
Malam itu begitu indah. Dan saat aku bangun tidur, badanku terasa segar. Saat aku berjalan, pesona kak Mila begitu bersinar. Sampai membuatku jatuh memeluknya.
......................
"Pagi kak." Ucapku sambil memeluknya dari belakang.
^^^"Pagi sayang, gimana tidurmu?" Tanya kak Mila.^^^
"Tidurku nyenyak, karena semalam aku bermimpi tentangmu." Ucapku.
^^^"Serius? Di mimpimu, aku jadi apa?" Tanya kak Mila.^^^
"Kalau tidak salah, kau itu jadi harta karunku." Ucapku.
^^^"Kok harta karun sih, memang apa yang menarik dari kakakmu yang menjadi harta karun?" Tanya kak Mila.^^^
"Justru harta karun itulah, yang membuatku tak pernah berpaling darimu, kakak cantik!" Ucapku.
^^^"Kamu ini jangan gitu ah! Kakak jadi malu tahu!" Ucap kak Mila sambil tersipu malu.^^^
......................
Kemudian kak Mila memintaku menyingkir sebentar, karena sedang menyiapkan sarapan. Setelah itu kami sarapan bersama.
Lalu kak Mila bersiap berangkat kerja, sebelum itu dia memintaku untuk jaga rumah, tapi aku sebenarnya tidak berniat untuk dirumah hari ini.
......................
^^^"Kakak, berangkat dulu ya sayang! Jaga rumah baik-baik!" Ucap kak Mila.^^^
"Kak, rumah ini tidak bisa bergerak, tidak ada yang perlu kujaga dirumah ini, selain senyum manismu itu kak." Ucapku.
^^^"Iiih..kamu ini ah! Jangan gitu dong pagi-pagi gini. Nggak enak didengar tetangga." Ucap kak Mila sambil tersipu malu.^^^
"Iya kak, maaf-maaf." Ucapku.
..."Uum'ah" Kecupan...
^^^"Udah, kakak berangkat dulu ya!" Ucap kak Mila setelah mengecup pipiku.^^^
"Iya kak, hati-hati dijalan." Ucapku sambil melambaikan tangan.
......................
Setelah kak Mila pergi, aku langsung masuk rumah untuk berganti baju. Karena hari ini aku sudah janji pada Aina, anak kecil yang kutolong kemarin.
Sesampainya disana, Aina duduk di tempat itu sambil bermain daun. Lalu aku mendekatinya dan menyapanya.
......................
"Maaf ya, membuatmu menunggu lama." Ucapku.
^^^"Tidak apa-apa, sekarang ayo ikut aku kak!" Ucap Aina sambil menggandeng tanganku.^^^
"Apa rumahmu jauh dari sini?" Tanyaku.
^^^"Tidak, tempatnya dekat." Ucap Aina.^^^
......................
__ADS_1
Kemudian aku sampai ke rumah Aina. Tempat tinggal kecil, ukurannya hanya seluas kamarku. Atapnya juga ada yang bolong. Ditambah tempatnya termasuk kumuh. Karena berada di pinggir sungai yang kotor.
Kemudian Aina membawaku masuk ke rumahnya sambil menarik tanganku. Lalu kakak keduanya keluar dari balik korden, dilanjutkan kakak pertamanya.
Namun tak kusangka, ternyata kakak pertamanya adalah wanita kemarin yang mencoba mencuri dompetku.
Dan aku dan dia sama-sama terkejut. Kami bertatapan selama beberapa detik. Karena gugup, dia tidak berbicara padaku dan cenderung memendam sebuah rahasia.
Mungkin dia tidak ingin tahu, kalau uang yang dia berikan untuk adik-adiknya adalah hasil curian.
......................
^^^"Kakak, kenapa kau diam saja? Apa kau tidak nyaman disini?" Tanya Aina.^^^
"Tidak-tidak bukan seperti itu, hanya saja aku agak sedikit gugup." Ucapku.
^^^"Perkenalkan, ini kakak keduaku, namanya Zifa, usianya 6 tahun lebih tua dariku." Ucap Aina.^^^
"Salam kenal kak." Ucap Zifa.
^^^"Dan ini kakak pertamaku yang kuceritakan kemarin, namanya kak Chisa, dia sudah berusia 20 tahun." Ucap Aina.^^^
"Salam kenal." Ucap Chisa sambil gemetar.
......................
Lalu Aina bertanya padaku, tentang alasanku mengunjungi mereka. Lalu kujawab pertanyaan itu.
......................
^^^"Kak, sebenarnya kenapa kau ingin mengunjungi kami?" Tanya Aina.^^^
"Sebenarnya ada hadiah yang ingin kuberikan pada kalian. Tapi sebelum itu sebaiknya kalian pergi dari rumah ini!" Ucapku.
"Aku tidak mengusir kalian. Hanya memindahkan kalian dari tempat yang akan hancur ini." Ucapku.
^^^"Pindah? Memangnya kau ini siapa ha? Apa jangan-jangan kau punya niat buruk pada kami ya?" Ucap Chisa sambil melindungi adik-adiknya.^^^
"Dengarkan aku dasar orang aneh, aku tidak mengusir kalian, melainkan aku punya tempat yang lebih bagus dari rumah ini. Dan tempat itu sama sekali tak pernah kupakai." Ucapku.
