
"Musa”
Setelah selesai berbelanja dan makan, aku langsung menggendong Oi menuju ke pada Rama, wanita penjaga toko buku yang suda laku kenal.
Karena azan sholat dzuhur sudah dikumandangkan, aku segera meninggalkan Oi bersama Rama.
Perasaanku kacau, tak karuan. Sebagai dosen seharusnya aku lebih profesional. Batinku.
Hari pertama masuk mengajar, aku malah tidak hadir. Apalagi ada gadis yang mendekati Oi menambah pikiranku kacau balau. Sebagai seorang ayah tanggung jawabku semakin besar.
Aku tidak ingin kejadian tadi pagi terulang kembali.
Saat pulang dari sholat dzuhur, aku memikirkan Arza. “Maafkan aku Arza. Putra kita sekarang sudah semakin tumbuh" ucapku.
Semakin jauh kakiku melangkah maka pikiran kembali pada gadis berkerudung tadi.
Ya ampun aku masih belum bisa melupakannya.
"Azra, sahabatku yang paling ku cintai kenapa engkau meninggalkanku? Padahal aku ingin bercerita banyak hal” ucapku. Kemudian aku menghela napas.
“Move on" ujarku sambil tersenyum kecut.
Sebelum masuk mall aku begitu tersenyum bahagia. Namun seketika aku begitu marah. Saat aku begitu kaget melihat Oi memegang erat tangan gadis itu. Belum sempat mempergoki niat buruk gadis itu aku langsung kebelet pipis.
“Sial"
ucapku sambil memaki diriku. Aku berlari menuju wc terdekat.
“Alhamdulillah legah" ujarku saat keluar wc. Saat kembali Oi sudah tidak ada.
Mataku sudah tidak melihatnya. Aku langsung berlari, menuju ke Rama.
Ya ampun Oi dan gadis itu sudah ada di sana sambil menikmati es krim.
__ADS_1
“Apa yang dia inginkan?” batinku.
Langkahku semakin mendekatinya. Saat itu pula manik mata gadis itu berpapasan dengan mataku membuatku begitu kagum dengan paras yang begitu menarik.
Entah apa yang terjadi kami begitu kompak mengucapkan istighfar.
Baru saja aku sampai, gadis itu langsung berlalu.
“Oi itu siapa sayang?” tanyaku pada Oi. Meskipun aku sudah tahu namanya. Gadis itu pasti Meta.
“Kaka Meta ayah” ujar Oi.
Kaka Meta?
“Mbak kenapa bisa membiarkan Oi pergi dengan orang asing?” tanya ku sambil mengigit gerahamku sendiri. Bagai mana mungkin aku bisa percaya dengan gadis itu.
“Dia sudah menitipkan identitasnya” ujar Rama coba membela diri.
“Oh...iya pa. Ini kartu identitasnya” ujar Rama sambil menyerahkan ktp dan kartu nama gadis itu.
Aku mengambil kartu identitas itu. Dengan segera aku langsung menggendong Oi.
Kami langsung pulang.
“Assalamualaikum kami pulang" ujarku secara bersamaan dengan Oi.
“Siang tuan" ujar bi Ira.
“Bi tolong masak ini" ujarku sambil menunjuk kantung kresek yang di pegang Ardi.
“Siap tuan"
Dalam kamar, aku langsung menurunkan Oi melepas sepatunya dan mengobrol dengannya.
__ADS_1
“Sayang jangan dekat sana kaka yang tadi yah" ujarku dengan penuh hati-hati.
“Ayah...kaka itu baik. Tadi beliin aku es kim"
"Es krim?" tanyaku sambil mengerutkan alis.
"Iyah"
“Anak ayah ini” ujarku sambil mencium pipi Oi.
“Ayo sekarang kita tidur” ujarku.
“Ayah” panggil Oi sambil menepuk tanganku.
“Iya Oi"
“Peluk Oi"
“Anak yang manja" ujarku sambil memeluknya.
“Temani Oi tidul"
Aku hanya ber-um dengan riang.
Setelah Oi tertidur tertidur, aku langsung bangun. Mengecek handphone. Tanpa sengaja kartu identitas gadis itu terjatuh dari dompetku.
Nama: Meta Amelia Qomairoh Hasan.
Mataku langsung tertuju pada foto gadis itu. Cantik. Tanpa kusadari pipiku mengembang.
Astaga secepat itu aku langsung tertarik padanya
pada Meta?
__ADS_1