Ibu Untuk Oi

Ibu Untuk Oi
Dua Puluh Tiga


__ADS_3

Sudah satu minggu kejadian di taman berlalu.


Hari ini Musa Alma Al Azka menuruni an tangga kampus sambil sesekali menengok ke kiri dan kanan berharap Meta ada di sana.


Sapaan dari beberapa mahasiswa di balasnya dengan senyuman. Di liriknya arloji di tangan kiri kemudian bergumam "saatnya menjemput Oi" katanya.


Musa jalan dengan terburu-buru. Membuka pintu mobil, kemudian masuk. Musa merenggangkan tubuhnya, kemudian berselancar di internet. Di bukanya media sosial, kemudian mengetik nama "Meta A. Hasan".


Musa begitu tersenyum ketika apa yang di carinya telah nampak.


"Terakhir kali bersama Oi" itu unggahan terakhir Meta. Dalam postingan itu Meta menggunakan atasan kemeja putih, persis hari ulang tahun Oi.


Musa mengerutkan alisnya. Terakhir kali? Mau kemana? Bukannya Meta sudah putus dengan Bima?


Haaaah....andai saja hari itu tidak ada. Andai saja hari itu aku tidak mengizinkan Meta bersama Oi.


Musa menarik napas panjang kemudian menyetir setelah memutar murotal. Secara perlahan mobil Musa sudah melaju meninggalkan kampus.


Dua puluh menit kemudian Musa sudah berada di PAUD.


Musa turun dari mobilnya, berlari kecil menghampiri Oi.


"Ayo, anak ayah" ucap Musa sambil mengulurkan tangannya. Secara perlahan Oi menggenggam tangan ayahnya.


"Oi, Meta udah ga pernah datang lagi?" Tanya Musa pada putra semata wayangnya sambil menyetir.


Oi hanya menggeleng.

__ADS_1


Astaga Meta benar-benar menghilang. Batin Musa.


Fani sudah bahagia dan aku? Batin Musa.


Satu jam kemudian, mobil Musa sudah memasuki garasi rumahnya.


"Ayo" ucap Musa.


Tiga puluh menit kemudian setelah makan siang, Musa sholat dzuhur kemudian mengaji.


Setelah mengaji Musa langsung berendam dengan air hangat.


Setelah cukup lama berendam, Musa kembali memikirkan Meta.


Bagaimana kalau aku ke rumah Meta? Batin Musa setelah sepuluh kali menghubungi Meta.


Bahkan untuk setiap kemungkinan yang ada, selalu saja sulit untuk memulai hubungan kembali dengan Meta.


Setelah selesai berendam, Musa berpakaian. Kali ini Musa hanya memakai atasan kaos dan celana boxer.


Baru satu jam di rumah, Musa sudah ada jadwal lagi.


"Pak meeting akan di mulai satu jam lagi" ujar Ridwan melalui pesan suara.


Dengan segera Musa mengganti pakaiannya, kemudian pergi menemui klien.


Setelah selesai meeting dan sholat magrib, Musa langsung saja menuju ke rumah Meta, sesuai dengan alamat yang tertera di kartu identitas Meta.

__ADS_1


Musa begitu terkagum dengan suasana rumah Meta.


Saat mobil Musa memasuki halaman rumah Meta, sudah ada seorang pria di garasi.


Secara perlahan Musa turun dari mobil.


"Musa mau ke mana lo?" Pertanyaan itu di lontarkan pria yang sedang menurunkan beberapa koper dari bagasinya.


Musa langsung menghampiri pria itu.


"Faris? Gua mau bertemu pemilik rumah ini"


"Nemuin gua? Rindu loh ama gua" tanya Faris sambil tertawa. Faris teman Musa saat SMA.


Musa mengangkat bahu.


Dengan segera Musa dan Faris menuju pintu dan mengetuknya.


"Tok.....tok...."


"Assalamualaikum" Seorang wanita paruh baya datang membuka pintu. Kemudian tersenyum lebar "Faris....." ucap wanita itu sambil memeluk Faris. Faris pun memeluknya dengan erat.


"Siapa ini?" tanya Vega.


"Saya Musa. Metanya ada?" pertanyaan itu keluar begitu saja dari lisan Musa.


Vega tersenyum kemudian "Meta? Ada di dalam. Ayo silakan masuk" ucap Vega. Baru saja bertemu ibu dan kakak Meta, Musa sudah mulai grogi.

__ADS_1


Musa kamu bisa melamar Meta hari ini juga. Batin Musa.


__ADS_2