Ibu Untuk Oi

Ibu Untuk Oi
Sembilan


__ADS_3

META


Setelah selesai mata kuliah manajemen, aku langsung ingin pulang. Buat apa seharian di kampus? Mau ke perpustakaan semua buku udah ku baca semua. Biasanya kalau lagi gabut gini aku akan duduk bersama Ninda, m embahas pelajaran atau sekedar curhat masalah dia yang galau karena ortu yang broken home, ortu yang selalu menuntut, dan akupun sering curhat soal cita-cita ku pengen nikah, pertemuan dengan Oi sekaligus dosen aneh itu


Jadi kali ini tepat Aku ingin pulang


Secepat mungkin aku


melangkahkan kakiku, melewati beberapa gedung itu.


“Assalamualaikum Meta" sapaan itu mampu menahan kakiku melangkah.


"Ya ampun Dimas?" Tanyaku sambil menata dari ujung kepala dan ujung kakinya secara berulang kali.


Dimas mantan saat diduk di bangku sma. Kini sudah berubah. Buat apa dia mendekatiku?


Bukannya dia yang sudah tega menghilangkan sejak tiga tahun lalu?


"Assalamualaikum" ujar Dimas membuyarkan lamunanku.


“Eh..Waalaikumussam" ucapku sambil mengelus tengkuk ku.


“Jalan Yuk" ujar Dimas sambil mempercepat langkahnya agr berada tepat di samping ku.


“Ga mau. Aku lagi buru-buru" ujarku.


“Demi persahabatan kita" ujarnya.


“Mau kemana?” tanyaku.


Dimas masih tetap. Tidak bergeming. Dua langkah kemudian dia menoleh kemudian mengatakan “Ada deh"


Tatapan ku seolah mengatakan "Kau tidak canggung?"


"Lupakan masa lalu Meta. Kita semua akan berevolusi" ujar Dimas.


Aku masih menatapnya tidak percaya.


"Kau tahu Meta?"


Bagaimana aku tahu kau belum selesai mengatakannya.


"Aku sangat menyesal sudah meninggalkan mu. Aku juga menyesal sudah menjadi kekasih mu"


"Lupakan masa lalu Dimas. Kita semua akan berevolusi" aku mengulangi ucapan Dimas.


"Hah....Kau masih sama. Seperti dulu. Maaf untuk semuanya"


"Aku sudah memaafkan mu"

__ADS_1


"Ayo.... kota jalan. Aku ingin kamu benar memaafkan mu"


Aku pun mengikutinya.


dua puluh menit akhirnya kami sudah sampai di kedai bunga.


“Ayo selamat turun tuan putri" ujar Dimas saat membukakan pintu mobil untukku.


“Ayo"


Bunga?


"Aku ingin kau tetap menjadi sahabat ku. Walaupun itu terdengar aneh"


Kamimelangkah menuju kedai. Dimas langsung mengambil satu buket bunga.


"Ini untuk kamu" ujar Dimas sambil memberikan buket bunga untukku.


Dan di sana pula aku kembali melihat dosen aneh itu.


Hanya setangkai mawar? Sedang Oi disampingnya.


Berdua? Dimana istrinya?


Meta..... plis jangan memikirkan dosen aneh itu lagi.


"Meta kamu harapkan segera menikah. Lupakan dosen itu" batinku.


“Ada apa melonggo begitu?”


“Cuma inggat. Aku ada janji ama teman" ujar ku sambil melirik arlojiku.


Maaf Dimas aku bohong.


“Ayo kita pulang" ajak Dimas.


“Dimas...ini berlebihan” ujarku.


"Aku ingin kita masih bisa berbaikan" ujar Dimas


"Aku juga masih belajar"


"Memperbaiki hubungan kita?"


"Iya. Padahal sebelum jadian kita baik-baik aja kan?"


"Bagaimana kita balikan seperti dulu. Sebagai teman?"


"Jadi kita balik jadi teman?" Pertanyaan itu keluar secara spontan dari lisan ku.

__ADS_1


Dimas hanya tersenyum.


"Ayo naik. Aku akan mengantar"


"Antar aku ke kampus aja"


#


Setelah melakukan aktivitas yang begitu melelahkan Meta langsung membuang tubuhnya di sofa.


“Alhamdulillah istirahat”


“Saatnya istirahat semua"


Vega yang masih nonton langsung tutup kuping.


“Meta.... mama jadi kaget" sedangkan Meta tidak peduli.


“Meta kamu dapat bunga dari siapa? Teman?” tanya Vega.


“Dari Dimas mah" ucap Meta.


“Oh. Kirain dari dosen baru" ucap Vega menggoda putrinya.


Meta langsung cemberut. Kemudian bangkit dari tempat duduknya.


“Mah...Meta mau keatas"


tapi sebelumnya Meta duduk di samping ibunya.


"Mah....mama ga ngantor lagi?" Tanya Meta sambil ikutan nonton.


"Emang mama harus lapor?"


"Hehe....Meta kepo aja"


Sajauh mana kaki melangkah pergi pada akhirnya kamu juga akan merindukan kamar tidurmu.


Meta langsung melepaskan pakaiannya. Yang tersisa hanyalah pakaian dalam. Kemudian menarik handuk dan masuk kamar mandi.


Oh my god segarnya ucap Meta selesai mandi.


“Oi bagaimana perasaan mu?" Tanya Musa pada putranya saat sedang makan.


"Senang" jawab Oi setelah menelan telur yang sudah di kunyah nya.


"Bagaimana kalau ayah menikah?” tanya Musa pada putranya saat selesai mengganti pakaiannya.


“Ayah Oi kurang dengar”

__ADS_1


“Bukan saat yang tepat”


Tut....tuut sebuah pesan masik di ponsel Musa dengan segera Musa membalas pesan itu.


__ADS_2