Ibu Untuk Oi

Ibu Untuk Oi
Dua Puluh Enam


__ADS_3

"Meta"


Seperti yang sudah kukatakan pada pak Musa kemarin, hari ini aku akan memberi keputusan. Hatiku begitu yakin dengan pilihan ku saat ini. Selepas sholat magrib, aku duduk di ruang tamu mengenakan pakaian terbaikku. Aku ingin keliatan cantik. Itu saja.


Bahkan setiap menoleh, wajah pak Musa selalu nampak di mataku.


Ku dengar pintu di ketok dan ibu menyambutnya. Dengan perasaan tak karuan, aku menemui pak Musa.


"Meta, kalau kamu siap menikah dengan Musa, kamu harus bisa mencintai dan menyayangi putra nya. Tapi kalau ga, ibu ga akan biarkan kamu menikah dengan Musa"


Aku ingat persis dengan keteguhan hatiku, aku menggangguk.


Kali ini pak Musa tidak sendirian dia bersama Oi dan tiga orang bersamanya. Pak Musa, dengan penampilan seperti biasanya masuk dan duduk tepat di hadapanku.


Aku akan menikah dengannya? Tuhan mudahkan ini. Batin ku.


Pak Musa menarik napas panjang. "Aku ingin menikah denganmu. Aku ingin, kau yang akan menjadi bidadari surga dan duniaku" ucap Musa.


"Aku minta maaf. Dengan segala kerendahan hati saya, sekiranya selama ini aku pernah menyakiti hatimu" ucapku.


"Namun, aku tahu pilihan Allahlah yang terbaik. Dengan menyebut nama Allah, yang Maha pengasih lagi maha penyayang, Aku Meta Amalia Qumairoh Hasan, menerima lamaran ini" ucap Ku.


Ku lihat Musa menangis, meneteskan air mata, kemudian memeluk Faris.


"Alhamdulillah. Sebelum halal bagiku, aku tidak akan menyentuh mu"


Aku mengerti, betapa pak Musa jaga jarak selama ini. Bahkan untuk menatap kedua bola matanya, itu sulit, bahkan sangat sulit.


Pak Musa berdiri, kemudian duduk di sampingku diikuti oleh Oi.


"Aku ingin engkau Musa, mencintai adikku sepenuh hatimu, jangan sakiti dia apalagi hatinya, karena ketika kau menyakiti hatinya, maka kau telah menyekiti kami. Aku hanya ingin kau menjaga dan membahagiakan adik ku" ucap bang Faris.


Pak Musa mengangguk. Kemudian "Aku akan menjaga dan membahagiakan Meta bahkan dengan nyawa ku"


Pak Musa dan bang Faris saling berjabat tangan.


"Aku nikahkan engkau Musa Alma Al Azka dengan saudari perempuan ku Meta Amalia Qumairoh Hasan binti Buhara Adama Hasan dengan maskawin emas seberat 200 gram dan seperangkat alat sholat di bayar tunai" ucap bang Faris.


"Saya terima nikah dan kawinnya Meta Amalia Qumairoh Hasan binti Buhara Adama Hasan dengan maskawin emas seberat 200 gram dan seperangkat alat sholat dibayar tunai"


"Sah"


Aku mengerti, bahkan dari kemarin, ibu menyarankan untuk segera menikah.


"Kalau benar sudah siap, nikah langsung. Masalah resepsi bisa di atur nanti. Takutnya godaan setan lebih besar buat kalian" ucap mama pada pak Musa. Mama memberi tahu ku kemarin.


Pak Musa mengecup keningku, kurasakan hidung pak Musa menyentuh alisku dengan perlahan aku menggenggam tangannya kemudian menciumnya.


Oi memeluk ku. "Kaka Meta" katanya.


Rasa menggebu dalam dadaku, semakin bergejolak. Aku tidak mengerti ada apa dengan ku.


"Bagaimana?" Tanya mama.


"Meta di sini saja" ucapku.


"Ini malam pertama kalian menikah. Pulanglah bersama Musa" aku menagis mendengar ucapan mama.


"Saat menikah mamapun begitu sayang. Ikut suamimu pulang. Dia membutuhkan mu, begitu juga kau membutuhkan nya" ucap mama.


Aku mengangguk. Kemudian pulang bersama pak Musa.


