
Setelah mengantarkan kak Aira, aku kembali ke kelas. Singkat cerita kelas sudah selesai, dan bu Siska sudah memberi kode padaku untuk segera ke parkiran untuk menunggunya sebentar.
Kemudian saat aku menunggu di parkiran, aku melihat Tina berjalan seperti biasanya. Aku bersyukur, karena pengaruh bonekanya sudah menghilang.
Tak lama kemudian bu Siska datang dengan penampilan yang berbeda. Wajahnya yang natural membuat semua pandangan terikat padanya. Dan aku juga tidak bisa melepaskan pandanganku darinya.
......................
^^^"Ris, kok kamu ngeliat aku terus? Apa ada yang aneh dengan penampilanku?" Tanya bu Siska.^^^
"Ti..tidak ada. Hanya saja penampilan dan wajah cantikmu memikat semua orang." Ucapku.
^^^"He.. Jadi kamu juga terpikat dengan penampilanku ini?" Goda bu Siska.^^^
"Tidak sama sekali." Ucapku sambil memalingkan wajah ke samping.
^^^"Kalau bilang tidak, kamu lihat aku dong! Agar aku tahu, apa yang yang kau katakan ini bukanlah hal dusta belaka." Ucap bu Siska sambil memegang wajahku.^^^
"Baiklah, kuakui kau begitu cantik dengan penampilan barumu ini. Sekarang kau puas? Bu Siska cantik!" Ucapku.
^^^"Iya aku puas sayang! Makasih udah memujiku." Ucap bu Siska.^^^
......................
Seisi kampus yang melihat kemesraanku dengan bu Siska jadi heboh. Suasananya jadi tambah berisik, dan ini membuatku muak. Tanpa pikir lama, aku langsung menggandeng bu Siska dan segera masuk ke mobil.
Lalu saat perjalanan, bu Siska terus memandangiku dengan wajah cantiknya. Ini membuatku jadi tidak nyaman saat menyetir. Kemudian tangan bu Siska memegang tanganku dengan lembut dan dia mengatakan sesuatu yang seharusnya tak boleh kudengar.
......................
^^^"Ris, apa kau takut akan kematian?" Tanya bu Siska.^^^
"Tidak, kematian adalah hal yang wajar bagi makhluk hidup. Dan itu juga bukanlah hal yang harus ditakuti." Ucapku.
^^^"Lalu, apa kau tahu rasanya jika kehilangan seseorang yang kau sayangi? Pergi dan tak pernah kembali." Tanya bu Siska.^^^
"Bu, apa yang ingin kau katakan sebenarnya? Berhentilah membuat perumpaan! Langsung saja ke intinya!" Ucapku.
^^^"Sebenarnya aku ini punya tumor di jantungku, dokter bilang kalau hidupku tidak akan lama lagi. Aku takut Ris! Hiks..hiks.. Aku takut dengan kematian! Aku takut tak bisa melihatmu lagi!" Ucapnya sambil menangis.^^^
Lalu ku berhentikan mobilnya di pinggir jalan.
"Bu, kenapa kau punya rahasia sebesar ini? Apa adikmu tahu tentang ini?" Tanyaku.
^^^"Hiks..hiks..ti..tidak. Aku tidak ingin membuatnya khawatir. Hiks..hiks." Ucap bu Siska.^^^
__ADS_1
"Jika kau tetap diam seperti ini, adikmu juga akan menangis setelah kematianmu nanti Dan juga aku minta maaf." Ucapku.
^^^"Hiks..hiks..hiks.. Kenapa kau meminta maaf? Kenapa?" Tanya bu Siska sambil menatapku.^^^
"Seharusnya aku tidak bertemu denganmu jika akhirnya akan menyakiti hatimu seperti ini. Dan seharusnya aku tidak hadir dalam kehidupanmu jika membuatmu tak ingin kehilangan." Ucapku sambil menunudukan kepalaku.
"Apa maksudmu? Ha! Kau menyesal bertemu denganku? Setelah aku berbicara tentang penyakitku ini. Kau memang hewan! Sekarang, keluar dari mobilku! Dan jangan pernah berbicara padaku lagi." Ucapnya dengan nada keras.
......................
Setelah aku turun dari mobilnya, aku berpikir bahwa yang kukatakan tadi terlalu kejam. Tapi ini demi kebaikannya di masa depan nanti. Dan untuk tumornya, aku bisa menariknya keluar menggunakan kemampuan ratu dunia bawah.
Tapi masalahnya, aku harus menemukan waktu yang tepat. Karena prosesnya akan memakan waktu selama satu jam penuh. Ditambah, tidak ada yang boleh tahu tentang kemampuanku ini.
Lalu aku mondar-mandir dipinggir jalan seperti orang kebingungan. Karena memikirkan cara untuk mendapatkan kesempatan untuk menyembuhkannya. Dan kurasa tidak ada pilihan lain, selain menyelinap ke rumahnya di tengah malam nanti, dan memaksanya untuk tidur dengan mati rasa.
