Ibu Untuk Oi

Ibu Untuk Oi
Dua Puluh Satu


__ADS_3

“Musa"


Setelah pulang, Oi sudah tertidur. Aku pun ikut tidur.


Hari ini, tepat hari ulang tahun Oi. Aku sudah menyiapkan kejutan ulang tahun untuk Oi di sekolah.


“Ini ulang tahun?” tanya Oi saat berada di kelas.


“Happy birthday”


Setelah memotong kue, Meta datang. Memberi kado untuk Oi dan makan siang bersama. Aku duduk menyendiri sambil membalas pesan singkat Fani.


“Selamat ulang tahun Oi” ucap Fani. Dengan segera, aku pun langsung menjawabnya “Terimakasih Sayang” sambil ku selibkan emoji kiss.


“Kau ada waktu?” tanyaku.


“Hari ini aku sibuk"


Aku sedikit berpikir “Bagaimana kalau besok?” tanyaku.


“Oke" balas Fani. Dan saat menoleh kearah Oi, seseorang datang dan berteriak tidak jelas.


“Ini alasan kamu buat sibuk?” tanya pria itu. Dengan segera, aku langsung menarik Oi, membawanya pergi dari sana.


Setelah, mengantar Oi ke dalam mobil, aku kembali kepada Meta dan pria itu.


Aku ingin meluruskan salah paham mereka.


Betapa terkejutnya aku, saat melihat pria itu menampar Meta.


“Beraninya kau sama wanita" ucapku. Dengan segera Meta pun menoleh.


“Aku hanya ayah anak itu" ucap ku. Dan sesuatu telah terjadi. Di luar dugaanku, pria yang bernama Bima itu menghantam perutku.


Aku tahu, ini salahku. Aku terlalu berani mengajak calon istrinya.


“Maaf, aku minta maaf” ucapku. Dan hanya itu yang bisa ku ucapkan.


“Pak, Bapak pergi dari sini" teriak Meta.


Aku masih membisu. Aku tidak akan ikut campur urusan pribadi mereka. Aku bahkan melihat percekcokan di depan mataku sendiri.


“TIDAK ADA HUBUNGAN DIANTARA KITA LAGI” ucap Meta.


“LAMARAN TIDAK ADA LAGI” ucap Meta sambil menangis.


“Perempuan murahan” ucap Bima kemudian pergi.


Aku masih di sana. Melihat, betapa susahnya Meta berdiri. Aku ingin membantunya, tapi aku tidak bisa.


Setelah berdiri, gadis itu berteriak memanggil nama Bima. Meskipun jelas Bima telah meninggalkan dirinya. Meta menangis. Air matanya mengalir begitu deras.


Setelah merogoh saku, ku berikan sapu tangan ku pada Meta. Sapu tangan yang telah ku ukir dengan inisial nama Fani.


“Lap air matamu" ucapku sambil menyerahkan sapu tangan.


“Terimakasih pak, meta tidak bisa. Meta, Meta minta maaf" cap Meta sambil mengembalikan sapu tangan ku. Dan hatiku ngilu.

__ADS_1


“Lupakan itu. Jauhi Oi, dan mulailah hidup baru" kataku. Meskipun aku begitu sedih dengan peristiwa hari ini, aku ingin membebaskan hatiku, dan memulai hidup yang baru.


“Terimakasih” ucap Meta. Kemudian menatap ku beberapa saat, kemudian pergi.


Aku pun pulang.


“Pak tolong, buatkan nasi padang" kataku. Saat berpapasan dengan pak Guli, kepala koki kami.


“Sekarang Tuan?” tanya pak Guli sambil menggenggam tangannya.


Aku hanya mengangguk. Kemudian, Aku langsung masuk ruangan pribadiku, setelah mengantar Oi di kamar. Aku langsung meeting online dengan beberapa klien.


Setelah selesai meeting, aku langsung menuju kamar, kemudian menelpon Fani. Tanpa sengaja tanganku menekan nomor ponsel Meta.


“Assalamualaikum, Meta minta maaf” katanya.


“Maaf salah tekan” kataku sembari memutuskan panggilan ku.


“Oke Fokus" kataku.


“Oke Fokus” kataku saat sudah berada di kamar.


“Ayah, ini ail minum"


“kata iklan di tivi tidak fokus kalena butuh aqua. Hehehe” aku langsung mengambil botol air mineral yang Oi suguhkan.


“Terimakasih anak yang pintar" kataku sambil mengelus rambutnya.


