
Meta.
Baru saja selesai mata kuliah terakhir Ninda sudah mengajakku untuk masuk ke perpustakaan. Bercerita, sambil menemaniku memilih buku yang harus ku baca.
“Sudah. Meta, aku pulang duluan yah. Bye. Ummmuahh” ucap Ninda sambil berlalu.
Setelah merasa buku yang ada di tanganku sudah cukup untuk ku baca, akhirnya aku pulang. Kakiku melangkah mendekati mobil, dan belum juga sampai, Oi sudah ada di hadapan ku. Ku ulurkan tanganku, dengan cepat anak itu menggenggam tanganku.
Aku sudah tidak perduli lagi, soal peringatan pak Musa. Soal jangan mendekati putranya lagi.
“Sayang kak Meta masih sibuk. Ayo ikut ayah saja” ucap pak Musa sambil membungkuk, saat ada di hadapan kami.
Meskipun aku begitu asing baginya, seharusnya pak Musa bisa mengerti dengan keputusan Oi. Untuk bersama ku.
Setelah ku serahkan kartu identitas ku, yang menjadi jaminan ku saat bersama putranya, pak Musa akhirnya menyerah.
Aku langsung membukakan pintu untuk Oi, kemudian, aku pun masuk kedalam mobil.
“Sepatu Oi, kemarin hilang yah?” tanyaku sambil memperhatikan sepatu yang dikenakan Oi. Itulah sepatu yang di permasalahkan Bima.
“Hilang”
“Hilang dimana?” tanyaku.
“Dimakan tikus" kata Oi.
Seketika aku tertawa.
“Kaka Meta, sebental Oi ulang tahun”
“Kapan? Kaka boleh datang kan?” tanyaku. Dengan cepat, Oi mengangguk.
“Oi, kaka Meta punya nasi goreng. Oi mau kan?” tanyaku lagi.
Oi mengangguk, dan saat itu pula aku langsung mengeluarkan tupperware, berisi nasi goreng. Seperti biasanya, sebelum makan, kami berdoa.
Cukup lama, sampai akhirnya pak Musa menelpon ku.
“Di parkiran pak"
“Terimakasih. Bapak minta maaf sudah merepotkan mu" katanya, sambil mengambil Oi, membawanya pergi dariku.
Saat menoleh, telpon ku kembali berdering.
“Assalamualaikum”
“Waalaikumussalam, Meta, hari ini, mama sama tante Nova bakal ketemu. Kamu mapir yah"
“Iya mah. Siap" kata ku.
Dengan cepat, kumatikan ponselku. Menyetir menu tempat yang disebutkan mama tadi.
__ADS_1
Hah. Aku lelah. Suasana hatiku, masih saja kacau.
Saat sampai, mama, tante Nova dan Bima sudah ada di sana.
“Halo sayang" kata Bima dengan suara lembutnya. Aku malah merinding, mendengar kata kata yang keluar dari lisannya, begitu berbeda dengan tadi pagi. Sekarang penuh cinta.
“Meta, siapa Oi itu?” tanya mama.
Aku langsung menghentikan tanganku yang masih mengaduk jus dengan pipet, seperti yang biasa ku lakukan.
“Oi? Teman Meta mah" kataku.
“Teman? Sama anak kecil?” itu pertanyaan yang di lontarkan tante Nova sambil mengerutkan keningnya.
“Iya” kataku yakin.
“Bagus deh" kata mama.
Aku tidak mengerti apa isi pikiran mereka.
“Ayo, kamu mau pesan apa?” tanya Bima saat pramusaji membawakan daftar menu.
Aku hanya menggeleng.
“Kenapa Sayang?” tanya Bima lagi.
“Udah makan tadi" kata ku. Ya, itu kenyataan. Mana mungkin aku memesan makanan, kalau aku sendiri tidak akan memakannya. Itu namanya mubazir kan?
“Sama laki-laki itu?” tanya Bima lagi dengan suara yang sedikit membentak.
“Meta, itu yang di katakan Bima benar" kata mama.
“Masa kamu lebih milih, makan dengan orang lain?” mama malah mempermasalahkan itu.
“Aku makan, karena aku laper, Sayang” kataku meyakinkan Bima.
“Laper bareng laki-laki lain?” tanya Bima lagi.
Dengan cepat, aku langsung berdiri. Aku tidak suka dengan cara Bima berpikir, berbicara dan menatap ku.
“Aku akan pulang”
“Sayang, aku anter pulang yah" pinta Bima dan aku menggeleng.
Aku langsung masuk kedalam mobil, menyetir, dan pergi ke mall.
“Assalamualaikum, kak Ilwan, dimana sekarang?”
“Masih di butik" kata nya.
Dengan cepat, aku melangkah menemui kak Ilwan.
__ADS_1
“Ada apa? Tumben?”
“Mau lihat gamis terbaru kaka" kataku. Sebenarnya, yang ingin ku katakan adalah, “mau menenangkan diri dari Bima"
“Besok datang dek”
“Oke"
Cukup lama, aku bersama kak Ilwan, membahas tentang bisnis, fashion paling tren sekarang, dan masih banyak lagi, sampai akhirnya aku pulang.
Di perjalanan pulang, aku terus membohongi alam bawah sadarku. “Meta, kamu bahagia, baik-baik saja dan kamu gadis yang ceria" kataku berulang kali.
Mobilku melaju, sampai akhirnya sampai di rumah.
Aku langsung, turun, dari mobil, melangkah masuk ke dalam rumah.
Mama belum pulang, dengan segera, aku naik ke lantai dua, tepat kamarku berada.
“Assalamualaikum” ucapku saat berada di pintu kamarku. Dengan segera, ku kunci kamarku dari dalam, melepaskan seluruh pakaian luarku, kemudian mandi. Setelah mandi, aku langsung memakai tanktop, hotpants.
Setelah itu, ku nyalakan ponsel, kemudian menelpon Ninda.
“Kenapa sih Met" tanya Ninda.
Tanpa basa-basi, aku langsung saja menanyakan bagaimana pendapat Ninda soal aku.
“Nin, jadi aku sering bareng Oi, terus, Bima bilang aku tuh perempuan yang ga bener. Menurut lo gimana?”
“Menurut gue, lo ga salah. Bima juga ga salah. Kalian Cuma salah paham doang"
“Aku ga suka Bima berteriak, membentakku seperti itu di hadapan orang banyak”
“Sebulan lagi, kalian bakal tunangan. Jadi itu wajar aja. Mungkin Bima takut kehilangan lo"
“Takut sih takut, tapi ga harus seposesif itu juga"
“Bima posesif karena, seiring berjalan nya waktu, sesering kamu habisin waktu bareng Oi, lo bisa aja kan langsung suka sama ayahnya juga?”
“Siapa? Pak Musa?”
“Iya. Meskipun lo bilang ga mungkin, jodoh ga ada yang tahu”
“Nin, terus saran lo gimana?”
“Gausah temui Oi lagi”
“Soal Bima gimana?”
“Jalani aja dulu. Dia Cuma bentak lo kan? Ga main hantem?”
“Ga sih. Btw, makasih ya, sudah dengerin gue" kataku sebelum akhirnya ku putuskan telepon ku.
__ADS_1
“Benar juga, kalau Bima se posesif ini? Atau aku yang memang seperti yang dikatakan Bima?”
“Please Meta, lupakan soal sepatu, Oi dan Bima” teriakku, sambil kurebahkan tubuhku, diatas ranjang.