Ibu Untuk Oi

Ibu Untuk Oi
Sebelas


__ADS_3

Meta


"Meta, temenin mama buat ketemu sama tante Nova yah" ujar mama, setelah selesai sholat magrib.


"Sekarang mah?" Tanyaku. Pantas saja mama sudah rapi begini.


"Iya. Ayo cepat gantian"


Aku bangkit dari tempat duduk dengan bermalas-malasan.


"Ayo buruan"


Aku berlari kecil-kecilan sampai kedalam kamar. Aku berhenti di depan cermin. Oke make up, ganti baju dan otw. Pikirku.


Setelah selesai berpakaian, aku langsung menemui mama.


"Mah...Ayo" mama yang masih sibuk dengan ponselnya langsung menoleh.


"Udah siap? Ayo"


Malam ini untuk pertama kalinya aku dinner di luar bersama mama dan tante Nova. Meskipun sudah kesekian kalinya tante Nova ajak dinner bareng.


"Meta, tante Nova masih di jalan" ucap mama saat kami sudah sampai.


"Lalu gimana?" Tanyaku.


"Kita langsung duduk aja. Tante Nova udah pesan kok" kata mama. Aku akhirnya mengikuti langkah mama.


Tanpa sengaja aku melihat pak Musa. Pria itu untuk pertama kalinya bersama istrinya. Dan Oi ada di sana.


Haaaahhhh.... kenapa Musa lagi?


Bukankah ini wajar? Dunia begitu sempit. Jadi wajar.


Lima belas menit setelah kami menunggu, tante Nova akhirnya datang.


"Meta, sekarang kamu udah semain cantik" ujar tante Nova setelah duduk.


Aku hanya tersenyum.


“Selamat makan” ujar tante Nova saat makanan kami sudah siap

__ADS_1


"Dengar-dengar kamu mau nikah?" Tanya tante Nova sebelum akhirnya menyeruput jus jeruk nya. Sedangkan aku mulai batuk-batukan saat mendengarnya.


Aku hanya tersenyum kikuk.


Mah......kok...mama bilang ke tante Nova aku pengen nikah.


"Bagus loh kalau udah berpikir dewasa" kata tante Nova sambil sesekali mengiris steak yang ada di hadapannya.


Tut.....tut....


Secara spontan tante Nova langsung menjawab panggilan masuk.


"Iya sayaang. Meja nomor delapan. Dah" setelah mematikan ponselnya tante Nova kembali ngobrol bareng mama. Sesekali aku menimpali.


"Ahm....." Sapa seseorang.


Perlahan aku langsung menoleh, memperhatikan dari ujung kakinya hingga wajahnya. Dengan perlahan mama dan tante Nova berdiri.


"Malam sayang" ucap tante Nova pada pria itu.


"Malam mah" ucap pria itu. Dengan penuh kesopanan dia mencium tangan tante Nova dan tangan mama.


"Ayo duduk" mereka semua duduk. Sedangkan aku hanya memandang dengan tidak perccaya.


"Meta kenalin ini Bima. Bima kenalin ini Meta" ujar tante Nova.


Udah kenal kok tante sebelum aku mengatakanya, Bima udah mengatakan nya.


"Udah kenal Mah" ucap Bima sambil tersenyum.


Aku berusaha normal. Please Met...lo jangan salting.


Aku menghela napas panjang. Kemudian menyeruput jus yang ada dihadapan ku.


"Kita sudah saling kenal" ucapku lagi.


"Bagus dong...." ujar tante Nova sambil memandangku dan Bima saling bergantian.


"Bagus gimana?" Tanyaku.


"Bagus...mama jodohin kamu sama Bima"

__ADS_1


Mendengar ucapan mama barusan, pipiku sudah mulai hangat. Bahagia.


"Jadi...Met, kita jalani aja sekarang" ucap Bima.


"Jadi Met...kita jalani aja sekarang" kalimat itu terngiang di benakku. Tapi kenapa pula ucapan pak Musa "Kapan kita Menikah?" ikutan nongol.


Meta fokus ke Bima bukan PAK MUSA.


"Gue lagi kosong sekarang. Jadi kita bisa kan jalani aja sekarang?"


Aku masih diam.


"Atau kamu udah ada calon?" Pertanyaan Bima membuatku menggeleng dua kali lebih cepat dari biasanya.


"Jadi?"


"Kita jalani aja" ucapku.


Pesaanku jadi semakin canggung sama tante Nova. Sedangkan Bima seperti biasa saja.


"Kalian cocok" ucap tante Nova.


Setelah selesai makan malam bersama kamipun pulang. Tapi sebelum itu terjadi, Bima sudah memaksa untuk mengantar pulang.


Baru beberapa saat sampai di rumah Bima sudah mengirim pesan katanya "Sayang udah sampai belom?"


Dengan cepat jemariku mengetik "Udah kok. Makasih ya"


Tidak cukup setengah menit, Bima sudah membalas "Biasa aja. Kitakan bakal menikah"


"Aamiin" tapi sebelum mengirimnya aku kembali menghapusnya.


"Oke"


Aku masih mematung, diam membisu dan hanya tersenyum sampai mama berteriak.


"Meta mau jadi patung di luar?" Dua kali mama masih bertanya.


"Eh....hh.... iya Meta bakal masuk" ucap ku sambil berjalan masuk rumah.


Aku langsung merebahkan tubuh saat sampai di kamar. Pikirku sudah berputar tentang Aku dan Bima nanti. Walaupun begitu sesekali pak Musa juga ikut nongol.

__ADS_1


Bodoh amatlah soal pak Musa


Meta selamat jatuh cinta


__ADS_2