
"Kenapa, apa alatnya hilang?" tanya Bu Santi dengan penasaran.
"Alatnya di ambil sama istri kedua Mas Niko," jawabku sambil menunduk.
"Ya Allah kenapa dia begitu tega kepada kamu Nak," ucap Bu Santi sambil mengelus dada.
"Mbak, ternyata di aplikasinya sudah banyak pembaca," ucap Mia sambil menunjukkan aplikasi itu kepadaku.
"Alhamdulillah, lalu sekarang saya harus gimana Mbak," tanyaku kepada Mia dengan wajah bahagia.
"Mbak Rani terus saja tulis ceritanya, siapa tahu pembacanya semakin hari semakin banyak dan semoga rezekinya semakin cepat keluar," jawab Mia sambil menyerahkan ponsel kepadaku.
"Mbak Mia, Bu Santi saya ucapkan terima kasih banyak karena sudah membantu saya dalam segala hal," ucapku kepada Mia dan Ibunya.
"Sudah tugas kami membantu sesama, kamu sudah Ibu anggap anak sendiri jadi jangan sungkan kalau mau minta bantuan," jawab Bu Santi sambil mengusap pundakku.
"Oh ya Mbak tadi saat aku pulang dari kampus, aku lihat rumah Mbak Rani banyak orang, ada apa Mbak?" tanya Mia dengan penuh penasaran.
"Ibu Mas Niko dan Istri keduanya datang di rumah untuk memaki saya, dan meminta saya menjauhi Mas Niko karena mereka pikir selama ini saya dan Mas Niko sudah resmi bercerai," jawabku sambil menahan air mata.
"Ya Allah Nak, kalau kamu sudah dapat rejeki kamu urus saja surat perceraian mu sendiri, nanti Ibu akan bantu kamu menjaga Luna," jawab Bu Santi sambil membelai rambut Luna.
"Saya sudah memberikan berkas-berkas kepada Ibu Mas Niko agar mereka segera mengurus surat perceraian itu, karena saya juga sudah lelah jika harus berurusan dengan keluarga mereka lagi," jawabku sambil menggenggam tangan Luna dan meletakkan di pangkuanku.
"Ya sudah jalani saja apa yang menurutmu terbaik," ucap Bu Santi sambil mengusap pundakku.
Setelah berbincang-bincang aku pun mengajak Luna untuk segera pulang karena sudah gelap. Karena alat pendengaran Luna yang sudah tidak ada jadi aku berbicara kepada Luna menggunakan bahasa isyarat. Ada rasa sakit dan perih dalam hatiku melihat apa yang terjadi kepada putriku saat ini.
"Luna, ayo kita pulang Nak," ajakku kepada Luna sambil menggunakan bahasa isyarat.
__ADS_1
"Iya Bu," jawab Luna sambil berdiri dan meletakkan bungkus snack di atas piring.
"Mia tolong ambilkan Mama kantong plastik di dapur," perintah Bu Santi kepada Mia.
"Baik Ma," jawab Mia sambil berdiri dan berjalan ke arah dapur.
Bu Santi hanya tinggal berdua dengan putrinya bernama Mia. Suaminya sudah meninggal beberapa tahun yang lalu. Mia memang anak yang baik dan sangat berbakti kepada sang ibu.
"Ini Ma,"ucap Mia sambil memberikan sebuah kantong plastik kepada mamanya.
"Luna ini bawa ya kuenya," ucal Bu Santi sambil memasukkan sisa kue dan snackĀ yang ada di piring.
"Terima kasih Bu," jawabku seolah mewakili Luna yang tidak mendengar ucapan Bu Santi.
Setelah sampai di rumah aku pun langsung mengajak Luna untuk membersihkan diri. Setelah selesai membersihkan diri aku langsung menyalakan acara televisi kesukaan Luna. Disaat Luna sudah sibuk dengan acara televisinya, aku pun langsung memasak untuk makan malam.
"Ya Allah semoga bulan depan kehidupanku bisa jauh lebih baik," ucapku sambil menggoreng telur dadar untuk makan malam hari ini.
"Ada apa Sayang," ucapku saat sudah ada dihadapan putri kecilku.
