
"Meta"
Setelah sholat magrib, aku langsung nemenin mama buat nonton telenovela.
"Mah ceritanya bosenin" protesku.
"Seru loh ini" kata mama sambil menikmati kacang polong.
Seketika kami langsung terawa terbahak-bahak. Sambil sesekali terbatuk.
"Assalamualaikum...." Ucap salam dari pintu depan menghentikan mulut ku yang sedang mengunyah.
Aku langsung berdiri kemudian matiin tv..
"Mama aja yang bukain" kata mama saat aku sudah melangkah menuju pintu.
Aku kembali duduk di sofa. Suara mama masih bisa ku dengar.
"Siapa? Meta ada. Silahkan masuk"
Jangan sampai Bima ucapku sambil mengetok meja. Amit-amit. Aku makin takut sama Bima.
Tidak beberapa lama mama datang dengan wajah datar.
"Siapa yang datang?" Tanyaku.
Mama tidak menjawab pertanyaan ku.
"Ayo temui. Tamu kamu katanya" ucap mama.
"Siapa mah?" Tanyaku lagi.
"Meta" aku langsung di peluk.
"Bang Faris?" Tanyaku.
"Betul" ucap bang Faris sambil melepaskan pelukannya.
"Jadi ini tamunya?" Tanyaku.
Mama dan bang Faris menggeleng.
"Ini hadiah. Di pake sekarang" kata bang Faris.
"Wajib yah bang?" Tanyaku.
"Iyah" aku langsung masuk ke kamar mama dan memakai pakaian pemberian bang Faris.
__ADS_1
"Udah cakep" ucap bang Faris saat memandang ku.
"Mah ayo nonton lagi" ujar ku
"Kita masih ada tamu"
"Siapa?"
"Meta ga punya utang kan?" Tanya mama.
Aku langsung menggeleng.
"Siapa lintah darat?" Tebak ku.
Mama menuntun ku. Jalan beberapa langkah, sampai akhirnya aku duduk di ruang tamu tepat di samping mama.
"Assalamualaikum. Gimana kabar setelah satu minggu ga masuk kuliah?" Aku langsung mengangkat wajah.
Astaga pak Musa tamunya.
Mama langsung berdiri, aku tahu mama akan ke dapur. Sebelum mama mengambil langkah, aku langsung "Mah, biar Meta" kataku, kemudian ke dapur menyiapkan jus alpukat.
Jantung ku berdetak sepuluh kali lebih cepat. Rasanya aku akan meledak meledak setelah pak Musa menjadi tamu hari ini.
Setelah selesai, aku kembali menuju ruang tamu dan menyajikan jus di meja. Pandangan ku tertuju pada setiap gelas sedang pikiran ku sudah di tempat lain.
"Ayo silakan" kata Mama.
"Deh, kenalin ini Musa teman abang" kata bang Faris.
"Bang, ini dosen Meta" kataku. Pak Musa malah tersenyum.
"Gimana adik gue di kampus? Pasti manja" tebak bang Faris.
Pak Musa menggeleng dan tertawa kecil.
"Kedatangan Musa di sini, karena ada keperluan. Iya kan Musa?" Tanya mama.
Iyalah ma, mana mungkin ga ada keperluan langsung nongol aja.
"Perlu apa pak?" Tanyaku.
"Aku hanya ingin menjaga mu hingga halal bagiku menyentuh mu. Melam ini dengan segenap hati "Bismillahirrahmanirrahim" Jadilah pendamping hidupku"
Aku langsung terbelalak.
Bagaimana bisa? Satu minggu lalu menyuruh ku melupakan semuanya, menjauhi Oi tapi sekarang datang melamarku?
__ADS_1
"Mungkin...."
"Tidak perlu di jawab sekarang. Cukup kamu tahu, Aku, Musa Al Azka serius ingin membangun bahtera rumah tangga dengan mu"
Aku masih diam antara senang dan sedih.
"Ini hanya perasaanku. Kalau kamu keberatan katakan saja. Aku sudah siap dengan semua keputusan mu. Tapi, izinkan aku membuat pengakuan. Sejujurnya sudah sejak lama diri ini menyimpan rasa suka " ucap pak Musa.
Aku mengangguk. Kenapa ga dari awal bapak ga ngomong? Teriak ku dalam hati.
"Beri waktu buat Meta" kata ku.
Pak Musa mengangguk.
Setengah jam kemudian azan berkumandang.
"Ayo kita sholat" ajak mama.
"Mah, Meta duluan yah" kataku hendak berdiri dan naik keatas.
Mama mengangguk.
Aku langsung naik keatas, menutup pintu, dan sayup sayup suara adzan terdengar begitu merdu.
Aku langsung berwudu, kemudian sholat Isya.
"Ya Allah terimakasih dan alhamdulillah atas setiap kemurahan, rahmat dan hidayah mu. Sesungguhnya, aku ragu menolak maupun menerima pak Musa. Di sisi lain hamba bahagia bisa bersama Oi, namun di sisi lain, hamba takut, apakah Hamba punya perasaan buat pak Musa" kalimat itu keluar dengan begitu saja dari lisan ku.
Aku sudah tidak turun menemui pak Musa. Aku sudah sibuk untuk mengadu pada Allah.
Setelah selesai berdoa, aku kembali keruang tamu dan pak Musa telah tidak di sana lagi.
"Sudah pulang" ujar bang Faris.
"Katanya seminggu lagi abang balik" protes ku.
"Mama sakit, masa abang cuma diam aja" kata bang Faris.
"Dek, apapun keputusan kamu, kaka ingin itu keputusan terbaik bagi kamu. Kalau ga mau bilang aja. Kalau mau, jangan ragu"
aku menggeleng "Meta cuma takut, menyakiti hati meta lagi, seperti Meta menerima Bima dulu" Kataku.
"Ga masalah" kata bang Faris.
Aku langsung menuju kamar, dan mengunci diri lagi.
"Bismillah" ucapku sambil merebahkan tubuh diatas ranjang.
__ADS_1
"Meta,.ah...........Meta lelah" ucapku. Aku harus memberi keputusan besok.
"Menerima atau menolak pak Musa"