Ibu Untuk Oi

Ibu Untuk Oi
Dua puluh Tujuh


__ADS_3

"Musa"


Malam ini, sesuai dengan diskusi sebelumnya bersama keluarga Meta, malam ini aku harus segera menikahi Meta jika Meta menerima ku.


Aku berjalan dengan perlahan, Ridwan, Darwin dan Fandi mengikuti langkah ku.


Aku duduk tepat di hadapan Meta, memintanya menjadi istri ku.


Aku begitu kaget campur bhagia saat Meta mengatkan menerima lamaran ku. Kemarin dia berkata seolah-olah akan menolak ku.


Setelah menikah, aku langsung menengadah membaca doa setelah pernikahan dan mengecup kening Meta.


"Ini malam pertama kalian menikah. Pulanglah bersama Musa" ucap ibu sambil menatap Meta.


"Ikut suami mu pulang. Dia membutuhkan mu, begitu juga kau membutuhkan nya"


Meta hanya mengangguk. Aku langsung pamitan, ibu memeluk ku setelah memeluk Meta begitu juga Faris.


"Sering main kesini yah" ucap Faris.


Kami langsung pulang. Di rumah semua orang sudah menunggu kami.


Sebelum pergi kerumah Meta, aku sudah memberi tahu mereka, bahwa aku akan pulang bersama istri ku.


"Siapkan semuanya. Aku akan menjemput istri ku" kata ku penuh percaya diri.


Saat mendengar Meta mengucapka


"Namun, aku tahu pilihan Allahlah yang terbaik. Dengan menyebut nama Allah, yang Maha pengasih lagi maha penyayang, Aku Meta Amalia Qumairoh Hasan, menerima lamaran ini" Aku seakan terbang kelangit, berputar kemudian meletus dan jatuh bagaikan salju.


"Aku ini suamimu. Jadi, jangan canggung" ucap ku, setelah melihat Meta.


"Meta apa aku terlalu tua? Panggil saja Musa atau...." aku sedikit geli harus di panggil bapak, pak, bagiku itu terlalu berlebihan.

__ADS_1


"Atau apa?" Tanya Meta.


"Atau sayang kataku" sambil mengecup keningnya. Memeluknya lebih kencang lagi, kemudian melepaskannya.


"Lepaskan pakaian mu" kataku pada Meta. Meta malah memandang ku seolah berkata "Apa?"


"Apa kau tidak gerah?" Pertanyaan ku, dan perlahan Meta pun mengikuti kemauan ku. Pergi ganti pakaian bersama.


Aku kagum dengan penampilan Meta tanpa hijab. Cantik, aku suka itu. Saat menoleh padaku, aku baru selesai melepaskan pakaian ku "Sayang aku juga gerah" kataku.


"Pak Musa, bisa Meta peluk bapak?" Tanya Meta.


Kenapa harus tanya? Kalau mau peluk aja. Batinku.


"Sini dengan senang hati" itu kalimat yang berhasil keluar dari lisanku.


"Kenapa?"


"Aku masih canggung" katanya. Oh....Tuhan, aku ingin tertawa soal ini. Soal pernikahan dan malam pertama pernikahan yang konyol ini.


"Aku tidak canggung lagi" kamipun keluar dari ruang ganti, kemudian menuju kamar tidur.


"Kita tidur di sini" ucapku sambil membuka pintu.


"Aku tidur yah" kata Meta.


"Tidur bareng" kataku.


Meta mengangguk. Dengan perlahan, akupun duduk di samping Meta.


"Bersandar" ucapku sambil menepuk bahuku.


Meta langsung bersandar di bahuku.

__ADS_1


"Ini malam pertama kita" ucapnya.


"Yah. Ini aneh, ini canggung"


"Ini membahagiakan kan?"


"Insya Allah"


"Boleh Meta tanya pak?"


Aku diam saja.


"Boleh aku tanya sayang?"


"Soal akutansi?"


"Apa yang paling bapak benci dari Meta?"


"Terlalu cantik, tidak peka"


"Tidak peka?" Secara perlahan Meta merebahkan tubuhnya. Aku pun ikut berbaring menatap langit-langit rumah.


"Banyak hal. Bahkan soal perasaan"


"Jadi kamu suka sama Meta? Sejak kapan?"


"Sejak kartu identitas itu" kata ku. Secara perlahan tanganku segera meraih tangan Meta.


"Kenapa tidak mengatakannya?" Tanya Meta. Aku menoleh kearah Meta.


"Aku kira kau sudah menikah"


"Iya, sekarang aku sudah menikah. Sama pak dosen"

__ADS_1


"Sudah larut sekarang. Ayo kita tidur. Baca surah Al-Mulk, ayat kursi dan 3 qul" Meta mengangguk.


Tuhan, aku begitu kagum, dengan suara merdu Meta saat tilawah.


__ADS_2