
Musa.
Aku mengatakan “Jangan kerutkan alismu begitu nona. Nanti kamu stroke" seperti yang di katakan Meta saat pertama bertemu dengannya di PAUD.
Astaga. Aku malah memikirkannya lagi, lagi dan lagi. Aku bahkan mengutuk diriku sendiri.
Memulai hubungan dengan Fani ku pikir mampu menjadi pengganti Meta. Tapi nyatanya jangankan sehari saja, sedetik pun pikiranku tertuju pada Meta. Haahh..... ini baru awal untuk melupakan Meta.
Setelah membaringkan Oi, aku pun ikut berbaring. Pandangan ku menatap ke langit-langit kembali membayangkan Meta dan suaminya tadi pagi. Mereka tertawa dan aku iri pada suasana mereka.
“Pelet apa yang dia gunakan?” tanyaku berteriak tidak jelas saat di kamar mandi. Aku malu di dengar Asisten atau didengar Oi.
Meta.... Bahkan berulang kali list keburukan Meta ku baca.
Tuhan ampuni hamba. Ucapku.
Setelah selesai berpakaian, aku langsung mengecek ponselku. Aku begitu terkejut dengan tulisan “10 panggilan tak terjawab" dengan cepat tangan ku mengliknya. Semua dari Meta. Haaaah..... Meta lagi.
Semakin sering Oi Bertemu Oi, kemungkinan aku juga akan semakin dekat dengan Meta.
Musa..... Fokus pada Fani.
Setiap kakiku melangkah aku berulang kali menyebut Fani. Tapi Meta masih ada dalam pikiranku.
Keputusan ku sudah bulat. Menjauhi Meta.
Baru selesai shalat magrib, Fani sudah menelpon.
“Sayang kita dinner ya”
Aku mengela napas.
“Aku sudah di kafe. Aku juga udah share lokasinya" dengan cepat tangan ku mengecek spons lku. Benar saja apa yang dia katakan.
“Oke aku akan kesana" kataku. Dengan cepat ku tinggalkan Oi dan menemui Fani.
Tiga puluh menit, aku sudah sampai.
Meta.
Setelah mengantar Oi pulang, aku langsung pulang.
“Assalamualaikum....”
“Waalaikumussalam calon istriku" ujar Bima sembari membuka pintu.
Aku melongo, terkejut entah.
“kok ekspresi nya gitu?” tanya Bima.
“Kok kamu disini?” tanyaku
“Mau silaturahmi aja" katanya. Sambil sesekali tersenyum kecil.
“Perasaan tadi pagi udah ketemu" kataku masih berdiri di hadapannya.
“Itu udah delaan jam” sambil meninjuk ke arah arlojinya kemudian “delapan jam itu terasa lima ribu tahun kalau ga bareng kamu" katanya. Aku hanya tersenyum kemudian “Kamu mulai nakal ya” dengan suara lirih.
__ADS_1
“Say.....” ucap Bima
“Sya?” tanyaku sambil memasang ekspresi tidak mengerti.
“Sayang” katanya sambil menyodorkan buket bunga mawar.
“Ini untuk kamun calon istri ku" ucapnya sambil menyerahkan buket tadi.
Belum mengambilnya, Bima sudah memasang wajahnya tepat di hadapan ku. “Cium dulu” katanya.
Aku hanya tertawa kemudian “Kau becanda kan?” tanyaku.
“Aku serius" katanya. Matanya menatap mataku. Seketika ku panglingkan wajahnya ku yang tinggal beberapa senti lagi dengan wajah Bima.
“Aku tidak suka ini" kataku.
Bima hanya tersenyum. “Maaf sayang” katanya
Seperti dugaan ku, malam ini, mama dan tante Nova sudah membicarakan soal rencana lamaran kita.
Ah....bahagianya.
“Jadi kapan lamarannya?” tanya Bima saat kami mulai makan. Jantung ku berdegup lebih kencang.
“Bulan depan" kata mama sambil menoleh pada Bima dan aku.
