
"Musa"
Setelah satu minggu tidak bertemu Meta, kali ini aku semakin sadar, gadis yang ada di hapanku ini benar menawan.
Meta menganggkat wajah, kemudian pergi.
Aku langsung mengobrol dengan ibunya. Namanya Vega, tapi aku lebih suka memanggilnya Ibu.
"Oh dosennya Meta?"
Aku mengangguk. Tapi kedatangan ku ke rumah ini bukan sebagai dosen lagi melainkan sebagai pribadi.
"Ada apa? Jangan sungkan"
"Bu, sebenarnya aku datang untuk melamar Meta" ucap ku dengan penuh percaya diri.
"Meta masih patah hati, soal calon suaminya yang kasar itu"
Aku mengangguk. Aku sendiri sebagai saksi betapa kasar Bima memperlakukan Meta.
Faris datang kemudian duduk di samping ku.
Sambil mengobrol ringan bersama Faris, akhirnya Meta datang.
Di sajikannya jus alpukat di setiap gelas kaca yang ada di hapannya. Meta terlihat begitu anggun.
__ADS_1
"Ayo silahkan" kata bu Vega, sedangkan Faris memperkenalkan ku pada Meta "Dek, kenalin ini Musa teman abang" katanya. Aku tertawa kecil.
"Kedatangan Musa ke sini karena ada keperluan. Iya kan Musa?" Tanya bu Vega.
Aku mengangguk. Dengan sedikit canggung aku memulai keinginanku.
"Aku hanya ingin menjaga mu hingga halal bagiku menyentuh mu. Malam ini dengan segenap hati "Bismillahirrahmanirrahim" Jadilah pendamping hidupku" ucapku dengan penuh kesungguhan. Aku tidak pandai dala merangkai kata.
Ku lihat Meta terbelalak. Dan saat itu pula aku berharap Meta menggangguk.
"Ini hanya perasaanku. Kalau kamu keberatan katakan saja. Aku sudah siap dengan semua keputusan mu. Tapi, izinkan aku membuat pengakuan. Sejujurnya sudah sejak lama diri ini menyimpan rasa suka " sejak kartu identitas mu di tangan ku sambung ku dalam hati.
"Beri waktu buat Meta" ucap Meta tampak malu-malu.
Aku mengangguk. Aku hanya ingin Meta mau jika tidak, setidaknya aku sudah tidak menyembunyikan apa yang seharusnya Meta tahu.
Sepanjang jalan, aku tidak hentinya tersenyum.
Awal yang baik Musa. Semoga saja Meta terima.
Azka, aku akan menikah dengannya.
Malam ini, semuanya terasa begitu indah.
Setelah mengantar Oi ke sekolah, aku langsung menuju kampus. Di kapus, saat itu pula, aku kembali berpapasan dengan Meta. Aku begitu canggung.
__ADS_1
"Pak, Meta akan memberi keputusan besok" ucap Meta setelah bertemu di taman kampus.
"Apapun keputusan mu nanti. Insya Allah aku siap" kata ku.
"Bagaimana jika tidak sesuai dengan harapan pak Musa?" Tanya Meta. Kami mengobrol tanpa saling menatap.
Meta tampak menikmati udara cerah dan angin sepoi hari ini, begitu pun aku.
"Insya Allah. Jika jodoh akan bersatu dan jika ga, sebesar apapun usaha untuk bersatu kita ga akan pernah satu" ucap ku.
Pandangan ku fokus pada daun ilalang yang bergoyang kala angin menerpa.
"Apakah Meta akan menolak ku? Itu mungkin saja" batin ku.
"Jika tidak sesuai harapan ku, apakah kita masih bisa seperti ini? Sebagai individual bukan dosen dan mahasiswi?" Pertanyaan itu keluar begitu saja dari lisanku.
"Aku mungkin akan melupakan semuanya, dan memulai hidup baru" ucap Meta.
Mendengar jawaban Meta, aku langsung berdiri. Kemudian menoleh kearah Meta.
"Apapun keputusan mu nanti, itu yang terbaik. Aku akan menantikan keputusan mu. Assalamualaikum. Salam untuk Faris dan ibumu" ucap ku.
Jika benar Meta menolakku, maka hentikanlah waktu Ya Allah. Ucapku berulang kali.
"Aku ingin menikah dengan pria pilihan ku" kalimat itu selalu saja menghantui ku.
__ADS_1
"Insya Allah aku siap di tolak olehmu Meta" ucapku sambil memandang foto Meta.
Setelah urusan kantor selesai, aku langsung menjemput Oi.