Ibu, Kenapa Aku Berbeda?

Ibu, Kenapa Aku Berbeda?
bab 15


__ADS_3

Setelah pulang ke dari rumah Bu Santi aku langsung mengajak Luna ke sebuah minimarket di depan kampungku. Aku mengambil semua barang yang menjadi kebutuhanku dan Luna. Beberapa snack kesukaan Luna pun aku beli agar dia lebih merasakan bahagia.


"Luna setelah dari sini kita ke toko kue ya, Ibu mau beli kue sebentar," ucapku kepada Luna dengan menggunakan bahasa isyarat.


"Iya Bu," jawab Luna sambil tersenyum.


Akupun langsung membeli beberapa kue untuk Bu Santi dan Mia. Serta beberapa lainnya sengaja aku beli untuk putri kecilku. Hari ini aku dan Luna sangat bahagia, kami menghabiskan waktu bersama untuk pergi kesana kemari.


***


"Luna tuli, Luna Tuli eh jangan main sama Luna karena Luna tuli," ledek seorang anak yang usianya lebih besar dari Luna.


"Ayo main yuk Kak,"ajak Luna kepada anak perempuan yang lain.


"Tidak! Aku tidak mau punya teman tuli dan miskin sepertimu," teriak anak tersebut hingga membuat Luna menangis.


"Ibu!" teriak Luna sambil berteriak dan menangis memanggilku yang sedang sibuk memasak di dapur.


"Ada apa, kenapa kamu menangis?" tanyaku sambil mengusap air mata putri kecilku.


"Kenapa tidak ada yang mau bermain denganku, apa salahku Bu," jawab Luna sambil terus menangis.


"Ya Allah kasihan kamu Nak," batinku sambil memeluk tubuh mungil Luna.


"Sekarang Luna ganti baju ya, Ibu akan ajak kamu jalan-jalan," ucapku sambil menggerakkan tanganku.


Sejak alat pendengaran Luna dirampas oleh Niken. Aku berusaha mengajari Luna menggunakan bahasa isyarat dengan jari. Sehingga dia akan tetap tahu setiap ucapan dan perbuatanku.


"Kita mau kemana Bu," tanya Luna dengan bahagia.


"Nanti kamu akan tahu sendiri, ayo cepat sedikit jalannya agar kita tidak kesiangan sampai di tempat itu," ucapku sambil menggandeng tangan Luna.

__ADS_1


Hari ini aku berniat mengajak Luna ke dokter spesialis THT. Aku ingin memeriksakan pendengaran Luna. Serta ingin tahu apa pendengaran putriku bisa sembuh dengan normal.


"Selamat siang Dokter," ucapku sambil masuk ke dalam ruangan dokter spesialis THT.


"Selamat siang Bu, silahkan duduk," jawab Sang dokter dengan ramah.


"Begini Dok, saya ingin memeriksakan pendengaran putri saya, karena sejak kecil dia tidak dapat mendengar," jelas ku kepada sang dokter.


"Ya Allah kasihan sekali kamu Nak, kamu cantik sekali," ucap sang dokter sambil tersenyum.


Luna tidak menjawab pujian sang dokter, karena dia memang tidak dapat mendengar apa yang sang dokter ucapkan kepadanya. Setelah menarik kursinya sang dokter mulai memeriksa telinga Luna bagian dalam dengan sebuah alat yang mirip seperti corong. Aku yang masih sangat awam hanya bisa diam sambil melihat sang dokter memeriksa Luna.


"Bagaimana keadaan telinga putri saya Dok?" tanyaku setelah sang dokter selesai memeriksa Luna.


"Sepertinya gendang telinga putri Ibu tidak berfungsi sebagaimana mestinya, dan terlihat sebuah lubang di gendang telinga sebelah kanannya," jelas sang dokter sambil mencuci tangannya.


"Lalu apa bisa disembuhkan?" tanya ku penasaran.


"Apa tidak ada cara lain Dok?" tanyaku kepada sang dokter.


Bukannya aku tidak mau membiayai operasi putriku. Namun, Ibu mana yang tega melihat anak yang masih dibawah umur menjalani operasi. Jadi dengan terpaksa aku meminta alternative yang lain untuk kesembuhan Luna.


