
“Musa"
Seperti janji semalam pada Oi, hari ini aku harus mengunjungi Arza, kemudian mengajaknya ke kampus. Sebelum sarapan, semua berkas yang akan ku bawa sudah siap.
“Ayo Oi sekarang kita mengunjungi ibu"
"Ayo" ucap Oi penuh gairah.
dua puluh menit saja akhirnya aku sudah sampai di pemakaman umum.
"Ayo Sayang kita sudah sampai" Ucap ku pada Oi setelah membukakan pintu untuknya.
kami berjalan beberapa langkah sampai akhirnya berada di makam Azra.
“Azra” ucapku pada makam yang ada di hadapanku.
"Ibu"
Sebelum pergi, aku langsung memanjatkan doa.
Matahari semqkin terik. aku langsung melirik arloji.Tiga puluh menit lagi aku akan masuk.
Dengan segera aku menggendong Oi menuju mobil.
"Bismillah" ujarku sambil terus mengemudi.
“Selamat pagi Pak" ujar beberapa mahasiswa sambil tersenyum ramah, saat pertama kalinya aku turun dari mobil.
Kakiku melangkah begitu sepat sambil menggendong Oi menuju ruanganku.
“Ayah akan mengajar. Oi ikut kan?" tanyaku pada putraku.
“Oi ingin di sini" ujar Oi. Syukur ada dosen yang belum masuk mengajar. Jadi kubiarkan Oi bersama bu Franda.
"Pak...biarkan Oi bersamaku" ujar bu Franda.
"Sayang sama bu Franda yah" ucapku sambil mengelus rambut Oi.
Aku berjalan dengan tergesah-gesah.
"Selamat pagi" ucapku saat sidah berada dalam ruangan.
"Pagi pak" sambut para mahasiswa dengan antusias.
Sepuluh menit pelajaran berlangsung, seseorang bersalam.
“Assalamualaikum pak. Maaf saya terlambat" ujar gadis itu.
“Nama kamu siapa?” ujarku.
“Meta A. Qomairoh Hasan pak” ujarnya.
Aku menarik napas. Ya Allah aku sudah jatuh cinta padanya.
Meta masuk dengan menunduk.
Dia tidak tertarik dengan mata kuliah saya?
Setelah mata kuliah selesai, aku langsung pergi menemui Oi.
Tutttttt.......tutttttttt
"Waalaikumussalam......"
__ADS_1
"Baik bu. Saya akan segera kesana"
Ku matikan ponselku.
"Oi...ayo sayang" ucapku saat sudah berada di ruanganku.
"Kita pulang ayah?"
"Ya tentu"
"Terimakasih bu atas bantuannya" ucapku sebelum akhirnya pergi meninggalkan gedung kampus.
“Assalamualaikum" ujarku saat Meta sedang duduk di taman kampus.
Pandangannya hanya tertuju pada Oi.
Please deh ada aku.
“Oi datang dengan siapa sayang ayah?”pertanyaan itu mampu membuatku kikuk.
Sayang? Apakah dia sudah siap? Jadi ibu untuk Oi? Batinku.
Sepanjang hari pikiranku hanya tertuju pada Meta. Gadis manis yang ingin segera kusunting jadi istri ku.
Oh...Please Musa jangan berharap terlalu ketinggian.
saat kembali aku hanya mengucapkan terimakasih telah menemani Oi. Lisanku terlalu kaku untuk mengungkapkan terimakasih yang lebih puitis.
“Oi, hm...” ujarku sambil memegang tengkuk ku.
“Ayah kenapa?”
“Ayo kita makan di kafe"
“Ayah....Tadi Oi makan roti ka Meta"
“Ayo turun" ujarku sambil membukakan pintu mobil.
Kami langsung masuk. Baru saja duduk, aku sudah kebelet pipis.
Sial.....kenapa harus begini. Batinku sambil mengepal telapak tanganku.
“Oi, Yah mau ke wc. Jadi jangan kemana-mana ya" ujarku sambil mengelus pipi Oi sebelum berlalu.
Oi hanya mengangguk.
Hanya butuh waktu sepuluh menit, perasaanku jadi lega.
Alhamdulillah
Aku langsung jalan menuju Oi. Aneh. Tidak ada Oi di sana. Aku langsung menanyakan ke orang sekitar yang sedang makan atau sekedar basa-basi dengan teman mereka namun hasilnya nihil.
Astaga BAGAIMANA INI??
Seketika nama Meta muncul dibenaku. Secepat mungkin ku hubungi nomor telponnya.
“PULSA ANDA TIDAK MENCUKUPI”
Astaga.
Terpaksa pake nomor yang satu. Batinku.
“Hallo Assalamualaikum dengan siapa dimana?” suar meta terdengar begitu indah.
__ADS_1
Ah.....perasaanku jadi NGGAK KARUAN.
“Betul ini dengan Meta A. Qumairoh Hasan?”
“Iya betul. Ada apa dan ini siapa?”
“Dosen akuntansi” ujarku.
“Bapak jangan ngawur pak. Bapak penipu kan? Jujur saja pak” ujarnya berapi-api.
“Kamu mau saya kasih nilai E? Meta hari ini kamu talat masuk sekarang nuduh saya yang tidak-tidak?”
“Ada apa pak? Tapi saya belum percaya sama bapak"
“Sekarang kita ketemu. Terserah kamu mau bawa siapa polisi, security, pembantu, tentara atau siapapun itu. Terserah kamu"
“Pak saya tidak bisa. Saya masih main ama anak pak"
Hatiku ngilu. Apa dia sudah menikah? Pantas saja dia begitu punya naluri sebagai seorang ibu.
“Begini saja. Kamu datang dengan anak kamu. Atau sekalian dengan suami kamu” ujarku.
“Hallo" tidak ada sahutan.
“Hallo"
“share lokasi sekarang. Saya akan kesana" ujar Meta.
Aku langsung mengirimkan lokasi, kemudian duduk sambil menunggu Meta datang.
“Permisi” seketika aku langsung menoleh.
“Pak...Musa? Kok bapak di sini?” tanya Meta penuh curiga.
“Saya sedang menunggu mahasiswa yang bernama Meta Amelia. Ayo silakan duduk"
“Jadi bapak, dosen akutansi baru tadi?” tanya Meta tidak percaya.
“Iya” ujarku datar.
“Maaf. Meta...Meta sudah lancang tadi pak”
“Saya minta tolong. Bantu saya cari Oi” ujarku sambil menatapnya.
Matanya begitu indah.
Beruntung sekali pria yang menikahinya. Batinku.
“Apa? Oi? Oi hilang?” tanyanya meminta kepastian.
Aku hanya mengangguk.
“Hilang pak?hah....bapak sengaja minta bantun Meta kan pak? Karena bapak takut istri bapak marah?”
“Am...” belum sempat ku katakan. Meta sudah memotong.
“Pak. Bapak ayahnya. Kenapa bapak biarkan dia sendiri? Bagaimana kalau istri bapak tahu?”
“Hah....bapak pulang saja. Biarkan saya yang mencari Oi. Tapi jangan lupa bilang ke istri bapak seperti ini SAYANG ANAK KITA HILANG KARENA AYAHNYA YANG TELEDOR INI" ujarnya.
“Tapi...”
“Meta akan menghubungi bapak” Ujar Meta, yang ada di hadapanku.
__ADS_1
Meta itu benar-benar gila.
“Meta..” teriakan ku sudah tidak dipedulikan nya lagi.