Ibu Untuk Oi

Ibu Untuk Oi
Tiga belas


__ADS_3

"Meta"


Hari ini untuk pertama kalinya Bima mengantaku ke kampu. Katanya biar Bima juga kenal sama yang lainnya. Dengan sedikit perdebatan akhirnya aku mengalah.


“Sudah sampai tuan putri" ucap Bima.


Dengan cepat aku langsung keluar mobil.


“Ayo salim sama calon suami" pinta Bima sambil mengulurkan tangannya.


“Belum mahrom Bim" kataku. Bima hanya memberi isyarat. Menunjuk arloji dan sesekali mengelus perutnya. Aku yang tidak mengerti langsung mengerutkan dahi.


“Ngomong aja kali Bim" ujarku.


Setelah sedikit berdehem, akhirnya Bima mengatakan nya “Kita lunch bersama”


Dengan cepat aku mengeleng “Maaf...Meta masih banyak tugas"


Dengan penuh bujuk rayu akhirnya Bima mengalah.


“Oke. Terserah kamu. Ini kunci mobil” ujar Bima sambil menyerahkan kunci mobilnya.


“Bima gimana?” tanyaku. Bima malah tertawa kecil.


“Aku serous"


ujarku


“Aku akan di jemput sopir"


Setelah menerima kunci mobil tersebut, aku langsung meninggalkan Bima.


Melihat pak Musa sedang terburu-buru. Dengan cepat aku “Selamat pagi pak" ucapku.


Pak Musa menoleh dan membalas “Pagi".


Pak Musa terkesan begitu terburu-buru.

__ADS_1


Setelah selesai kuliah, aku akan pulang.


Aku langsung masuk mobi, menyetir kemudian melaju menjauh dari kampus.


“Hallo Assalamualaikum Sayang" ucap Bima setelah panggilan nya kuterima.


“Waalaikumussalam”


“Kok hanya gitu?” tanya Bima.


“Terus?” tanyaku sambil mengerutkan alis.


“Seharusnya.....” Bima sengaja membutku penasaran.


“Seharusnya apa?” tanya ku lagi.


“Seharusnya aalaikumussalam sayang" kata Bima tanpa kusadari akupun tersenyum.


Aku hanya dan masih diam.


Terdengar Bima menghela napas panjang “Udah sampai ketemu nanti" katanya.


Ya Allah. Akhirnya aku langsung turun dan menghampiri Oi.


“Oi...kenapa?” tanyaku Oi masih tersedu.


“Oi...” aku berpikir panjang.


“Percuma juga aku bertanya saat dia sedang menangis” batinku.


Aku langsung menggendong Oi dan membawanya masuk kedalam mobil.


Aku langsung memberikan segelas air mineral.


“Oi minum dulu" ujarku sambil menghapus air matanya. Aku begitu lemah saat melihat seseorang menangis di depanku.


Dua belas menit kemudian akhirnya aku kembali menanyakan pertanyaan yang sama “Oi kenapa?”

__ADS_1


Oi yang masih tersedu menjawab pertanyaan ku “Aya...aahh” ujarnya. Dan air matany terus mengalir.


“Ayah kenapa?” tanyaku sambil terus mentapnya.


Oi menatap ku dan mengis lebih kencang lagi.


“Ayah sudah lupa Oi....” ayah tidak jemput Oi" ujarnya.


Astaga. Aku baru benar tersadar sudah jam satu siang, anak ini di sekolah. Menunggu ayahnya dan “Kemana pak Musa?”


“A...a...ya...hhh" ujar Oi.


Aku begitu mengerti perasaannya.


Butuh waktu setengah jam untuk menengkan Oi.


“Oi...pasti lapar kan? Ayo kita makan” ujarku setelah menbuka tupperware yang berisikan nasi goreng. Oi hanya mengangguk dan lebih pendiam. Gairah makannya pun lebih berkurang dari biasanya.


“Kaka.....aku ingin ayah.....” katanya lagi sambil menangis lagi. Aku kembali membujuknya.


“Kita pulang sekarang. Ibu Oi pasti sudah cemas memikirkan Oi" ujarku.


Oi menggeleng kemudian melanjutkan “Ibu sudah di surga”


aku begitu bersalah. Aku begitu sedih. Dengan cepat aku langsung meminta maaf “Maafi Meta" kataku berkali kali.


Setelah lebih baikan, aku langsung mengantarkan Oi. Pulang. Setelah sepuluh kali menghubungi pak Musa dan tidak dijawab.


Setelah sampai di depan rumah Oi, gerbang belum terbuka. Aku hanya menunggu.


Sepuluh menit kemudian, pak Musa pulang. Dengan cepat aku langsung turun dari mobil.


Saat pak Musa dan aku berpasan aku langsung memberitahu bahwa Oi ada di mobil. Bukannya berterima kasih pak Musa malah mengatakan “Terimakasih dan jangan pernah dekati putra saya lagi" ku lihat Meta ingin mengatakan sesuatu tapi dengan cepat aku melanjutkan ucapanku “Oh....iya.....Bapak harap, kamu tidak ikut campur dengan urusan saya" katanya. Kata-kata pakMusa begitu melukai hatiku.


Dan yang paling tidak kusukai, kesan sombong, angkuh dan cuek seperti pertemuan pertama terulang kembali.


“Dasar Dosen Duda yang angkuh” teriakku dalam hati.

__ADS_1


Tapi sebelum masuk gerbang dia Pak Musa Alma Al Azka yang angkuh itu sedikit berbisik “Jang kerutkan alismu begitu Nona. Nanti kamu stroke” aku hanya mematung. Tanpa sedikitpun melihat wajahnya.


__ADS_2