Ibu Untuk Oi

Ibu Untuk Oi
Tujuh


__ADS_3

“Meta"


Baru saja melepaskan tas, ponselku kembali berdering.


“Assalamualaikum dengan siapa dimana?” tanyaku setelah mengangkat telpon dari nomor baru.


"Apa dosen akutansi? Perasaan ku jadi mulai tidak karuan. Bohong . Pasti juga dosen gadungan. Mana ada dosen baru langsung hubungi mahasiswa nya?


Iya kan?


Apasih mau penipu ini?


"Kamu mau nilai kamu fapat E?" tanyanya.


Karena sudah memaksa akhirnya jutsu berbohong andalan ku aktif. Heheheh


rasain.


“Pak saya tidak bisa. Saya masih main ama anak pak” ujarku.


Meskipun sudah mengatakan sedang bersama ana, pria itu memaaksaku. Karena sudah memaksa akhirnya aku mengalah


Apa sih maunya si tua ini? Batinku.


Dengan segera aku langsung menuliskan nomor handphone dosen gadungan itu.


Kalau saja ada yang terjadi sesuatu, aku sudah menulis surat di atas meja. Intinya kalau Meta belum pulang sebelum magrib hubungi nomor pak dosen gadungan itu.


Dengan cepat ku tarik tas, kemudian menuju lantai bawah mau pamit sama ibu.


“Bu Meta pamit. Assalamualaikum”


“Meta kamu baru aja pulang. Sekarang udah mau pergi lagiemang mau kemana?” tanya ibu sambil membaca majalah harian.


“Ketemu dosen bu"


ucapku.


“Kalau Meta belum pulang saat magrib, ibu bisa menghubungi nomor pak dosen" ujarku

__ADS_1


“Mana ibu tahu"


ucap ibu sambil mengangkat bahun


“Meta sudah menuliskannya”


"Ibu ijinin. Tapi hati-hati"


Aku langsung mencium tangan mama, kemudian keluar rumah.


"Meta kamu bawa semprotan bubuk lada?" teriak mama dari balik pintu.


"Iya mah" jawabku sambil menoleh.


Mama tetaplah mama.


Lima belas menit aku sudah sampai di lokasi dosen gadungan itu.


“Hahhhhhh" aku mengela napas panjang.


"Katanya dia sudah menunggu di meta nomor lima" gumam ku.


“Permisi" ujaraku saat sudah berada di meja nomor lima.


Seketika pria yang mengaku dosen di hadapanku langsung menoleh.


“Hah....pak Musa? Lelucon apa ini?" tanyaku tanpa basa-basi.


“Saya minta tolong. Bantu saya cari Oi" ujar pak Musa.


Ya ampun....dasar ayah teledor. Pasti istri nya belum tahu anaknya hilang sekarang.


Setelah mendengar semua penuturan pa Musa, Akau langsung pergi di waha permainan anak. Benar saja di sana Oi sedang memperhatikan anak lain yang sedang main.


“Oi...Sayang" ujarku .


“Oi mau main?” tanyaku


.

__ADS_1


“Mau nungguin ayah” ujar Oi.


“Ayo sayang kita pulang" ujarku sambil mengandeng tangan Oi.


Saat sudah sampi di meja nomor lima pak Musa sudah tidak ada di sana.


Huuuhh Dosen teledor. Batinku.


Aku langsung mengajak Oi untuk pulang


setelah sampai di dalam mobil, aku langsung mengubungi pak Musa.


“Tut......”


“Hallo Assalamualaikum”


“Waalaikumussalam"


“Pak share lokasi rumah sekarang. Biar saya antar Oi. Terima kasih” ujarku kemudian menutup telepon.


“Oi...mau makan?” tanyaku sambil mengeluarkan wafer dari dalam tasku.


“Oi, mengantuk"


“Ayo sekarang kita pulang" ujarku sambil menyetir.


Pandanganku fokus kedepan. Saat menoleh, Oi sudah tertidur.


Aku hanya tersenyum. Rumahnya sudah dekat.


Seusai dengan lokasi, aku berhenti di depan rumah yang begitu mewah.


Ini rumah apa istana sih?


Belum juga aku mengambil handphone untuk memberi tahu aku sudah di depan, pak Musa sudah ada di luar mobil. Dengan perlahan lahan, kuturunkan kaca mobil ku.


“Pak Oi tidur" ujarku.


Dengan penuh hati-hati, pak Musa mengangkat Oi. Kemudian mengucapkan terima kasih. Aku hanya tersenyum.

__ADS_1


Kulihat Oi sampai benar-benar masuk keladam rumah, baru aku berbelok, kemudian menjauh dari istana itu.


__ADS_2