“Bukannya kecepetan mah...” tanyaku lagi. Entahlah apa yang ada di pikiranku
“Ini udah di perhitungkan loh" kata tante Nova kemudian melanjutkan “Mama udah ga sabar gendong cucu" katanya sedikit terkekeh.
Bima malah tersenyum lebar.
“Kenapa ga minggu depan aja?” tanya Bima. Dan kali ini aku mau meledak.
“Bima udah ga sabar? Kenapa? takut Meta diambil orang" goda mama.
“Haahaaa...udah ga sabar aja" katanya
Setelah makan malam, aku langsung menuju ke kamarku, merebahkan tubuhku diatas karirku dan lima menit kemudian, tanganku segera meraih ponsel ku. Dengan penuh semangat, aku langsung menghubungi Ninda.
“Hallo. Assalamualaikum” ucap ku.
“Waalaikumussalam" jawab Ninda.
“Nin.....Jadi, gue pengen curhat” kataku.
“Curhat aja kali. Nih kedua telinga gue siap dengerin. Apapun itu”
“Jadi....”
“Jadi apa? Jadi apa-papa?” tanya Ninda.
Aku tertawa. Kemudian “Pas pulang, aku ketemu Oi”
“Ya Allah, lo curhat itu doang?”
“Ga gitu. Jadi, pak Musa itu duda. Gue baru tahu, kalau istrinya udah ga ada" kataku.
__ADS_1
“Terus?Lo mau jadi istrinya?” tanya Ninda. Dengan semangat empat lima aku langsung mengatakan “Ga mau. Gue mah ogah kali aja lo mau ajuin cv buat taarufan” kataku.
Ku dengar Ninda menghela napas.
“Gue sih mau. Tapi ga tau berlakunya” kemudian melanjutkan “Serius? Lo ga mau ama beliau? Tapi Met, dari gerak geriknya pak Musa naksir lo deh"
“Jangan sembarangan. Gue udah mau tunangan” kataku.
“Asli. Pak Musa tuh berseri banget, kalau ngobrol sama lo"
“Berseri apaan? Tadi, pak Musa aneh hangat. Gue curiga deh. Jangan jangan beliau itu berkarakter ganda"
“Met, lo mau curhat atau gibahin beliau?” protes Ninda.
“Mau curhat. Jadi Aku udah mau lamaran. Bulan depan" ucap ku. Seperti yang kudengar, Ninda sudah menyiapkan seribu pertanyaan.
“Serius?”
“Ama siapa?”
“Ama Bima. Cowok yang aku ceritain itu" setelah pertemuan aku dengan Bima, dengan cepat aku beritahu Ninda soal itu.
“Met, lo ga usah ngawur”
“Lo ga bahagia?” tanyaku.
“Lo benar mau nikah ama Bima?” Ninda malah balik bertanya.
“Iya gue serius” tapi semenjak Ninda tanya in apa aku serius, aku semakin ragu.
“Tapi.....” cukup lama untuk Ninda melanjutkan.
“Tapi?” tanyaku
“Terserah lo” kemudian melanjutkan “Met, lo harus jaga jarak ama Oi"
“Kenapa emangnya?”
“Ntar, pak Musa jadi in lo sebagai ibu sambung Oi"
“Jangan sembarangan lo. Gue ga mungkin nikah sama beliau. Ga mungkin.”
“Met, tapi nih sebenarnya, pak Musa pernah nanyain kamu"
“Nanyain apa?” tanyaku lagi.
“Ice....Lo penasaran?”
“Ga" kataku. Walaupun sebenarnya aku penasaran juga.
“Met, gue dipanggil ama bokap. Dah"
Ku lepaskan ponsel Ku, aku yang mula mula-mula telungkup, sekarang telentang.
Aku kembali memikirkan soal pertunangan bulan depan dan soal Oi.
Aku menghela napas. Meta jangan terlalu mikirin soal ini. Kataku.
__ADS_1