Tutttt.....


Ponselku bergetar.


“Iya” kata Fani dengan penuh antusias.


“Aku sudah memesankan tempat paling romantis” kataku.


“Terimakasih” kata Fani. Dan aku bohong soal itu. Dengan segera, aku langsung menghubungi pak Ridwan managerku.


“Booking kafe terbaik daerah sini"


“Sekarang pak?”


“Tentu saja"


Kataku. Dengan cepat, aku langsung memilih pakaian terbaik untuk malam ini.


Setelah magrib, aku langsung ke kafe. Membawa buket bunga, dan yang pasti, aku juga menyiapkan pemain biola yang langsung memainkan biolanya. Aku ingin, momen seperti ini, mampu membuat hatiku teguh dengan keputusan ku.


“Hallo di mana kamu sekarang?”


“Aku sudah ada di belakang kamu" aku langsung menoleh.


“Sayang”


“Terimakasih” kata Fani.


Meskipun bersama Fani, aku belum bisa menerima nya.

__ADS_1


“Musa, hey.... kamu lamun gitu? Kenapa?”


“Menurut kamu nih, aku pria yang baik?” pertanyaan ku keluar begitu saja dari mulutku.


“Kenapa ngga?”


“Aku takut mengecewakan kamu” kataku.


“Maksud kamu?”


“Aku selalu sibuk" kataku.


“Aku mengerti. Dan aku bahagia, aku bisa jatuh cinta dengan laki-laki yang seperti kamu" kata Fani.


Hatiku ngilu.


“Bagaimana kalau kita ga jadi nikah?” pertanyaan ku barusan, mbuat Fani tersedak.


Aku langsung menyodorkan jus apel pesanannya.


“Musa, aku ga suka dengan permainan ini. Kalau kamu suka cewek lain ya udah. Akhiri ini. Lupakan aku" kata Fani.


“Ga, aku hanya....” kataku sambil memutar bola mataku.


“Bersumpah kalau kau punya perasaan padaku" paksa Fani. Dan aku masih diam saja.


“Aku masih berusaha” kataku.


“Kita akhiri ini. Lupakan ini dan maaf aku terlalu berharap padamu. Nikahi wanita yang kau cintai itu. Nikahi Meta" dengan cepat, tangannya menarik tas jinjingnya.


Fani pergi dengan menangis. Biola masih saja di mainkan sesuai permintaan ku. Romantis.


“Fani” teriakku sudah tidak di perduli kan lagi.


Aku ingat soal wangi yang mampu membuatku ingin muntah, serta mata yang penuh harapan itu kini meninggalkan ku. Aku ingin menangis sekarang.


Meskipun aku masih mencintai Meta, aku ingin bisa mencintai Fani. Bahkan aku sendiri sudah muak dengan permainan ku sendiri.


Aku langsung menghubungi Fani. Dan saat itu pula Fani sudah tidak aktif lagi.


Aku langsung berdiri menghambur semua yang tersaji di meja makan.


“Ridwan, bereskan semuanya" kataku.


Aku menyesali ucapan ku sendiri. Aku menyesali keputusan konyolku. Aku menyesali ini. Kali ini, aku benar-benar kehilangan.


Aku langsung menuju mobil, memukul setir mobilku. Aku berteriak tidak jelas.


Aku langsung pulang. Saat sampai di rumah, aku langsung mengirimkan ratusan kata Maaf untuk Fani. Bahkan aku langsung mengirimkan nya langsung ucapan maaf ku melalui asisten pribadi ku.


Aku bahkan tidak ingin hari ini ada dalam hidupku. Meskipun aku belum bisa mencintai Fani, aku bisa mengerti bahwa Fani orang yang tepat untukku walaupun aku bukan yang tepar untuknya.


Aku langsung masuk ke kamar rahasia ku. Berdiam diri, dan menangis.


Aku juga lemah. Aku juga terluka. Dan hari ini terasa begitu berat. Aku menyia-nyiakan wanita baik yang pernah hadir dalam hidupku ini. Fani.


Kenapa aku harus terjebak dalam perasaan ku? Aku sudah terjebak pada dua wanita. Satu yang paling ku cintai dan satu paling mencintai ku.

__ADS_1


“Fani” ini salahku. Mempermainkan perasaan wanita yang tidak tahu menahu soal pelarian ku.


"Tapi bagaimana Fani mengetahui soal Meta?" Pertanyaan itu timbul tenggelam di pikiranku.


__ADS_2