"Apa putri Ibu sudah pernah menggunakan alat pendengaran," tanya sang dokter dengan tiba-tiba.


"Iya Dok, tapi alat itu sudah hilang entah kemana," jawabku seolah tidak mau menunjukkan masalah hilangnya alat itu.


"Lalu apakah setelah memakai alat itu Luna bisa mendengar dengan baik?" tanya sang dokter kepada ku.


"Iya Dok, dia bisa mendengar dengan normal," jawabku kepada dokter yang memeriksa Luna.


"Kalau begitu saya kasih resep untuk membeli alat tersebut saja ya Bu," ucap dokter tersebut sambil menulis sebuah resep di kertas.

__ADS_1


"Maaf Dok, kalau boleh tahu berapa harga alat tersebut?" tanyaku kepada sang dokter apakah uangku cukup atau tidak.


"Untuk harga saya kurang tahu Bu, karena setiap apotek memiliki harga yang berbeda-beda ya mungkin sekitar 300 ribu sampai 500 ribu," jawab sang dokter sambil memperkirakan harga alat tersebut.


"Alhamdulillah, kalau benar uangku masih cukup untuk membelinya," batinku sambil bernafas lega.


Aku memang tidak menghabiskan semua uangku, karena aku memang sudah berencana untuk membawa Luna ke Dokter spesialis. Saat itu aku juga ingin mendaftarkan Luna di taman kanak-kanak. Setelah dari rumah sakit aku tidak langsung membeli alat itu, selain karena hari sudah sore Luna juga terlihat sangat lelah.


"Lebih baik aku menebus alat itu besok saja, kasihan sepertinya Luna juga cukup lelah hari ini," batinku sambil menggandeng Luna berjalan dari lobby rumah sakit.


"Ibu, aku lapar," ucap Luna sambil menoleh ke arahku dan menarik tanganku dengan pelan.


"Luna lapar, kita makan ayam goreng di sana mau?" tanyaku sambil menunjuk outlet ayam kentucky di depan rumah sakit.


"Mau Bu, hore akhirnya Luna bisa makan ayam crispy!" teriak Luna kegirangan.


Setelah meminta Luna duduk disebuah kursi, aku pun berjalan menuju tempat pemesanan. Aku Pun memesan dua porsi paket nasi ayam dan minuman. Terlihat senyum penuh kebahagiaan terpancar dari wajah putri kecilku.


"Terima kasih Ibu," ucapnya sambil mulai makan nasi ayam dengan lahap.


"Alhamdulillah, aku masih bisa memberikan kebahagiaan untuk putriku," batinku sambil tersenyum melihat Luna yang sedang makan dengan lahap.


Saat aku sedang menikmati makanan yang aku pesan. Tiba-tiba aku dikejutkan dengan suara ponselku dari dalam tas. Aku sengaja tidak mengangkat ataupun melihatnya karena aku pikir itu pasti Niko yang membujukku untuk kembali kepadanya.


Saat ini aku hanya bisa berharap semoga proses perceraianku dan Niko secepatnya selesai. Sehingga aku bisa melanjutkan kembali hidupku bersama dengan Luna. Tidak ada lagi yang bisa aku harapkan dari laki-laki yang tidak bertanggung jawab sepertinya. 


"Aku tidak pernah menyesal menikah ataupun mengenalmu Mas, hanya saja buatku sudah cukup menahan sakit hati yang engkau berikan sejak dulu," batinku sambil tersenyum dan terus menatap Luna.


Fokusku saat ini hanya bagaimana aku bisa menjalani peranku sebagai seorang Ibu dan Ayah untuk putri semata wayangku. Serta bagaimana aku bisa semakin meningkatkan kualitas ceritaku, sehingga aku bisa dapat lebih banyak pembaca. Aku memang tidak berpendidikan tinggi, tapi aku yakin jika menulis ini adalah awal dari kesuksesanku dan Luna. 


"Sekarang kita pulang ya, hari sudah gelap kita masih harus istirahat untuk hari esok," ucapku sambil mengusap mulut Luna yang belepotan nasi.

__ADS_1


__ADS_2