
“Musa"
Sedang main bersama anak?
Jika saja Meta belum menikah, mungkin sekararjuga, aku akan melarnya. Apalagi, setiap senyumnya mampu membuatku lemas, dan hatiku berbunga-bunga.
Ya...Allah sampaikan ini berlanjut?
Aku mulai mencintai gadis yang sudah menikah. Apa kata orang? Bagaimana perasaan Azka nanri? Pertanyaan seprti itu semakin menghantuiku. Kurebahkan badanku.
Ah....Bisakah aku melupakannya?
“Musa kau hanya ujian dalam rumah tangga Meta"
"Ya Allah jika perasaanku salah maka iklhlaskan hamba dan berilah kelapangan dada pada hamba untuk melupakan Meta"
Pagi setelah mengantar Oi ke sekolah, aku langsung menuju kampus. Baru saja parkir, mataku sudah terperangkap pada gadis yang berjarak hanya lima enam meter dariku.
Jantungku berdegup kencang. Dengan sendirinya pipiku mengembang.
Hanya memandangnya aku begitu bahagia.
Ya Allah ampuni hamba.
Langkah demi langkah mampu membawaku masuk kedalam kelas dan mahasiswa yang baru.
Setelah jam mengajarku selesai, aku langsung menuju parkiran. Jas di tangan kiri dan tas di tangan kananku sudah mampu menunjukan aku terburu-buru.
Langkahku berhenti begitu saja saat sudah berpapasan dengan Meta. Gadis itu membuatku ingin selalu bicara.
“Meta. Kamu belum masuk?” pertanyaan itukeluar begitu saja dari mulutku.
“Lima belas menit lagi pak" ujarnya.
__ADS_1
“Soal kemarin saya minta maaf sudah merepotkan kamu" ujarku.
“Bapak tidak usah sungkan kalau butuh bantuan dari Meta" ujar Meta.
“Bagaimana dengan kuliahmu hari ini?” itu pertanyaan yang ingin kutanyakan. Namun yang berhasil ku ucapakan hanyalah kata “Oke"
“Salam untuk Oi” ucap Meta.
Aku hanya mengangguk. Kemudian pergi berlalu.
Di parkirkan, aku langsung nmasuk kedalam mobil. Kemudian pergi menjauh dari kampus, menuju sekolah Oi.
Cinta? Semua kulakukan demi cintaku pada Azka. Azka menikah dengan pria pilihannya mampu membuatku sedih. Kenapa bukan aku? Tapi bukankah cinta tidak harus saling memiliki?
Sahabat bukan sebagai alasan karena aku mencintai Azka. Sebagai sahabat bukankah aku pantas mencintainya?
Tanpa terasa mobilku telah sampai di sekolah Oi.
Dengan penuh semangat, aku langsung mengendongnya.
“kaka Meta" ujar Oi.
“Kenapa dengan Meta?”
Oi hanya menggelang kemudian sedikit tersenyum heheh
Setiap kali Oi menyebutnya kaka setiap itu pula hatiku ngilu.
“Ayah...kapan kita akan mengunjungi ibu?” tanya Oi.
“Um......bagaimana kalau sebentar?” tanyaku lagi.
“Sebelum maglib?” tanya Oi.
__ADS_1
“Iya sayang. Anak yang pintar.
Setelah sholat Asar, aku langsung menuju ke toko bunga berama Oi. Seperti biasa, aku selalu membeli setangkai mawar merah terbaik. Sederhana namun bagiku itu lebih dari cukup.
Saat hendak masuk kedalam mobil, tanpa sengaja aku menoleh. Dan disanalah untuk pertama kalinya aku melihat Meta bersama suaminya. Mereka jalan sambil mengobrol ringan dan terkadang tertawa riang.
"Berdua? Mana buah hati mereka?"
“Musa kunci perasaanmu" ucapku sebelum masuk mobil.
“Dia sudah bahagi. Aku memikirkan nya? Berhenti Musa"
“Ayo”
“Ayo sekarang sidah sampai" ujarku sambil membukakan pintu untuk Oi.
“Ibu Oi udah datang” ucap Oi.
“Semoga kau baik-baik saja" ujarku.
“Oi, ayo sayang kita berdoa buat ibu”
“Oi sudah bisa baca al fateha”
Kami duduk menengadah. Secara kompak kami mulai membaca surah al fateha.
“Aamiin"
“Ayo kita pulang" ujarku.
Saat sampai di rumah, aku kemlai menuju kampus. Masih ada jam masuk satu jam kedepan.
Namun sepanjang kegiatan ku hari itu, pikiran ku terus berputar soal Meta.
__ADS_1
"Aku harus menikah segera" gumam ku.