Kemudian aku pulang ke rumah dengan kemampuan portal dari sang peniru yang kuhabisi dulu. Setelah itu aku memakai pakaian serba hitam dan tak lupa topeng untuk penutup identitas.
Lalu pada tengah malamnya, aku menyelinap ke rumah bu Siska seperti pencuri. Setelah itu aku masuk ke kamarnya dan menyiapkan sebuah alat bius.
Namun saat aku mulai mendekatinnya, bu Siska langsung terbangun. Lalu dia menghidupkan lampu dan melihatku sebagai penjahat.
......................
"......" Aku terdiam tak bisa menjawab.
......................
Tanpa ragu, di mengayunkan pedangnya dengan begitu lincah. Aku kesulitan menghindarinya tanpa mengaktifkan kemampuanku. Lalu dengan sedikit celah, aku langsung menancapkan alat biusnya. Dan disaat yang bersamaan, topengku juga ditarik oleh bu Siska.
"Risan?" Ucapnya sebelum kehilangan kesadarannya.
Aku ingin mengubah ingatannya, tapi kurasa tidak perlu. Karena saat bangun nanti, mungkin akan dianggap sebagai mimpi olehnya nanti.
Tanpa berbasa-basi, aku langsung memulai prosesnya. Karena tumornya terletak di jantung, aku harus berhati-hati, salah sedikit pasti akan membuatnya terbunuh.
Satu jam berlalu dengan lambat, kesadaran dan kekuatanku juga ikut menipis. Dan akhirnya, tumor yang tertanam di jantung bu Siska telah tidak ada. Dengan begini, bu Siska dapat menikmati hidupnya dengan normal, tanpa diriku di dalam kenangannya nanti.
Setelah itu aku pulang dengan tubuhku yang sangat lemas, seluruh tenagaku benar-benar terkuras habis. Tapi aku juga lega dapat menyelamatkan nyawa seseorang.
Tak lama kemudian, aku tertidur pulas dengan posisi tidur yang berantakan.
...------------------------...
Pada keesokan harinya, tubuhku masih begitu lemas. Dan jujur saja aku tak ingin bangun dari tempat tidur. Tapi nanti kak Mila akan curiga kalau aku sedang sakit, dan pastinya dia akan meminta dokter untuk memeriksaku. Lalu dari situlah diagnosa dokter akan hancur, karena yang diperiksanya adalah monster penghancur.
__ADS_1
Dan tak lama kemudian, kak Mila masuk ke kamarku untuk membangunkanku.
......................
^^^"Ris, bangun! Ayo cepat sarapan!" Ucap kak Mila.^^^
"Iya kak, aku mengerti." Ucapku.
Lalu kak Mila melihat wajahku yang pucat.
^^^"Ris, kamu sakit ya? Wajahmu kok pucat gitu!" Tanya kak Mila.^^^
"Aku nggak sakit kok kak! Hanya kurang tidur saja karena kebanyakan belajar." Ucapku dengan jawaban palsu.
^^^"Serius? Kamu yakin cuma kurang tidur?" Tanya kak Mila lagi.^^^
"Iya kak, aku serius!" Ucapku.
^^^"Kalau nanti kondisimu memburuk, nanti telpon kakak ya!" Ucap kak Mila.^^^
"Iya kak." Ucapku.
......................
Setelah itu aku berangkat ke kampus diantar oleh mobil kak Mila. Dan sesampainya di gerbang kampus, aku sudah tak melihat sosok bu Siska yang biasanya menungguku. Setelah itu aku masuk ke kelas dengan kondisiku yang lemas ini.
Tak lama kemudian bu Siska masuk dan langsung memulai kelas. Dan kali ini, dia tidak memandangiku lagi seperti biasanya. Sekarang dia sudah benar-benar jadi dosen dipandanganku.
Singkat cerita, kelas telah selesai. Aku langsung membereskan barangku dan berniat untuk pulang. Tiba-tiba saja, kepalaku pusing, dan hampir saja aku jatuh.
Lalu Tina mendekatiku dan memastikan keadaanku.
......................
^^^"Ris, apa kau sedang sakit?" Tanya Tina sambil mengecek suhu tubuhku dengan tangannya di dahiku.^^^
"Aku tidak apa-apa, hanya kurang tidur saja." Ucapku dengan jawaban palsu.
^^^"Kamu yakin cuma kurang tidur? Suhu tubuhmu ini termasuk panas. Apa perlu kuantar kau ke rumah sakit?" Ucap Tina.^^^
"Tidak perlu, aku akan langsung tidur di rumah saja." Ucapku sambil berjalan keluar.
......................
Dari belakang, Tina terus memandangiku karena khawatir akan kondisiku yang begitu buruk hari ini.
__ADS_1