Ibu Untuk Oi

Ibu Untuk Oi
Dua Puluh dua


__ADS_3

"Meta"


Aku langsung meninggalkan pak Musa yang masih membisu di taman, kemudian mengendarai mobil, dan pulang. Di rumah, aku langsung masuk ke kamar dan mengunci diri.


Tok.......tok....


“Meta, Meta" suara mama dan ketukan pintunya. Terdengar berulang kali. Dengan malas-malasan , aku menemui mama.


“Meta, Bima sudah ada di bawah” kata mama.


Aku langsung mengatakan “Mah, aku malas bertemu dengan Bima”


.


“Apa yang di katakan Bima itu benar? Kalian bertengkar? Gara-gara dosen itu?” tanya mama. Aku langsung mengangguk.


“Meta, sudah memutuskan hubungan dengan Bima" kataku.


“Bima minta maaf" kata mama.


“Aku tahu mah"


“Temui Bima" Bujuk mama. Setelah berpikir cukup lama, akhirnya aku langsung menemui Bima. Menuruni beberapa anak tangga, kemudian duduk tepat di hadapan Bima.


“Meta, sayang, aku minta maaf" ucap Bima sambil memasang wajah memelas.


Aku mengangguk “Aku sudah memaaf kan mu dan kita tidak berhubungan lagi kita putus" ucapkua.


Sebelum Bima memaki lagi, aku langsung naik ke lantai atas.


Lima belas pesan belum terbaca, aku langsung membukanya. Pesan dari Bima semua hanya cacian.


Ponsel ku berdering. Nama pak Musa “Assalamualaikum Meta minta maaf pak" kata ku.


“Maaf salah pencet" kemudian panggilan pun terputus.


Aku langsung mengemasi pakaian ku. Entah mau ke mana, yang terpenting aku sudah tidak ingin hidup di sini lagi.


“Meta, buka pintunya” teriak mama.


“Mama akan dobrak nih?” ancam mama.


Aku masih fokus menyimpan mengambil semua barangku. Tiga buah koper, sudah siap ku angkut. Dan saat itu pula, mamah tidak juga mendobrak pintunya.

__ADS_1


Dengan cepat, aku mandi, kemudian berpakaian. Setelah berpakaian, aku langsung membuka pintu, menarik koper pertama ke bawah, kemudian koper ke dua dan ketiga.


Mama masih dudkuk di sofa sambil mengisi teka teki silang. Saat mama melihatku, mama begitu terkejut langsung berdiri dari kursi sofa, kemudian menghampiri ku “Meta mau kemana?” tanya mama.


“Bisnis Meta gimana?” tanya mama dan aku menggeleng “Meta tidak peduli lagi mah" kataku sambil menangis.


“Jangan tinggalin mama" pinta mama sambil memelukku.


“Tapi mah” kataku sambil ingin lepas dari pelukan mama. Aku hanya butuh waktu untuk melupakan semuanya.


“Meta, emang Meta mau ke mana?” tanya mama.


“Kemana aja mah" kataku. Dan saat aku berhasil lepas dari pelukan mama, mama langsung pingsan. Dengan segera aku menelpon dokter keluarga.


Satu jam, baru mama siuman. Kata dokter, mama terlalu lelah.


Aku kembali membujuk mama. “Mah biarin Meta pergi" kataku.


“Terus mama gimana?"


Belum selesai bernegosiasi, ponsel ku berdering.


Panggilan masuk dari Ninda.


“Lagi nemenin mama”


“Ada kabar baru. Lo udah tahu belum” pertanyaan Ninda membuat jantung ku berdegup lebih cepat.


“Soal apa?”


“Gimana yah? Gue juga ga tau gimana mau ngomong"


“Kenapa? Jangan buat gue penasaran”


“Ini soal lo"


“Gue? Kenapa?”


“Soal lo, Bima sama pak Musa”


Aku hanya menelan ludah.


“Video kalian udah tersebar” kata Ninda.

__ADS_1


“Haha....biarin aja" ucapku. Tapi dalam hati, aku kalut.


Setelah berbicara dengan Ninda, aku langsung mencari kebenarannya. Betapa terkejutnya aku, bahkan media sosialku sudah penuh dengan ocehan murahan.


Semua orang berkomentar tentang diriku.


“Perempuan Murahan lah ya....”


“Wah, emang cewek paling jago mainin hati cowok"


“Mampus lo, ketahuan selingkuh”


Tiga komentar mampu membuat mental ku down.


“Meta, gimana keputusan kamu?” tanya mama.


Aku masih duduk di samping mama langsung menggenggam tangan mama “Soal Bima?” mama mengangguk.


“Meta, masih belum melupakannya mah" ucaku sambil memeluk mama.


“Menangis, luapkan semua emosi mu. Menangis sepuas mu dan lupakan ya sayang" ucap mama sambil mengelus rambutku. Akupun semakin menangis.


“Mama juga minta maaf, karena mama udah jodohin Meta"


“Mah, mama ga marah sama Meta?”


“Buat apa?”


“Udah ngecewain mama" kataku.


“Tidak. Mama, suka dengan keberanian Meta buat ninggalin Bima. Meskipun Meta cinta sama Bima”


“Mah, makasih. Ucapku"


“Temanin mama yah...” ucap mama.


Secara perlahan aku langsung duduk, menatap mama.


Seperti tahu apa yang aku pikirkan, mama kembali menggenggam tanganku sambil berkata “Meta ga hidup demi memenuhi ekspektasi orang lain. Begitu juga orang lain tidak hidup untuk memenuhi ekspektasi Meta"


Aku terharu dengan ucapan mama. Aku terlalu bodoh mau kabur dari rumah, ninggalin mama hanya karena masalah sepele.


Satu minggu waktu yang ku gunakan hanya untuk menemani mama. Bukan karena aku tidak ingin ke kampus lagi atau aku sudah tidak ingin keluar rumah lagi

__ADS_1


__ADS_2