Ibu Untuk Oi

Ibu Untuk Oi
Tujuh Belas


__ADS_3

“Musa"


Jam tiga dini hari, aku sudah bangun. Mengambil air wudhu, kemudian shalat malam. Berzikir sampai waktu sholat subuh.


Setelah seleai sholat , aku langsung membangunkan Oi.


“Anak ayah, ayo bangun" ucapku sambil mencium pipinya.


“Oi sudah dbangun" protes Oi. Aku langsung menggendong nya, kemudian mandi bersama.


“Gosok gigi. Saatnya sekarang” ucapku dan Oi secara kompak. Setelah selesai menggosok gigi. Setelah selesai mandi, kami langsung berpakaian


“Sayang, sebentar lagi kamu ulang tahun. Kita rayain bersama tante Fani yah" kata ku sambil memperbaiki dasi.


“Kaka Meta” kata Oi.


“Kenapa Meta?”


“Kaka Meta ayah" ucap Oi sambil melompat di atas kasur.


“Iya kenapa kaka Meta itu?” tanyaku lagi.


“layain baleng kaka Meta"


“Ayah, ga bisa" kata ku.


Mana mungkin aku melibatkan Meta, istri orang dalam acara keluarga seperti ini.


“Ayah, Oi mau sama kaka Meta" kayanya.


“Kaka Meta baik"


“Terus?” tanya ku sambil membalikkan badan dan menatap Oi.


“Cantik sekali. Milip ibu" kata Oi. Ya, walaupun kenyataannya tidak seperti itu.


“Oi, mau sama kaka Meta juga, sama tante lama juga"


Dengan terpaksa aku meng—iyakan.


“Ayah telbaik" kata Oi. Sambil mendekatiku dan memelukku.


“Oi sudah tinggi sekalang" kata Oi. Sambil memeluk erat tubuhku.


“Hehe...kalena ayah beldili di lantai"


“Ayo kita berangkat sekarang” kataku.


Aku langsung menggendong nya, keluar dari kamar, rumah dan membawanya masuk ke mobil, menuju PAUD.

__ADS_1


“Ayah, cepet jemput Oi yah” aku hanya mengangguk.


“Oi takut di sekolah” kata Oi lagi.


“Emang kenapa sayang?” tanya ku dengan sesekali menoleh kearah Oi.


“Ada hantu" katanya.


“Hantu?”


“Iya, matanya melah, kulit bilu””


“Terus?”


“Joget di depan kelas"


Aku langsung tertawa.


“Itu badut sayang"


Kami terus mengobrol, sampai akhirnya kami telah sampai.


“Dah.....”


“Ayah jemput Oi"


“Oke, pasti sayang"


Astaga. Buat apa aku urus urusan mereka?


Aku pun langsung masauk kantor, menyelesaikan beberapa tugas, hingga beres dan akhirnya masuk mengajar kelas.


Setelah pelajaran berakhir, aku langsung menuju kantor, berencana untuk menjemput Oi.


Kakiku melangkah menuju kantor, dan saat melewati bangku taman, di sana sudah ada Meta.


Aku ingin sekali menghapuskan air matanya, menyenangkannya tapi buat apa, aku bukan apa-apa baginya. Aku hanya dosen baginya. Sekedar itu, tidak lebih.


“Assalamualaikum” ucap ku.


“Waalaikumussalam" katanya.


Setelah cukup lama duduk di sampingnya dengan suasana hening diantara kita, akhirnya aku mencoba “Kalian bertengkar?” tanyaku. Kemudian kulanjutkan dengan mengatakan bahwa sebagai suami, itu sudah sewajarnya.


“Dia masih calon suami pak" kata gadis itu. Seketika aku merasa sangat bahagia. Bahkan tanpa kusadari, aku tersenyum begitu mendengarnya.


“Kenapa baru mengatakannya?”


Batinku.

__ADS_1


Rasa menggebu ingin memilikinya menggebu dua kali lebih dasyat di hatiku.


“Sebelum para saksi mengatakan sah, itu artinya, aku masih punya peluang bukan?” tanya Batinku.


“Astaga. Musa" ucap ku berkali-kali dengan suara rendah.


“Terimakasih pak. Sudah memberikan ini" ucap Meta, sambil mengangkat memperlihatkan tisu yang ku berikan.


Aku tersenyum. Terus tersenyum, sampai akhirnya ponselku berdering.


“Sayang, maaf aku ga bisa lunch, bersama. Aku masih ada urusan” ucap ku.


Dengan cepat ku matikan ponselku, kemudian bangkit melanjutkan langkah menuju kantor.


“Selamat pagi pak" ucap beberapa mahasiswa.


Setelah sampai dalam ruangan kulepaskan jas ku, kemudian duduk menyelesaikan semua urusan yang ada di internet. Kemudian menjemput Oi.


“Ayah, Oi ikut ayah ke sekolah" pinta Oi.


“Oke. Ayah juga masih punya beberapa urusan di sana" kata ku.


Tiga puluh menit kemudian, akhirnya kami sudah sampai. Ku bukakan pintu untuk Oi, dengan seketika Oi sudah turun, dan menemui Meta, saat Meta sedang menuju parkiran.


Aku tidak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan. Yang jelas, kulihat Oi langsung menggenggam tangannya.


Andai Meta bisa jadi Ibunya.


Dengan cepat, aku menemui mereka (Oi dan Meta)


“Oi, sayang kaka Meta lagi sibuk sekarang. Ayo iku ayah saja" kataku, setelah aku berdiri di hadapan mereka.


“Ayah, Oi masih mau sama kaka Meta"


“Bapak keberatan? Ini kartu identitas saya” ucap meta sambil menyerahkan kartu identitasnya.


“Meta, Bapak khawatir Oi menggangu kamu"


“Tidak pak. Ini malah menyenangkan” katanya.


Setelah berpikir cukup lama, akhirnya aku membiarkan Oi bersama nya.


“Assalamualaikum Meta. Meta di mana sekarang?”


tanyaku, saat semua urusanku beres.


“Aku masih di parkiran" katanya. Dengan segera aku langsung ke parkiran.


“Terimakasih. Bapak minta maaf, sudah merepotkan kamu"

__ADS_1


Meta hanya tersenyum. Dan seperti biasanya, aku langsung tersenyum. Dan bahagia. Semua orang pasti berharap mendapatkan senyum dari seseorang yang di cintainya kan?


Setelah menjemput Oi, kami langsung pulang. Di perjalanan pulang, pikiran ku mulai memikirkan Fani dan Meta. Aku terjebak di permainan ku sendiri.


__ADS_2