Ibu Untuk Oi

Ibu Untuk Oi
Lima Belas


__ADS_3

Baru saja memarkirkan mobil, Fani sudah menelpon ku lagi.


“Aku sudah sampai Sayang" kataku sebelum Fani bertanya. Dengan cepat, aku melangkah menemui Fani.


Aku berjalan melewati beberapa meja, dan sampai akhirnya berdiri tepat di meja kami.


Aku begitu terkejut, tepat di meja kami, Fani sudah menyiapkan beberapa lilin. Beberapa hidangan yang dihiasi ukiran hati.


“Gimana?” pertanyaan pertama yang fani tanyakan. Secara spontan aku mengerutkan alis, dan aku mulai mengatakan bahwa jalanan tidak semacet biasanya.


“Sayang, bukan jalannya" kata Fani.


“Lalu?” tanyaku.


“Kejutan ini" kata Fani sambil berdiri beberapa saan. Aku memandangi Fani, dari atas, hingga bawah sebelum akhirnya Fani duduk.


“Ini berlebihan sayang" kata ku. Kata sayang yang keluar dari lidahku seperti begitu aneh bagiku, terasa kaku dan ha....h cukup sulit.


“Sayang. Ini spesial. Buat kamu, buat kita" kata Fani sambil memandang ku dengan memasang wajah memelas.


“Ini luar biasa. Bravo" kataku.


“Terimakasih” kata Fani sambil menatap ku.


“Kamu pasti lelah"


“Tidak”


“Aku tidak ingin kamu terlalu sayang" kataku. Fani langsung menatap ku.


Aku menatap wajahnya juga. Manik mata kami bersemu, saling memandang dan keadaan akupun hilang terbawa arus cinta. Seharusnya begitu. Tapi ini berbeda. Saat mataku bertemu manik matanya, bukan salah tingkah, rasa nyaman yang ku temukan disana, melainkan rasa bersalah. Aku sudah terlalu mempermainkan banyak hati hanya untuk menutupi hatiku. Mengubur cintaku.


Cukup lama kami saling memandang, sampai akhirnya ku lihat, tangan Fani hendak menggenggam tangan ku. Dengan cepat, aku pura pura batuk. Dengan seketika Fani meraih tisu kemudian memberikan nya padaku.

__ADS_1


“Terimakasih” kataku.


“Ayo kita makan" kata Fani saat sudah memegang pisau dan garpu. Tangannya sudah siap memotong stik yang ada di hadapannya.


Aku terus memperhatikannya. Dia tidak kalah cantik dari Meta. Tapi entah kenapa aku masih butuh waktu untuk mencintai Fani.


“Kamu udah kenyang?” tanya Fani sat tersadar aku hanya memegang pisau dan garpu sambil terus memandangi nya.


“Sayang" kata Fani lagi.


Aku langsung salah tingkah. “Eh......itu Aku hanya mikirin Oi" kataku.


Fani menatap ku. “Oi baik baik aja”


Aku bersyukur Fani tidak menanyakan lebih lanjut soal kenapa aku selalu melongo.


“Bagaimana soal bisnis kamu sekarang?” tanya Fani.


“Alhamdulillah” kataku tanpa basa-basi.


Katanya “Apa mereka menjengkelkan?” tanya sambil menyodorkan tisu hendak membersihkan mulutku, dan aku langsung meraih tisunya.


“Terimakasih Sayang" kataku.


“Musa, kamu itu serius ga sih, jalin hubungan dengan aku? Hubungan kita” tanya Fani, setelah banyak bercerita dan responku hanya mengangguk saja.


“Aku serius” kataku dan batinkupun melanjutkan “Mau lupain Meta"


“Apa? Serius?” tanya Fani lagi.


Dengan cepat aku mengangguk.


“Terimakasih sayang” mata Fani begitu berbinar. Dan aku kembali mengutuk diriku.

__ADS_1


“Dasar Brengsek. Kenapa aku lakukan ini pada gadis ini?”


Fani tersenyum bahagia. Dilepaskan nya, sendok di tangannya dan dia mulai menutup mulut nya. Sama persis, seperti di film saat wanita di lamar kekasihnya.


Ya Allah, satu kebohongan, mengundang seribu masalah.


“Jadi? Kapan kamu mau nikahi aku?” tanya Fani.


“Saat sudah tepat” kataku. Aku langsung mencari segala pertimbangan.


“Kita akan menikah, saat kamu bisa terima aku, dan aku bisa terima kamu" kataku.


“Jadi kamu belum menerima aku? Terus kamu pikir, aku ga terima kamu?” aku tahu perkataanku sudah melukai hatinya lagi.


“Kau tahukan sayang, aku punya Oi" kata ku. Aku mengerti Fani berusaha tersenyum.


“Dan aku minta maaf Sayang” kataku, sambil memberikannya kado.


“Ini untuk kamu" kataku lagi.


“Serius sayang?” kata Fani. Aku langsung menyuruh nya membuka kado itu.


“Sayang pakein" aku langsung pergi di belakangnya, mengikat kan kalung itu di lehernya. Dan seketika, wangi parfum di lehernya merangsang ku untuk “Muntah" aku tidak suka wangi yang seperti itu.


“Terimakasih Sayang”


Saat duduk, kamu kembali bercerita banyak hal sebelum akhirnya kita pulang.


Saat sampa di rumah, Oi sudah tertidur. Dan akupun melepaskan pakaianku, mandi, memakai baju tidur dan kurebahkan tubuhku tepat disamping Oi.


“Azra, aku masih memikirkan Meta"


“Aku sudah lelah, bahkan dengan permainnan yang aku ciptakan” kataku sambil menitup mata.

__ADS_1


Dan saat tertidur, aku bermimpi bertemu dengan Meta lagi.


__ADS_2