Ibu Untuk Oi

Ibu Untuk Oi
Dua belas


__ADS_3

Sepanjang malam Meta memikirkan Bima sedangkan Musa mulai memikirkan kesalahannya.


“Musa kamu udah salah. Stoop pikirin istri orang. Buka perasaan buat orang lain" ucap Musa berulang kali di depan kaca.


Ketakutan akan perasaannya semakin menggejolak.


"Musa"


Setelah berpikir cukup lama, akhirnya ku putuskan untuk mengakhiri semua ini.


Dengan cepat aku langsung mengirimkan pesan singkat untuk Fani “Ada waktu sebentar? Ayo kita bertemu di restoran keluarga” setelah mengirim pesan tersebut, perasaan ku semakin acak.


Bismillah ucapku setelah memakai dasi.


“Oi, ayo kita ke sekolah” ucapku.


Oi yang sudah siap dengan semangat mengatakan “Ayo"


Setelah aku langsung mengantarkan Oi.


Tiga puluh menit kemudian aku sudah ada di kampus. Dan pemandangan pertama yang kulihat adalah Meta sedang ngobrol dengan suaminya. Mungkin.


Dadaku sedikit sesak. Tekan perasaanmu Musa. BISMILLAH.


Aku mencoba untuk tidak berpapasan dengan Meta hari ini. Semakin sering bertemu Meta, semakin tidak waras pula diriku.


“Selamat pagi pak" sapa seseorang saat aku begitu terburu buru mau pergi meeting. Kakiku melangkah begitu cepat, sesekali aku berlari kecil.


Aku menoleh. Begitu kagetnya aku saat melihat Meta yang menyapaku. Aku hanya membalas “Pagi"


Jam makan siang, aku langsung menemui Fani seperti janjiku. Dan satu hal yang pasti, aku lupa menjemput Oi.

__ADS_1


“Hey" sapa Fani saat sudah ada di hadapanku.


Aku mengangguk “Ayo silakan” ucapku setelah menarik kursi mempersilakan Fani duduk.


“Terima kasih” ucapnya.


“Ada apa?” tanya Fani memecahkan keheningan diantara kami. Aku pun sibuk dengan pikiranku soal Meta.


“Katanya kamu mau ngomong. Ngomong apa?”


Dengan sesekali mengeluh tengkuk ku, aku langsung memberi nya cincin.


“Kamu lamar aku?” tanya nya.


“Aku mengengguk. “Begitu. Kamu mau?” tanyaku.


Batinku selalu berdoa. Semoga aku bisa melupakan nya. Meta. semoga bisa.


"Kamu mau memulai hubungan dengan ku?" Tanyaku lagi. Lebih tepatnya aku yang meyakinkan diriku. Kau mau menikah dengan Fani tanpa ada perasaan mu padanya Musa?


“Tidak. Em...maksudku kita belum menikah” ku lihat Fani memasang wajah cemberutnya.


Tiga puluh menit bersama Fani terasa seperti satu tahun. Hampa.


“Astaga. Oi" ucapku sambil menepuk jidatku.


“Ayo, aku akan mengantar mu pulang" ucapku.


“Tidak usah. Aku bisa naik taxi” katanya.


Tapi, tahu tahu betul saat wanita menolak, dia hanya ingin melihat seberapa besar usaha yang dilakukan si Cowok.

__ADS_1


“Musa, aku menyesal baget saat Juno ajak pulang aku ga mau di anter,padahal, gue pengen"


ujar Azka saat aku masih SMA


“terus kenapa lo tolak Azra"


“Cuma pengen liat usahanya aja”


Aku kembali menghela napas panjang.


“Aku, maksudku kita baru saja menjalin hubungan. Jadi itu tanggung jawab ku" ucap ku.


Dengan malu-malu, akhirnya dia mengangguk.


Setelah selesai makan siang, aku langsung menuju ke sekolah Oi. Dan disana sekolah sudah sepi.


“Pak Musa tetal. Oi sudah pulang di jemput ibunya" kata pak Dimang. Aku sampe keringat dingin memikirkannya.


“Upsss....Terimakasih pak" ujarku. Aku langsung meninggalkan PAUD. Sepanjang jalan, pikiran semakin tidak positif.


Saat sampai di rumah, sudah ada mobil sedang parkir dekat gerbang. Sebelum masuk gerbang, seseorang sudah berdiri di hadapan ku. Seketika kakiku menginjak rem.


Secara perlahan gadis itu sudah mengetuk kaca mobilku. Aku langsung keluar.


“Pak Musa. Oi ada di dalam mobil Meta”


Aku begitu benci dengan situasi seperti berbicara dengan Meta.


Kesempatan untuk melupakan nya yang tersisa hanya nol koma satu persen. Tipis sekali.


“Terimakasih dan jangan pernah dekati putra saya lagi"

__ADS_1


"karena aku tidak ingin kita sering bertemu" sambungku dalam hati


Aku lihat Meta ingin mengatakan sesuatu tapi dengan cepat aku melanjutkan ucapanku “Oh....iya.....Bapak harap, kamu tidak ikut campur dengan urusan saya" setelah selesai mengatakan nya, aku langsung menggendong Oi yang sudah tertidur dan meninggalkan Meta sendiri.


__ADS_2