Ibu Untuk Oi

Ibu Untuk Oi
Satu


__ADS_3

“Musa”


Seperti biasa, setelah selesai mengurus semua dokumen, aku langsung pergi menjemput Oi. Dia putraku, baru berusia lima tahun.


Saat sampai depan PAUD dimana putraku berada aku begitu terbelalak melihat Oi, putraku sedang jalan dengan seseorang yang tak pernah aku kenal sebelumnya.


Oi begitu erat memegang tangan wanita itu. Seketika aku kembali mengingat berita yang baru saja beredar maraknya penculikan anak.


“Jangan-jangan penculik anak" sketika aku berteriak "Oi....Oi" setelah mendengar namanya di panggil Oi hanya menoleh. Sedangkan mereka masih terus melangkah menjauh dari area PAUD.


“Ya Ampun” jantungku berdegub semakin tidak karuan.


Aku langsung belalari mengejar Oi.


Saat sudah di hadapan Oi aku langsung menarik Oi.


“Enak saja Anda mengambil anak saya" ujarku padanya. Gadis yang ada di hadapanku itu hanya tersenyum.


"Tuan....Maaf Anda salah paham. Saya tidak ingin mengambil anak Anda. Saya hanya akan menemani anak ini" ujar gadis itu sambil mengelus rambut Oi. Kemudian menunduk mendekati wajah Oi. Kemudian berbisik “Jadi anak baik Oi” ujar gadis itu sambil mengelus rambut Oi tiga kali.


.


“Telima kasih kaka. Sekalang ayah sudah jemput" ujar Oi padanya.

__ADS_1


Jiwaku meronta seakan tidak terima dengan sandiwara yang ada di depannya.


Apa ini? Kaka? Oi? Dasar gadis yang tidak tahu diri.


“Hati-hati sayang" ujar wanita itu sambil melambaikan tangannya kemudian berbalik kearahku "Terima kasih sudah menjemput Oi" ujar gadis itu.


Ya ampun gadis ini beraninya memanggil putraku dengan sebutan sayang.


"Tuan jangan terlalu berpikir negatif. Dahi tuan sudah terlalu berkerut. Takutnya ntar stroke" ujar wanita itu.


"Haaaahhh" gadis itu begitu memperhatikannku?


"Terima kasih sudah menjemput Oi" ucapnya lagi.


“Sial. Apa-apaan ini? Terima kasih sudah menjemput? Sadar diri, Oi putra saya. Jadi wajar kan? “Batinku.


Baru saja mau melypakan gadis itu Oi langsung berteriak "Dah....Kaka" ujar Oi sambil melambaikan tangnnya. Gadis itu menurunkan kaca mobilnya kemudian menoleh.


“Oi..ayo kita pulang"


ujarku kemudian menggendong Oi menuju mobil.


Dalam mobil Oi diam sejenak, kemudian menyanyikan lagu dalam bahasa arab yang tak bisa ku mengerti apa yang ia katakan.

__ADS_1


“Oi.. Ayah harap kamu harus hati-hati" ujarku apalagi orang asing seperti gadis tadi batinku.


“Tadi...kaka itu hampil tablak Oi"


Seketika kakiku langsung menginjak rem. Setelah mobil berhenti, aku lansung memeriksa Oi.


“Ayah...Oi bilang jampil. Itu kaka Meta"


“Syukurlah. Ayo kita turun”


KAKA meta? Sudah sejauh apa gadis itu meracuni Oi?


“Ayah mau belanja?”


tanya Oi.


“Iya sayang. Belanja dan makan" ujarku sambil tersenyum lebar dari tadi pagi aku belum makan.


“Ayah terbaik di sini" ujar Oi sambil mencium pipiku. Kubalas dengan mencium pipinya juga.


“Ayo turun" ujarku sambil membukakan pintu. Setelah Oi turun aku langsung menggendong nya.


“Ayo belanja"

__ADS_1


“Yeh...Ayah Oi mau makan gula-gula” ujar Oi.


Saat Oi bahagia seperti itu, hatiku seperti teriris. Hatiku ngilu. Hatiku menangis. Aku masih terus membayangkan wajah Arza, ibu Oi saat bahagia. Aku masih begitu merindukannya, mengharapkannya.


__ADS_2