
"Musa"
Pikiran ku masih saja terkurung dalam bayangan-bayang Meta. Andai saja, waktu itu......
Ya ampun Musa kenapa kau masih sibuk memikirkan Meta. Padahal jelas kenyataannya dia sudah menikah.
Tuuuttttt. Bunyi ponselku mampu membuyarkan lamunan ku.
Dengan cepat tanganku membuka pesan itu. Dan kau tau hatiku begitu berharap Meta yang mengirimkan pesan.
Aku mulai menampar wajah ku.
Musa sekarang kau hilang kendali?
Setelah menghela napas panjang, aku mulai membaca pesan singkat tersebut.
“Ayo kita makan malam” mataku terbelalak saat mengetahui Rosna yang mengajak ku.
“Ajak Oi boleh?” tanyaku.
Musa kau terlalu gila memikirkan Meta. Batinku.
“Boleh dong tapi jangan ajak pembantu"
“hahah ngakak"
“Setelah Magrib ya. Di restoran biasa"
“Oke"
Persis seperti rencana, setelah shalat magrib aku langsung mengajak Oi makan malam.
“Oi mau ikut? Atau mau tidur sekarang? Tanyaku Oi hanya memasang wajah datar.
"Kita akan makanan malam bersama tante Rosna" ujar ku pada Oi.
"Tante Losna? Oi mau ikut"
“Baiklah. Ayo" ujarku sambil menggendongnya.
__ADS_1
“Bi....saya akan keluar. Jadi jangan percaya orang asing” mintaku.
“Baik tuan"
Jangan percaya orang asing pintaku? Sedangkan aku bisa jatuh cinta pada Meta yang begitu asing bagiku.
Tidak adil? Akupun benci dengan keadaan ku sekarang.
Musa, kau harus melupakan nya. Semakin aku ingin melupakannya, semakin melekat pula Meta di pikiranku.
Aku langsung menyalakan mesin mobil, kemudian menyetir menjauh dari tempat tinggal ku.
Dua puluh menit kemudian, kami sudah sampai. Dan hatiku berdegub lebih kencang.
“Aku sudah sampai" ujarku memberitahu Rosna melalui ponsel.
“meja nomor 16”
Saat sudah berada di dalam aku langsung duduk di depan Rosna.
“Kita berdua?” tanyaku.
“Bagaimana. Ammm maksudku ada apa"
“silakan makan. Oi sayang mau makan apa? Biar tante ambilin".
Oi hanya menatap ku.
Sambil makan sambil ngobrol akhirnya tiba saat dimana Rosna mengungkapkan perasannya.
“Apa aku punya kesempatan jadi ibu Oi?”pertannyaan itu membuatku merasakan makanan yang sudah ku kunyah terasa begitu pahit saat ku telan.
“Hahah....kau begitu gugup? Sebenarnya aku tahu jawabannya” ujar Rosna
“Lalu?”
“Aku akan segera menikah. Jadi jangan lupa datang” ujar Rosna.
“Dimana?”
__ADS_1
“Dubai. Dua minggu lagi"
“Dengan pengusaha tajir itu?”
“Iyah" Rosna ber-um. Kemudian kembali menatap ku “Musa apa kau akan melajang selamanya?”
Aku kembali kikuk.
Bagaimana mungkin aku akan jujur padanya, dengan mengatakan tidak. Aku akan menikah dengan wanita yang kucintai. Meta.
Aku masih diam.
"Bagaimana dengan dirimu Musa?"
"Aku masih sendiri" jawab ku sambil me gaduk minuman yang sudah kuhabiskan setengahnya.
"Aku dengar kabar kau sudah mengajar kembali"
Aku mengangguk.
"Apa kau tidak menyukai satupun dari mahasiswi mu? Kedengarannya gadis jaman sekarang lebih asik" ujar Rosna sebelum menyerupuut jus jeruk pesanannya.
"Kau ingin menelanjangi semua privasi ku?" Tapi yang ku katakan hanyalah "Aku masih belum tertarik untuk itu"
Mana mungkin aku akan bercerita soal perasaan ku yang pada Meta?
"Kau harus cari pendampingan. Hidup melajang itu menyediakan loh" ucap Rosna sebelum akhirnya kami pulang.
Setelah makan malam selesai kami memutuskan untuk pulang. Tanpa sengaja mataku berpapasan dengan Meta. Gadis itu sedang duduk bercerita pada seorang wanita. Mungkin itu ibunya atau mertuanya.
Ya ampun kenapa aku harus bertemu lagi dengannya?
Sebelum gadis itu melihatku, aku langsung pergi.
“Anak ayah sudah mengangguk?”
“Iya" ujar Oi.
Saat menoleh Oi sudah terlelap.
__ADS_1