
Saat Vega pulang, putrinya, Meta sudah terlelap.
“Meta”
Seperti yang di katakan ka Ilwan, hari ini aku langsung pergi ke butik setelah selesai mandi, beprakaian dan wangi untuk memilih gamis dan pulang.
Dua puluh panggilan tak ku jawab dari Bima, dan aku hanya mengirimkan pesan “Aku masih terlalu sibuk"
Dan kemudian ku matikan ponselku.
Aku masih tidak ingin di ganggu.
Persis sesuai dengan rencanaku, hari ini aku akan menemui Oi untuk terakhir kalinya, jadi, hari ini juga ku putuskan menemui Oi di PAUD.
Butuh waktu satu jam, akhirnya aku sampai. Aku turun dari mobil sambil memegang kado. Kado yang sudah ku siapakan dari malam. Hanya gantungan tas dengan inisial O.
Aku terus melangkah, bertemu beberapa guru dan menanyakan dimana kelas Oi.
Seorang guru mengantarku. saat sudah berada di dalam, Oi dan pak Musa sudah berada di sana. Memotong kue bersama dan anak-anak terus bernyanyi.
Aku melangkah mendekati Oi, kemudian membungkuk.
“Selamat Ulang Tahun Sayang" ucapku sambil menyerahkan bingkisan di tangan ku.
Oi tersenyum.
“Terimakasih kaka Meta" ucapnya saat mengambil kado di tanganku.
Aku langsung menangis. Aku terharu dengan acara ini. Namun jauh dari lubuk hatiku, aku sangat sedih hari ini perpisan antara aku dan Oi.
“Kenapa nangis?” itu yang di tanyakan pak Musa.
Sambil menghapus air mataku, ku katakan “Aku terharu pak"
“Kaka Meta kita makan baleng ya" ucap Oi. Dan aku langsung mengangguk.
Setelah selesai di PAUD, kami lansung menuju taman kota. Menikmati makan siang bersama Oi dan pak Musa, meskipun pada akhirnya pak Musa duduk di tempat lain.
Batinku selau mengatakan “Untuk terakhir kalinya"
“Sudah kenyang?” tanyaku, saat melihat Oi melepaskan sendok di tangannya.
__ADS_1
Tiba-tiba, saat itu pula, lengan ditarik, dan aku langsung berdiri.
Aku kaget, dan sedikit bingung Bima sudah ada di hadapanku.
“Ini? Alsan kamu buat sibuk?” tanya Bima dengan suara rendah.
“Aku...”
“APA? AKU HANYA BERSAMA ANAK INI? IYAH? SIAPA LAKI-LAKI ITU?” ujar Bima sambil berteriak.
“Aku minta maaf" dan saat itu pula, pak Musa datang dan memegang tangan Oi. Mungkin mereka akan pulang pikirku.
“Jadi dia? Karena di tampan dan berharta Meta?” tanya Bima seenaknya.
“Ini, untuk terakhir kalinya....” belum selesai juga, “Prakkkk” sebuah tamparan mendarat di pipiku.
“Terlalu. Kau terlalu beralasan” dan sekali lagi Bima menamparku.
“Beraninya kau sama wanita” aku langsung menoleh dan itu pak Musa.
sambil memengang pipiku. Mataku sudah semakin berkaca-kaca.
“Begini cara kalian berhubungan? Mengatas namakan anak itu sebagai alasan? IYAH? Ha...h?” Bima langsung mengangkat tangannya lagi dan hendak menampar ku lagi.
Langsung saja, tangan Bima mendarat di perut pak Musa.
Musa bukannya membalas, malah meminta maaf.
“KALIAN LICIK" teriak Bima.
“pak, Bapak pergi dari sini" teriak ku.
“Kau melindungi nya?Meta?” tanya Bima, sambil menggenggam lenganku. Kemudian mendorong tubuhku hingga terjatuh. Sakit. Dan ini benar-benar sakit.
“Aku ini calon suami mu. Meta. Kau milikku, dan semua yang berkaitan dengan dirimu wajib ku ketahui" katanya.
“Bim, aku ga suka kamu posesif”
“Dan dia? Laki-lai terbaik yang dikirim Tuhan?”
“Murahan" teriak Bima. Bahkan, aku sendiri tidak mengerti dengan Bima.
__ADS_1
“BIMA, KITA SELESAI SEKARANG”
“Jelas, sekarang kau mengakuinya kan? Kalian punya hubungan benar kan?”
tuduh Bima
“Aku hanya ingin"
“Bersama laki-laki tidak tahu diri ini? Dosen rendahan ini" Ucap Bima sambil menunjuk pak Musa. Bima sudah keterlaluan.
“TIDAK ADA HUBUNGAN DIANTARA KITA LAGI”
“LAMARAN, TIDAK ADA LAGI" ucapku sambil menangis.
“Benarkan? Sudah sejauh apa hubungan kalian?”
“Bima, setop. Hentikan ini"
“Perempuan murahan” teriak Bima, sambil meludah di hadapan ku.
Bima pergi berlalu di hadapan ku, tanpa sedikitpun menoleh.
Aku masih menangis, dan aku memang salah. Aku terlalu ikut campur soal Oi.
Dengan sudah payah, aku berdiri. Baju ku yang sudah kotor sudah tidak ku pedulikan.
“BIMA" teriakku sekencang mungkin.
“BIMA" teriakku lagi.
“BIMA....A....A" teriakku lagi.
Sudah terlalu banyak masalah yang timbul karena ulahku.
Aku kembali menangis, karena tidak mengindahkan perkataan pak Musa “Jangan ikut campur soal Oi lagi”
“Lap air matamu" kata pak Musa sambil menyerahkan sapu tangan bermotif biru, dan disana terukir inisial “F" aku menerima sapu tangan itu dan mengembalikan lagi.
“Terimakasih pak, Meta tidak bisa, dan Meta, Meta minta maaf" kataku. Aku tahu itu bukan miliknya. Mana mungkin aku menggunakan nya.
“Lupakan itu. Jauhi Oi, dan mulailah hidup yang baru"
__ADS_1
Ini salahku. Pada akhirnya, aku benar benar asing bagi semua orang.
“Terimakasih pak" kataku sambil menatap pak Musa. Untuk kali ini saja. Mungkin, besok aku akan pergi