"ponsel Ibu dari tadi menyala," ucapnya sambil menunjuk ke arah ponsel yang aku letakkan di meja televisi.
Mendengar ucapan Luna aku langsung berjalan ke arah meja televisi dan mengambil ponselku. Terlihat beberapa panggilan masuk dari Mas Niko. Karena aku pikir panggilan itu bukan panggilan penting aku langsung meletakkan ponselku kembali dan berjalan ke arah dapur.
"Ibu," lagi-lagi Luna berteriak dengan kencang.
"Iya sebentar Sayang," jawabku sambil menyendok nasi dan meletakkannya di atas piring yang sudah berisi telur dadar untuk putri kecilku.
"Ibu!" kembali Luna berteriak semakin kencang.
__ADS_1
"Ada apa, lain kali kalau Luna butuh Ibu jangan berteriak lagi ya, biasakan datangi Ibu dan bicara dengan nada lembut," ucapku sambil mulai menyuapinya.
Luna tidak menjawab pertanyaanku, aku yakin dia tidak mendengar nasehatku. Suapan demi suapan aku berikan kepada putri kecilku dengan penuh kasih sayang. Hingga saat aku menyuapi Luna terdengar suara ponselku berdering beberapa kali, aku sengaja tidak menghiraukannya karena aku yakin itu pasti dari Niko yang ingin menerorku.
Tanpa terasa waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam. Aku langsung mematikan televisi dan mengajak Luna untuk segera masuk kedalam kamar untuk tidur. Luna memang tidak mendengar apa yang acara televisi itu bicarakan. Namun, dia paham saat ada adegan lucu yang terjadi pada acara tersebut.
"Luna, ayo kita tidur," ajakku sambil mulai mematikan televisi.
Luna tidak hanya cantik dan lucu, di juga anak yang sangat pintar. Dia tahu pasti jika televisi dimatikan itu berarti dia harus segera tidur. Di saat Allah memberikan kekurangan pendengaran kepadanya, Allah juga memberikan kelebihan berupa kepandaian kepadanya.
"Alhamdulillah akhirnya Luna sudah tidur," ucapku sambil bernafas lega.
Setelah melihat putri kecilku sudah tertidur pulas sambil memeluk guling kesayangannya. Aku pun langsung menuju ke ruang tamu untuk mulai menulis cerita yang sedang aku tulis di sebuah platform online. Statusku yang sebagai seorang single parent hanya memiliki waktu malam hari untuk menulis.
"Kenapa ada banyak sekali panggilan di ponsel ini," pikirku sambil melihat beberapa panggilan yang masuk di ponselku.
Tanpa menghiraukan panggilan yang masuk ke ponselku. Aku pun langsung mulai menulis paragraf demi paragraf. Hingga tanpa sadar aku pun tertidur di ruang tamu sambil menggenggam ponselku.
"Ya Allah kenapa aku bisa tertidur di sini," ucapku sambil melihat jam di layar ponsel ku dan meletakkannya di atas meja.
Segera aku berjalan ke arah dapur untuk memasak sarapan untuk putri kecilku yang masih tertidur pulas di kamarnya. Saat aku sedang sibuk dengan berbagai pekerjaan rumah tanggaku, aku dikejutkan dengan suara ponsel yang ada di atas meja. segera aku berjalan dan mengangkat panggilan tanpa nama tersebut.
"Halo," ucapku saat panggilan sudah terhubung.
"Halo selamat pagi, apa bisa kami bicara dengan ibu Rani?" terdengar suara laki-laki dari seberang telepon.
"Iya saya sendiri, maaf Bapak siapa?" tanyaku sambil penasaran.
"Perkenalkan saya Bima, saya adalah seorang pengacara yang diminta oleh keluarga Bapak Niko untuk menangani kasus perceraian Ibu dan Bapak Niko," jawab laki-laki tersebut sambil memperkenalkan diri.
__ADS_1
"Pengacara, apa benar mereka sudah mulai mengurus surat cerai kami," batinku sambil terus menggenggam ponselku.
"Halo, Bu Rani apa Ibu masih mendengarkan saya," tanya sang pengacara yang langsung mengagetkanku.