Ibu Untuk Oi

Ibu Untuk Oi
Empat


__ADS_3

"Meta"


Terlalu kegirangan saat kak Imwan bilang gamis ku sudah di bungkus, aku sampai lupa mengambil kartu identitas ku.


Aku sendiri sampai lupa berpamitan pada Oi dan pada ayah judesnya itu.


“Kak mana gamis?” tanyaku saat sudah sampai di butik kak Iimwan.


“Ini" ujar Iwan sambil membukanya dari bungkusan.


“Oh...my goodness” ujarku girang.


“Gimana? Bagus kan?” tanya Iwan.


“Aku suka. Beribu kali lipat lebih memuaskan dari ekspektasi" ucapku yang masih melotot terkagum-kagum.


“Pokoknya keren. Cocok loh untu foto prewweding"


goda kak Imwan.


“Biasa aja" ucapku.


“Btw. Makasih ya” ujarku.


"Yoi. Masuk dalam yuk. Gue udah beli makanan. Temani gue makan ya" ujar ka Imwan.


"Iya Meta temenin" ucapku.


Toh sekarang baru setengah dua siang.


Setelah ka lmwan selesai makan aku langsung pamit.


"Mau kemana? Tergesah-gesah bangat" tanya ka lmwan sambil terus menatap ku.


"Mau ambil kartu identitas" ucapku sambil berlalu.


Gawat kartu identitasku.

__ADS_1


Dengan sedikit berlari, aku langsung menuju toko buku tempat mba Rama. Betapa terkejutnya aku, toko buku itu sudah tutup.


Aku langsung duduk di kursi sambil mengatur napas yang ngos-ngosan.


“Sabar Meta. Besok datang cek” ujarku sambil menghibur diri.


Ratusan kejahatan dengan menggunakan ktp terbayang di benakku.


“Please Meta positif thinking in”


"Mba Rama orangnya baik"


"Meta apa yang lo pikirin itu belum tentu buruk. Plis jagan panik"


Tut......tut.....


Ponselku langsung berdering.


Nomor baru memanggil.


Aku mengela napas “tanpa nama" dengan cepat tanganku menekan warna hijau.


Bukannya menjawab orang itu malah kembali bertanya “Ini Meta Amelia Qumairoh Hasan?” tanya suara itu.


Jantungku berdegup lebih kencang.


“Maaf pak. Bapak siapa yah?” tanyaku dengan penuh hati-hati setelah memastikan pemilik suara itu seorang laki-laki.


“Saya Musa Alma Al Azka”


“Maaf pak ada apa ya? Kok bapak telpon saya? Ko bapak bisa tahu nama saya" tanyaku penuh curiga.


“Ini saya ayahnya Oi"


Oh jadi pria tupawan tapi angkuh itu bernama Musa Alma Al Azka? Musa Alma? apakah dia yang menjadi dosen akutansi baru itu? Tidak mungkin. Dosen akutansi bernama pak Azka? Ah.....mungkin hanya sama nama belakang.


Batinku.

__ADS_1


"Oh...iya. Ada apa pak?" tanyaku.


“Ktp kamu ada sama saya. Jadi kapan kamu bisa ambil KTP kamu?” tanyanya


Dengan wajah masih pasi aku langsung mengatakan.


"Saya sudah di depan toko mba Rama pak"


"Identitas kamu ada sama saya. Jadi, kapan saya harus mengembalikannya?"


“Pak Musa. Bapak simpan saja di tong sampah KTP saya. Saya takut istri bapak mengira saya pelakor" kalimat itu yang keluar dari lisanku.


Sebenarnya kata yang ingin ku sampaikan “Bapak tidak usah repot. Saya akan datang ambil ke toko buku besok"


Aku langsung menepuk jidat. Gawattt.


“Pelakor? Apa itu?"


“Pe...pe...pencuri la...laki...orang pak" jawabku sambil menelan ludah.


“Oh..jadi kapan kamu mau...Menikah?”


“Pak...jangan gara-gara saya dekat dengan Oi bapak bisa seenak nya sama saya”


permainan apa ini?. Batinku.


“Oh...maaf maksud saya kapan ktp anda akan ambil?” tanyanya.


“Secepatnya pak"


"Saya akan kesana sekarang"


"Tidak usah repot pak. Bapak bisa memberikannya di lain waktu"


“Terimakasih. Assalamualaikum”


Sepanjang jalan pulang, aku tidak habis pikir dengan ucapan Musa. Dasar orang tua gatal. Batinku.

__ADS_1


Saat sampai di rumah, aku langsung masuk ke dalam kamarku. Melepaskan semua pakaian luarku.


"Aku mau mandi" ucapku sambil berteriak.


__ADS_2