^^^"Lalu bagaimana jika yang kau katakan hanyalah dusta belaka?" Tanya Chisa, sang kakak pertama.^^^
"Kalau aku dusta, kau boleh menyerangku dan merampas seluruh benda yang kubawa hari ini." Ucapku.
......................
Lalu mereka percaya dengan apa yang kubicarakan. Setelah itu, aku mengajaknya ke sebuah rumah tanpa pemilik. Sebenarnya rumah ini dulu ditinggali oleh monster hutan saat aku berlatih dulu. Sekarang monster itu sudah tidak ada lagi, karena sudah kujadikan samsak panas.
Saat kami sampai disana, mereka terkejut dengan rumah yang kutunjukan. Dan adiknya Zifa juga ikut terkejut sampai dia berterima kasih dengan memelukku. Bahkan air matanya berjatuhan.
......................
"Ini rumahnya, mungkin agak berdebu karena tidak kupakai sama sekali." Ucapku.
^^^"Ini rumahmu?" Tanya Chisa, sang kakak pertama.^^^
"Iya ini rumahku. Sekarang kuberikan pada kalian." Ucapku.
^^^"Serius! Apa jangan-jangan rumah ini ada apa-apanya ya?" Tanya Chisa yang masih mencurigaiku.^^^
__ADS_1
"Tidak ada apa-apanya, selain debu, pasir, dan tikus liar di dalamnya." Ucapku.
......................
Lalu si adik kedua memelukku begitu erat.
......................
^^^"Terima kasih, terima kasih, terima kasih. Hiks..hiks.. terima kasih telah memberikan kami rumah ini. Hiks..hiks.. Kami tidak tahu harus membalasnya dengan apa?" Ucap Zifa, si adik kedua sambil menangis.^^^
"Aku hanya ingin 2 permintaan saja!" Ucapku.
^^^"A..apa itu? Hiks..hiks." Tanya Zifa sambil menangis.^^^
"Yang pertama, jika ada yang menanyakan kepemilikan rumah ini, bilang saja kalian pemiliknya. Dan tidak akan ada yang berani mencari masalah pada kalian selama aku masih hidup." Ucapku.
^^^"Lalu yang kedua?" Tanya Aina.^^^
"Yang kedua ialah, hiduplah dengan tenang, kau tak perlu bekerja lagi. Kalian harus sekolah! Dan jadilah orang yang sukses." Ucapku.
^^^"Itu saja?" Tanya Aina.^^^
^^^"Tapi kami tidak punya uang untuk melanjutkan sekolah." Ucap Zifa.^^^
......................
Kemudian kulempar tasku pada mereka. Setelah itu mereka membuka tasnya dan terkejut. Karena isinya lemabaran-lembaran uang yang bertumpuk di dalamnya.
Sebenarnya uang itu adalah uang yang ada di dalam lab ibu dan ayah. Aku hanya mengambil sedikit saja, jadi tidak masalah menurutku.
......................
^^^"Terima kasih kakak." Ucap Aina dan Zifa secara bersamaan.^^^
"Iya-iya udah cukup. Sekarang kalian masuk ke rumah dan bersihkan saja." Ucapku.
......................
Lalu setelah Zifa dan Aina masuk kerumah. Tiba-tiba saja, Chisa memelukku begitu erat, tangisannya membuatku jadi ikut menangis.
......................
^^^"Terima kasih..terima kasih.. Hiks..hiks.. Aku takkan melupakan kebaikanmu ini. Kalau perlu, aku akan persembahkan sisa hidupku padamu!" Ucap Chisa sambil menangis.^^^
"Sudah cukup, nanti adik-adikmu melihatmu menangis." Ucapku sambil melepaskan pelukannya.
^^^"Hiks..hiks..hiks." Rintihan Chisa mulai mengecil.^^^
"Kau tak perlu mempersembahkan hidupmu padaku. Yang penting mulai sekarang kau bisa hidup lebih baik. Oh ya, ada kafe yang membutuhkan karyawan, kalau kau mau tinggal masuk saja. Dan pakai saja namaku untuk membuat mereka diam." Ucapku sambil memberikan selembaran
^^^"Kau sudah memberikan rumah, sekarang kau memberiku pekerjaan! Kumohon cukup, aku tak bisa berhutang lebih banyak lagi padamu." Ucap Chisa.^^^
"Ini bukan hutang, hanya kebetulan aku menemukan kalian, dan prihatin pada kalian. Selain itu, wanita secantik dirimu, tidak boleh mencuri lagi." Ucapku.
^^^"Ka..ka..kalau itu maumu, aku tidak akan melawan." Ucapnya sambil tersipu malu.^^^
"Kalau begitu aku akan pergi dulu, banyak hal yang harus kubereskan." Ucapku.
......................
__ADS_1
Kemudian aku meninggalkan mereka. Sekilas bagi mereka aku ini seperti malaikat yang memberi kebahagiaan dan kebebasan.
Kuharap mereka bisa melihat ini jika masih hidup dan berada disampingku.