Bahkan duduk di samping pak Musa kali ini, terasa canggung. Sesekali mencuri pandangannya. Sepanjang jalan, pak Musa hanya sekali menoleh kearahku.


"Bagaimana sekolah Oi?" Tanyaku sambil mengelus rambutnya.

__ADS_1


Aku tahu Oi sudah tertidur.


Mobil sudah memasuki garasi rumah pak Musa. Dengan perlahan Musa langsung turun saat mobil berhenti dan membuka kan kami pintu.


"Ayo" ucap pak Musa, setelah mengendong Oi.


Aku mengikuti langkahnya. Semua orang menunduk saat kami masuk.


Tuhan, aku semakin kaku sekarang.


"Semua sudah siap?" Tanya pak Musa, merekapun menjawab dengan antusias "sudah pak"


Pak Musa terus melangkah, sampai di depan pintu pak Musa berhenti "Ini kamarku. Kamar kita" ucap pak Musa sambil membuka pintu.


Aku mengangguk. Akupun ikut masuk.


Tuhan, kamarnya seperti hotel binatang 5.


"Lepaskan pakaian mu. Tidak ada siapa di sini hanya kita" katanya. Aku melotot.


"Kamu tidak gerah? Sudah ada baju di lemari" setelah membaringkan Oi di ranjang.


"Di.....di...dimana?" Tanyaku.


"Kemari" ucapnya. Aku melangkah mendekati nya. Jarak satu langkah di depannya.


"Maju lagi" katanya.


"Pak, ini sudah mempet" protesku.


"Lagi sampai tidak bisa maju lagi" katanya.


Aku terus melangkah seperti perintahnya.


"Aku ini suami mu. Jangan canggung" katanya.


"Tapi pak"


"Meta, apa aku terlalu tua? Panggil saja Musa atau..."


"Atau apa?" Tanyaku.


"Atau sayang" katanya sambil mengecup keningku.


Astaga beginikah menikah? Pertanyaan itu timbul tenggelam di pikiranku.


"Lepaskan saja pakaian mu. Aku akan mengambilkan yang lebih santai"


"Tidak perlu. Bapak antar saja" kataku.


"Sayang" protesnya.


Aku tertawa. "Antar saja sa...sa....sayang"


"Belibet" kataku.


Aku mengikuti langkahnya masuk ke kamar madi, dan disana ada kamar lagi. Ruang rahasia. Aku sedikit be-um.


"Kenapa?"


"Tidak"


"Disini" kata Musa sambil melepaskan pakaiannya.


"Sayang, aku juga gerah" katanya saat melihat reaksi ku.

__ADS_1


"Pak, Meta mau tanya soal...?"


"Soal apa? Akutansi?" Tanyanya.


"Pak Musa, bisa Meta peluk bapak?" Tanyaku setelah mengganti pakaian ku.


"Sini. Dengan senang hati" katanya.


Aku sedikit berlari dan memeluk nya dengan erat.


"Kenapa?" Kamu takut?"


Aku mengeleng. "Aku masih canggung dengan situasi ini"


"Jadi kita akan terus berpelukan sampai pagi?" Tanyanya.


Aku mengangguk "Aku ingin itu" kataku.


"Baiklah aku juga akan melakukannya" ucap pak Musa sambil memelukku.


"Sayang.....sayang......sayang" ucapku.


"Kenapa?"


"Aku, masih canggung"


"Sayang kau ingin lebih?"


"Apa?"


"Sebuah ciuman" katanya. Dan aku langsung mencium pipinya.


"Aku sudah tidak canggung lagi" kataku sambil melepas pelukan.


"Benarkah?" Tanya pak Musa sambil menatap ku. Akupun menatapnya.


"Sudah satu jam kita di sini" ucapku.


"Di sini?"


"Iya pak. Iya Musa" aku kelepasan.


Musa tertawa.


"Sayang kamu


mengantuk? Meta, ini sulit"


Aku mengat "Apanya yang sulit"


"Itu" katanya.


Kami keluar dari ruang ganti, kembali ke kamar.


"Kita akan tidur di sini" ucap Musa sambil menunjuk pintu lagi.


Aku mengangguk.


Dengan perlahan aku masuk. Disana sudah bertebaran kelopak mawar.


"Aku tidur yah"


"Tidur bareng"


Aku hanya tersenyum.

__ADS_1


__ADS_2