
“Meta"
Setelah berpakaian rapi, aku langsung pamitan sama mama.
“Mah, aku pamit" ucapku. Mama hanya mengangguk.
Aku melangkah, masuk kedalam mobi dan mulai menyetir dengan kecepatan 60km/s.
Kring.....ponsel ku berdering.
“Met, sayang"
“Hallo sayang”
“Ini sepatu siapa di mobil?” tanya Bima.
Sepatu???? Mengingat kembali.
“Sepatu?” tanyaku lagi. Tatapan ku terus memandang kedepan. Memperhatikan keselamatan itu lebih utama kan?
“Sepatu warna biru" kata Bima, mencoba menginginkan ku.
“Biru?” tanyaku lagi.
“Jangan pura-pura **** Met. Kamu sembunyikan sesuatu dari aku kan?” ucap Bima. Aku begitu kaget dengan ucapan Bima “Bego” padahal aku benaran tidak ingat soal sepatu.
“Meta serius ga inget" kataku.
“JANGAN BOHONG" ucap Bima sedikit membentak ku.
“Aku ga bohong" ucapku sambil menangis.
“Jangan cengeng. Ini sepatu anak kecil. Siapa anak itu Met? Siapa?” aku masih diam.
Terdengar Bima memutuskan panggilannya.
Dadaku sesak. Dan tidak lama kemudian, aku sudah sampai di kampus. Sebelum keluar dari mobil, aku langsung memperbaiki make up yang sudah berantakan karena menangis.
__ADS_1
“META” teriak Bima. Semua orang yang ada di sekitar kami seketika menoleh.
Aku kaget Bima sudah ada di depanku.
“Met, ini sepatu siapa?” sambil menyerahkan sepatu berwarna biru itu di hadapan ku.
“Sepatu Oi" kataku setelah aku teringat kemarin aku yang menggunakan mobil Bima.
“Siapa dia? Berapa banyak yang kamu sembunyikan dari aku?” bentak Bima tanpa sekai peduli banyak orang yang memperhatikan kami.
Aku masih diam.
Dengan cepat Bima membentakku lagi “JAWAB"
“Kamu marah?” tanyaku. Aku sudah berkaca-kaca.
“Siapa cowok yang ga marah, kalau calon istrinya udah ga becus" kata Bima.
“Apa yang ga becus?” tanyaku lagi.
“Anak pak Musa" kata ku.
“Jadi selama ini selain ngampus kamu juga jadi simpanan pak Musa itu kan?” tanya Bima sambil menatap ku nanar.
“Bim....dia Cuma ana kecil" kataku. “Dia Cuma...” dengan cepat Bima memotong ucapan ku “Cuma anak simpanan kamu?” tanya Bima sedikit berteriak.
“Cukup. Kita akhiri ini" ucapku sambil berlari meninggalkan Bima. Aku berlari sambil menangis. Dadaku sesak. Entah kenapa, Bima jadi temperamental seperti itu.
Satu jam kemudian, Bima menelpon ku lagi. Dua hingga tiga kali panggilan ku biarakan begitu saja.
“Meta, sayang angkat telponnya" itu tulisan pesan singkat yang di kirim oleh Bima.
Panggilan berikutnya, aku langsung mengangkat nya.
“Um" kataku saat mengangkat telponnya.
“Sayang aku minta maaf soal tadi" kata Bima.
__ADS_1
“Aku lakuin ini karena aku khawatir sama kamu" timpal Bima lagi.
“Aku minta maaf. Aku lakuin ini karena ini salah kamu. Aku ga ingin kamu jadi perempuan ga benar" kata Bima.
Setelah menghela napas panjang , aku mengatakan “Aku minta maaf karena sudah sembunyi in soal Oi" dengan suara lirih.
“Soal tadi, aku khilaf. Aku minta maaf" katanya.
“Aku sudah memaafkan kamu. Tapi aku tidak suka kamu seperti tadi"
“Aku janji” katanya. Tanpa dialog yang lebih banyak, akhirnya Bima mengakhiri panggilannya.
Aku masih menangis, mengingat betapa kasarnya kata-kata yang di lontarkan Bima.
“Assalamualaikum” saat mendengar sapaan itu, aku dengan cepat menghapus air mataku. Menarik napas panjang dan memasang senyum yang seperti biasanya.
“Waalaikumussalam" kataku sambil menoleh. Aku hanya melihat sepatu nya. Aku masih belum berani menatap wajahnya dengan muka sedu seperti ini.
“Bisa bapak duduk?” tanyanya. Aku hanya mengangguk.
“Meta, Bapak minta maaf soal kejadian kemarin" katanya. Aku hanya mengangguk lagi.
“Kelihatannya kamu begitu sedih. Kenapa? Kalian bertengkar?” tanya pak Musa. Dengan spontan, aku mengangguk. Semua orang pasti tahu tentang kejadian tadi pagi soal Bima dan aku di parkiran itu.
“Namanya juga hubungan, hidup ini terasa hambar kalau berjalan mulus tanpa hambatan kan?” katanya. Kemudian melanjutkan “Namanya juga suami istri, itu jadi wajar saat ada salah paham" katanya.
“Apakah Bapak melalui hal yang sama dalam rumah tangga bapak" tanyaku. Aku menoleh ke arah pak Musa. Tanpa sengaja pak Musa juga menoleh kearah ku.
“Bisa saja" katanya.
“Ini tisu” ucap pak Musa sambil menyerahkan tisu miliknya.
“Perbaiki suasana hatimu, Bapak yakin suami kamu, melakukan ini karena sayang kamu"
“Dia masih calon suami pak” kataku sebelum akhirnya aku berdiri hendak menuju ruangan ku.
“Terimakasih, Bapak sudah memberikan ini" ucapku sambil mengangkat tisu yang ada di tanganku.
__ADS_1