ya tuli aja," jawab Sarah sambil membuang muka.
"Sebenarnya ada apa ini Mas, kenapa Rani datang kesini?" tanya Niken seolah tidak tahu dengan apa yang terjadi di rumah itu.
Niko tidak menjawab pertanyaan Niken, dia hanya sekilas menatap istrinya dan langsung berjalan ke arah kamar. Niken yang penasaran langsung mengejar Niko dan meninggalkan Sarah di ruang keluarga.
__ADS_1
"Kamu kenapa diam Mas, apa aku ada salah denganmu?" tanya Niken sambil berjalan mendekati suaminya.